Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#29


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Zahwa sudah kembali ke Indonesia, ia memberitahu kepulangannya kepada Ibrahim. Mendapat kabar Zahwa sudah pulang, ia menghubungi Abi Ismail. Merekapun langsung menuju ke Banten untuk melamar Zahwa. Umi Aisyah tidak bisa ikut, karena Umi Aisyah sedang tidak enak badan. Umi Aisyah hanya bisa menyiapkan bingkisan untuk calon mertua Ibrahim dan calon menantunya.


Tibalah mereka di pesantren milik Pak Haji Jafar, Abi malah terpanah dengan sekitar pesantren yang masih asri dan udaranya sangat sejuk. Ia malah memperlebar pesantren dan melupakan tujuan.


"Hadeh, Abi malah sibuk sendiri gimana dengan nasib lamaran ku Zahwa." Gumam kesal Ibrahim.


Ibrahim menghubungi Zahwa.


"Assalamualaikum bidadari surga ku, maaf ya tingkah Abi. Malah tergila-gila dengan suasana pesantren." Ibrahim merapihkan rambutnya.


"Tidak apa-apa, Kak." Kata Zahwa.


Mereka berbincang-bincang hingga menjelang Magrib, Ibrahim dan Abi Ismail menginap di salah satu kamar santri.


"Sudah mau Magrib, kita siap-siap ke Masjid." Ucap Ibrahim.


"Iya, Kak."


Sudah hampir 2 bulan, Ibrahim dan Abi Ismail berada di pesantren. Pembangunan pesantren sudah hampir selesai.


Ibrahim tidak sengaja mendengar ada dua santri membicarakan Zahwa.


"Sa, kamu sudah dengar belum Kak Hawa mau menikah sama Ustad Zaki. Mereka sudah di jodohkan sejak kecil, aku jadi patah hati Ustad Zaki akan menikah dengan Kak Hawa." Kata Santi sedih.


"Kok kamu tau, mang kapan mereka menikah?." Nisa penasaran.


"Bulan depan, setelah pembangunan pesantren selesai."


Mendengar itu Ibrahim ingin rasanya marah, karena Zahwa tidak memberitahukan padanya. Sedih pujaan hatinya akan menikah dengan orang lain, lalu ia bergegas masuk ke kamar dan membereskan pakaian.


Ketika ia ingin pergi sedang berpapasan dengan Zahwa, Ibrahim ingin rasanya minta penjelasan. Tapi ia sudah terlanjur sakit, ia pun pergi meninggalkan Zahwa.


Zahwa menegur Ibrahim, tapi Ibrahim tidak memperdulikan dirinya. Zahwa bingung dengan sikap Ibrahim yang cuek, lalu ia menchat Ibrahim. Tapi Ibrahim tidak meresponnya.


"Kak, Ibrahim kenapa dan mau kemana ia membawa barangnya?Apa terjadi sesuatu?Kenapa Chat aku tidak di balas?." Begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya.


Sejak kejadian itu Ibrahim tidak ada kabar dan chat atau telepon tidak pernah di balas atau diangkat.


"Kak, kamu kenapa?." Kata Zahwa menchat Ibrahim, tapi tetap tidak di balas.


Flash Back Off


"Mungkin seminggu lagi kamu akan menjadi milik orang, aku tidak sanggup kau duduk di pelaminan dengan pria lain. Aku hanya bisa mendoakan, semoga kamu bahagia." Kata Ibrahim yang masih menatap langit-langit.


Azzam langsung masuk ke kamar Ibrahim.

__ADS_1


"Woi, Baim. Udah siang segera sarapan, Abang mau ke rumah Azzura." Teriak Azzam.


"Ck, tidak bisa kau tidak teriak-teriak. Bang, kuping tidak sakit dengar suara cempreng mu. Seperti emak-emak yang mau lahiran." Kesal Ibrahim.


"Ish! Kau mengatai, Abang. Hm." Azzam melilit Ibrahim, lalu mengelitiki.


"Hahaha... Ampun, Bang." Ibrahim kegelian.


"Ya udah kamu mandi, lalu sarapan. Jangan mikirin anak gadis orang lain terus, yang ada kau cepat beruban rambutnya."


"Ck, Abang. Bukan menghibur ku, malah menghina ku."


"Kamu itu laki-laki baru begitu sudah meloy, cemen. Kalau kamu masih mencintai kejar dia, kan masih ada waktu. Sebelum kata Sah terucap dari lelaki itu."


Perkataan Azzam ada benarnya, lalu Ibrahim memeluk Azzam.


"Abang benar, terimakasih ya bang." Ibrahim masuk ke kamar mandi. Azzam melihat tingkah laku adik laki-lakinya hanya menggelengkan kepala.


"Baim, kata Umi kita sarapan di rumah Azzura." Teriak Azzam, ia baru mendapatkan pesan dari Umi Aisyah.


"Siap, Bang. Abang duluan aja." Teriak Ibrahim juga.


Azzam keluar kamar Ibrahim, lalu berjalan menuju rumah Azzura.


"Assalamualaikum." Azzam memberi salam.


"Papa." Alex semangat, lalu berlari menghampiri Azzam dan memeluk Azzam


"Anak ganteng papa, kamu sudah mandi?." Azzam berjongkok.


"Sudah, papa. Aku mandi sendiri." Kata Alex senang.


"Wah! jagoan papa hebat sudah bisa mandi sendiri." Azzam menggendong Alex, lalu menghampiri Umi Aisyah, Abi Ismail dan Azzura di meja makan.


"Ck, mandi sendiri gimana. Abba yang menyabuni tubuh kamu." Abi Ismail memayuni bibirnya.


"Ish!, kan itu Abba sendiri yang ingin membantu ku. Padahal aku bisa sendiri." Sewot Alex.


"Sudah-sudah, Zam. Adik mu mana?." Umi Aisyah menengahkan.


"Lagi mandi, Mi. Biasa dia tadi melamun terus." Kata Azzam yang memangku Alex.


"Abi, kamu tidak menceritakan sebenarnya kepada Ibrahim?." Umi Aisyah menoleh ke arah Abi Ismail.


"Biarin aja dulu, lagian siapa suruh salah paham." Abi Ismail cuek.


"Ck, Abi juga salah paham." Azzam berdecih.

__ADS_1


"Ya, itu karena adik mu itu. Abi jadi ikut-ikutan." Abi Ismail tetap tidak mau di salahkan.


Tibalah Ibrahim, ia sudah rapi dan membawa ransel.


"Assalamualaikum, all." Ibrahim mengucapkan salam dengan lantang.


"Tuh! orangnya baru nongol." Kata Abi Ismail.


"Kamu mau kemana bawa ransel, Nak." Tanya Umi Aisyah.


"Aku mau melamar bidadari surgaku, aku mohon kali ini kalian harus semua ikut mendampingi ku. Apapun alasannya." Jawab Ibrahim penuh yakin.


Semua orang yang berada di meja terbengong, apa yang di katakan Ibrahim membuat mereka terbengong.


"Ck, kalian semua kompak seperti patung pancoran. Cepatan aku tidak ingin berlama-lama, takut Zahwa sah menjadi istri orang." Ibrahim menggebrak meja.


"Songong kamu sama kami yang lebih tua." Abi Ismail menjewer telinga Ibrahim.


Azzura melihat tingkah berbeda dari keluarga Azzam, ia tersenyum senang. Di luaran mereka sangat berwibawa, tapi kalau sudah berkumpul mereka sangat lebay. Tapi saling sayang dan melindungi, itu membuat Azzura sangat senang berada di tengah-tengah keluarga Azzam.


"Ra, kamu kenapa senyum-senyum gitu?Lagi mikirin Mas ya?." Bisik Azzam.


"Ish! Engga kok, aku sangat berterimakasih kalian semua sudah mau menerima aku di keluarga ini. Kalian begitu hangat, aku jadi merasa mempunyai keluarga yang utuh. Belum pernah aku rasakan sebelumnya, tidak seperti keluarga Saka." Azzura pipinya merona, karena Azzam membisikkan tepat di telinganya. Walau tertutup Hijab.


"Tenang aja, kamu akan tetap ada di berada di keluarga ini. Setelah masa Iddah mu selesai, aku akan mempersunting kamu. Ra, dari awal kita bertemu. Aku sudah jatuh cinta sama kamu, maaf kalau terlalu cepat aku mengatakannya. Tapi aku tidak bisa menahannya, kamu bisa menjawab tidak sekarang. Aku beri sampai masa Iddah mu selesai, ku harap jawaban sesuai kemauan ku. Aku tidak akan menjanjikan sesuatu apa-apa sama kamu, tapi aku hanya ingin membuat mu bahagia dan tidak akan memberikan satu tetes air mata yang mengalir di pipi mu." Azzam menatap Azzura.


"Iya, Mas. Jujur ini membuat aku terkejut, dan terimakasih kamu sudah memberi ku waktu. Insya Allah akan akan memberikan sesuatu yang akan semua oranglain bahagia." Azzura menunduk malu, ia tidak berani menatap Azzam.


"Ck, kalian malah punya dunia sendiri." Kata Abi Ismail.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Like, Vote dan komentarnya ya...

__ADS_1


See you... 😘😘😘😘😘


__ADS_2