
Qilla melupakan kejahatan Sonya, ia merasa kasihan kepada Sonya. Sonya tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Qilla. Pamannya Sonya malah kabur entah kemana, Qilla menutup sakit hatinya kepada Sonya. Qilla wanita yang begitu baik, bisa melupakan kesalahan orang. Pada orang itu sudah jahat kepadanya.
"Saya ingin perceraian Sonya dan Saka cepat di urus, kalau bisa secepatnya dan jangan berikan sepersen pun harta Gono gini ke Saka. Karena harta yang di pakai selama menikah merupakan miliki ku. Sonya hanya meminjamnya. Anda bisa kan pengacara Darel." Qilla menatap tajam Pengacara Darel.
"Bisa dong, apalagi yang minta wanita cantik seperti mu itu. Udahlah kamu jangan kaku begitu kita kan teman, kemarin kan yang membuat Saka dan Azzura bercerai. Aku yang ngurus, jadi kamu percayakan semua pada ku, sebagai imbalannya. Kalau ini berhasil aku ingin kita dinner?." Pengacara Darel menatap Qilla dengan teduh dan memegang tangan Qilla.
"Apa loe tidak cape mengejar gue terus, gue selalu menolak loe." Qilla menarik tangannya dari genggaman pengacara Darel.
"Tidak akan pernah cape, aku akan terus mengejar cinta mu. Hingga kamu menerima cinta ku, Qilla. Aku akan menunggunya, aku yakin suatu saat nanti kita akan bersama." Pengacara Darel selalu mengejar cintanya Qilla, dia mencintai Qilla dari mereka duduk di sekolah dasar. Awalnya itu cinta monyet, tapi semakin mereka bertumbuh dewasa. Rasa cinta Pengacara Darel, semakin bertambah malah tidak bisa melupakan. Walau waktu itu ia mencoba berpacaran dengan wanita selain Qilla, tapi hatinya merasa hampa. Pengacara Darel ingin Qilla menjadi pendamping hidupnya.
"Terserah loe, yang penting saat ini selesaikan pekerjaan loe. Kalau loe berhasil gue akan pertimbangkan cinta loe." Qilla mengedipkan matanya, lalu pergi.
__ADS_1
"Ya Allah, jantung ku seakan mau lompat." Pengacara Darel memegang dadanya, jantungnya berdetak dengan kencang.
Qilla malah tertawa, ia sangat senang menjahili pengacara Darel.
"Begitu saja udah lemas, Hahahaha... Dasar bucin." Gumam Qilla.
"Dari dulu dia tidak pernah menyerah, apa gue harus mempertimbangkannya. Kasihan juga lama-lama." Qilla termenung.
Qilla tidak mau menjalin kasih dengan lawan jenis, karena ia ingin fokus pekerjaan dan ia juga memiliki trauma. Ia melihat kedua orangtuanya suka bertengkar, kadang sampai pisah rumah. Begitu juga ia melihat banyak teman-temannya di sakit para laki-laki, jadi dia bertekad tidak mau memiliki hubungan siapa pun. Kecuali teman, sahabat dan Saudara. Kalau menjadi kekasih atau suami, ia tidak mau.
Qilla sudah tiba lagi di Mansion Sonya.
__ADS_1
"Semua sudah beres tinggal menunggu info dari Darel." Qilla duduk di samping Sonya.
"Bagus, semakin cepat semakin bagus. Btw, loe kapan nih menerima cintanya sih pengacara ganteng. Cuma dia yang susah gue dekati, cintanya sudah mentok sama loe. Terima aja apa, kasihan tau dia sudah lama mengejar loe. Dia itu ngga seperti laki-laki yang lain kok, dia laki-laki baik, soleh, pekerja keras dan tampan lagi. Loe jangan sampai menyesal, kalau dia sudah menyerah dan loe akan rugi menyia-nyia cintanya. Loe harus menerima cintanya, gue tau loe juga suka sama dia. Tapi loe berusaha menyangkalnya." Sonya menepuk pundak Qilla.
"Gue kagak tau, pusing gue hari ini." Qilla menyenderkan kepalanya di Sofa.
.
.
.
__ADS_1
.
.