
Semenjak Saka mengetahui kalau dirinya memiliki penyakit yang sangat berbahaya, menjadi ia tidak memiliki semangat hidup dan ia sering melamun.
"Ya Allah, Nak. Kamu harus semangat lawan penyakit mu itu, Mami sangat yakin kamu pasti akan sembuh."
"Aku ingin menemui Azzura, Mi." Saka menatap senduh Mami Sella.
Mami Sella menunduk dan ia tidak menjawab perkataan Saka.
"Mi, aku mohon bantu aku sekali ini aja. Sebelum ajal menjemput." Saka memegang tangan Mami Sella dan memohon kepada Mami Sella, agar mengizinkan permintaannya.
"Kamu jangan bicara seperti itu, Nak." Mami Sella memegang pipi Saka dan meneteskan air matanya.
"Maka Mami bantu aku, tolong pertemukan aku dengan Azzura."
"Huh, baiklah. Tapi janji ngga akan berbuat macam-macam."
"Aku ngga berbuat macam-macam, Mi..."
"Tapi aku ingin memanfaatkan penyakit ku ini agar Azzura kembali. Aku yakin Azzura masih cinta sama aku." Kata Saka dalam hati.
"Kamu istirahat dulu, besok kita baru menemui Azzura. Kebetulan Azzura berada di Jakarta."
"Iya, Mi."
Saka menuruti perkataan Mami Sella.
"Akhirnya aku bisa menemui Azzura, kurang ajar banget itu cowok. Sudah merebut Azzura dari ku, aku yakin pasti dia yang membuat aku dan Azzura bercerai. Aku ngga bisa diam saja, aku harus balas dia." Kata Saka dalam hati, ia mengepalkan tangannya.
Mami Sella tidak mengetahui rencana Saka, setelah merebahkan Saka di tempat tidur. Mami Sella keluar kamar.
Mami Sella melihat wanita cantik berhijab syar'i.
"Bukankah itu Siti Hawa, aku harus memastikan." Mami Sella mengikuti wanita berhijab syar'i.
"Umi." Ibrahim mencium tangan Umi Siti dengan takzim.
"Assalamualaikum, ganteng." Umi Siti mengelus rambut Ibrahim.
__ADS_1
Mami Sella merebahkan tubuhnya di sofa.
"Walau Azzam memiliki semuanya, tapi ia ngga bisa menandingi ku. Azzura itu sangat mencintai ku, rasanya aku sudah ngga sabaran ingin segera bertemu Azzura." Kata Saka dalam hati, ia sangat percaya diri. Kalau dirinya itu laki-laki yang masih di cintai Azzura.
Disisi Lain.
Azzura sedang mengambil gelas tiba-tiba gelas pecah.
Prang...
"Ya Allah, kenapa ini kok tiba-tiba perasaan ku tidak enak?." Azzura berjongkok dan ingin membersihkan pecahan gelas, tapi Bibi Tukiyem mencegahnya. Bibi Tukiyem sudah tidak bekerja di rumah dulu milik Saka dan Azzura, ia tidak mau berurusan dengan Saka dan Sonya.
"Neng, jangan. Biar bibi aja yang bereskan." Cegah Bibi Tukiyem.
"Iya, Bi." Azzura bangkit dari jongkok.
"Bi, perasaan aku kenapa tidak enak seperti ini ya." Azzura masih memegang dadanya.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan, Neng. Kita serahkan semua kepada Allah." Bibi Tukiyem berusaha menenangkan Azzura.
"Iya, Bi. Ya usah aku mau ke atas, nanti bibi tolong bawakan susu dan air putih ya ke kamar. Aku mau menghampiri Azzam di ruang kerja, kebiasaan dia kalau tidak di ingatkan. Nanti malah sampai pagi."
Azzura ke atas menghampiri Azzam di ruang kerja.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum, Mas." Azzura menyembulkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam... Hahahaha.... Sini sayang, masuk jangan nongol seperti itu." Azzam tertawa melihat Istrinya.
"Ih! Mas kok malah ketawain aku." Azzura berjalan dan cemberut.
"Abis kamu itu selalu bikin Mas tertawa, kamu itu sumber kebahagiaan aku." Azzam menghampiri Azzura, lalu memeluk Azzura.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu." Azzura tersenyum.
"Alhamdulillah, dia tidak marah. Untung aku selalu punya alibi yang pas, Azzura sekarang agak sensitif jadi aku harus extra menjaga lisan maupun tindakan yang akan membuat Azzura tersinggung." Kata Azzam dalam hati.
Semenjak Azzura hamil, ia gampang sekali tersinggung. Ia sangat sensitif sekali, jadi Azzam harus extra menjaga perasaan Azzura. Tapi Azzam sangat senang, karena kadang tingkahnya Azzura membuat Azzam tertawa.
"Oia, kamu ada apa datang kesini." Azzam mengelus rambut Azzura.
"Jadi aku tidak boleh kesini, ya udah aku pergi aja." Azzura bangun dari duduk dan cemberut, ketika ia mau pergi. Azzam sudah memegang tangan Azzura.
"Bukan begitu maksud aku..." Azzam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau itu bukan maksud kamu, jadi apa." Azzura menatap tajam Azzam.
"Sial, kejebak dengan ucapan sendiri." Kata Azzam dalam hati.
"Udah malam, yuk kita tidur." Azzam menggendong Azzura dengan gaya bridal Style.
"Aarrgghhh, mas. Malu."
"Ngapain malu, maaf ya tadi aku sudah membuat kamu tersinggung." Azzam mengecup kening Azzura.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, cuma aku yang agak sensitif."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan Komentarnya...
See you... 😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗