
Qilla mendapatkan info dari anak buahnya, kalau Saka bermain wanita di club malam. Karena dijebak oleh temannya sendiri.
"Hahahaha... Rasakan loe, teman sendiri yang telah menjebak loe. Gue akan berikan bukti ini kepada Sonya, agar hati dan pikirannya terbuka. Kalau pria yang selama ini, dia pungut itu ternyata seorang pecundang yang tak tau diri. Gue akan menantikan saat-saat Saka ditendang dalam kehidupan Sonya." Qilla tertawa, ia sangat senang melihat Saka akan sengsara.
"Makanya loe jangan berurusan sama gue maupun Sonya, ya walau awalnya Sonya itu bodoh. Buta akan cintanya terhadap sih pria benalu itu, tapi ia akan menyadarinya dan dia tidak akan diam. Kalau di perlakukan seperti ini, dia akan membuat Saka menderita dulu. Baru ia akan membuang Saka begitu saja, Hahahaha..."
Saka terpaksa ke Mansion kedua orangtuanya, karena ia tidak tau harus kemana lagi. Ia tidak mau kembali ke rumah ia dan Azzura dulu, karena ia akan tinggal sendiri. Bibi Tukiyem tidak ada di rumah, satpam ada. Tapi Satpam menjaga rumah, Saka itu penakut apalagi tinggal sendiri di rumah yah lumayan besar.
Tiba di Mansion utama, Saka turun dari mobil. Ia melihat Papi Revan dan Mami Sella sedang menonton Televisi di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Mi, Pi." Ucap Salam Saka, ia mencium tangan Mami Sella dan Papi Revan dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam." Serentak.
"Kamu dari mana?." Ketus Papi Revan, ia melihat di leher Saka ada tanda merah keunguan, tidak hanya satu tapi banyak. Seperti orang terkena penyakit.
"Ah! itu, Pi." Saka menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ck, kau kalau abis bermain dengan istri mu itu. Di tutup bikin malu aja." Papi Revan duduk kembali ke sofa.
Alex turun dari tangga hendak menghampiri Papi Revan dan Mami Sella.
__ADS_1
"Oma, Op... Pa." Alex yang tadinya semangat, tiba-tiba menjadi mellow. Lalu Alex langsung memeluk Papi Revan dan menyembunyikan wajahnya di leher Papi Revan, ia memegang erat dan tubuh Alex gemetaran.
Saka tidak kalahnya syok, anak yang sudah lama menghilang. Tiba-tiba muncul di hadapannya, lalu Saka menghampiri Alex. Ia ingin memastikan yang di hadapannya itu Alex anaknya.
"I-ini Alex." Saka gugup.
"Opa, Alex takut. Antar Alex ke kamar." Lirih Alex, ia Benar-benar ketakutan.
"Jadi ini Alex." Tanya Saka sekali lagi, Papi Revan bukannya menjawab pertanyaan Saka. Ia bergegas ke atas ke kamar Alex, di dalam gendongan Papi Revan Alex sama sekali tidak menoleh Saka. Alex enggan menoleh Saka.
"Mi, itu Alex kan?." Saka memegang bahu Mami Sella.
"Hufh, itu benar Alex anak kamu." Mami Sella menghela napas.
"Jangan, Mami tidak mengizinkan kamu menemui Alex."
"Lah! emang kenapa, Mi?Alex kan anak aku."
"Alex memang anak kandung kamu, tapi gara-gara ulah kalian berdua Alex mengalami trauma berat. Bila berhadapan kamu dan istri mu itu."
"Loh! trauma bagaimana, Mi?kami ngga melakukan apa-apa."
__ADS_1
"Jangan tanya sama Mami, kamu dan istri mu lah yang membuat Alex seperti itu. Jadi kamu jangan mendekati Alex, jika kamu memang sayang sama anak mu."
"Kok! Saka harus tanya sama diri Saka sendiri dan Sonya, Mi. Sedangkan Kami ini ngga melakukan apa-apa."
"Tau lah itu urusan mu, pikir aja jawabannya. Lagian ya Alex tidak mungkin bersifat seperti itu, kalau jiwanya terganggu akibat ulah kalian. Sudahlah Mami mau melihat Alex, ingat pesan Mami kamu jangan dekati Alex. Kalau memang dia mau sembuh."
"OMG, kenapa jadi seperti ini. Aku ngga pernah melakukan kekerasan atau apa kepada Alex."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.