
Saka sedang di tangani dokter, Papi Revan dan Mami Sella menunggu di depan ruangan UGD. Mereka sangat khawatir.
"Pi, kira-kira Saka sakit apa ya?." Mami Sella duduk di samping Papi Revan.
"Papi tidak tau, Mi. Kita doakan agar Saka tidak apa-apa." Papi Revan merangkul Mami Sella.
"Iya, Pi."
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Saka keluar. Ia memberitahu keadaan Saka.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?." Mami Sella menghampiri Dokter, ia nampak cemas.
"Iya, dokter. Anak saya tidak apa-apakan?." Kata Papi Revan.
"Dari kejala yang di alami anak ibu dan bapak, seperti terkena penyakit HIV..." Dokter belum selesai Mami Sella sudah berteriak.
"APA!!!. Ini tidak mungkin Dok." Mami Sella terkejut mendengarnya dan ia mengelak kalau Saka tidak seperti itu.
"Sabar dulu, Mi. Kita dengarkan dulu penjelasan Dokter." Papi Revan mengelus punggung Mami Sella.
"Ini hanya perkiraan saya saja, nanti saya akan cek ke laboratorium dan melihat hasilnya." Kata Dokter lagi.
"Ck, anda itu dokter. Jangan mengira-ngira penyakit, seharusnya kalau belum pasti itu penyakit jangan bicara seenaknya." Mami Sella kesal dan memarahi dokter.
"Mi, jangan bicara begitu pada dokter." Papi Revan menenangkan Mami Sella.
__ADS_1
"Ya, dokter itu seakan-akan Tuhan. Yang sudah tau penyakitnya tanpa di cek."
"Sudah, Mi. Malu ini di rumah sakit."
"Maaf Ibu dan Bapak, saya bicara seperti itu karena saya sudah sering menangani kejala yang di miliki putra ibu dan bapak, saya hanya menyimpulkan saja. Dan saya bukan sok pintar atau apa, saya di sini sebagian dokter hanya bisa menyembuhkan pasien. Bukan ajang pamer jabatan." Dokter itu marah, dokter laki-laki yang gampang emosi. Dokter itu adalah Ibrahim, adik Azzam.
Ibrahim berprofesi sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sakit, ia tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan bawahannya. Walau ia pemilik rumah sakit, tapi ia juga harus turun tangan, kebetulan ia sedang berkeliling rumah sakit untuk mengecek kinerja bawahannya. Saka dan keluarga datang dan dokter di IGD sedang sibuk menangani pasien, ia jadi turun tangan.
"Maafkan istri saya, dok. Kami akan menunggu hasil dari laboratorium dan mengikuti prosedur rumah sakit." Papi Revan menundukkan kepala.
"Ish! Papi ngapain minta maaf sama itu dokter, harusnya dia yang minta maaf sama kita." Mami Sella memukul pelan lengan Papi Revan.
"Sudahlah, Mi. Jangan bikin malu." Papi Revan menarik tangan Mami Sella, lalu pergi.
"Ck, itu manusia sombong banget. Untuk aja, Kak Azzura pisah dari anaknya." Kata Ibrahim, ia tau Saka dan keluarganya adalah mantan dari Azzura. Azzam yang memberitahukan.
"Baik, Tuan." Suster menganggukkan kepala.
"Dan satu lagi, kamu jangan pernah memberitahukan mereka saya sebenarnya."
"Lah! memang kenapa, Tuan?."
"Ck, aku tidak mau kalau mereka tau saya ini memiliki rumah sakit. Saya ingin melihat bagaimana si ibu memperlakukan saya."
"Hehehe... Maaf, Tuan. Tapi apa tuan tidak apa-apa? kelihatannya ibu itu sangat tidak bersahabat, takutnya tuan malah di apa-apain sama ibu itu."
__ADS_1
"Kau ini tidak tau aja siapa saya."
"Hehehe... Maaf, Tuan. Bukan maksud saya..." Pembicaraan Suster di potong sama Ibrahim.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu kerjakan saya apa yang saya suruh tadi. Tidak usah panjang lebar kalikan tinggi, pusing saya mendengarkannya. Saya mau pulang dulu, kasihan istri saya yang sedang ngidam."
"Tuan Ibrahim top markotop dech, udah sayang sama istri. Tampan, tajir dan baik ke siapa pun. Pasti istrinya sangat bangga memiliki suami seperti anda."
"Hahaha... Kamu bisa saja. Ya udah saya pamit dulu, ingat pesan saya yang tadi."
"Laksanakan komandan."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa, like, Vote dan komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗