
Azzam dan Azzura pindah ke Jakarta, begitu juga dengan Umi Aisyah dan Abi Ismail. Karena pekerjaan Azzam tidak bisa di tinggal dan jarak jakarta Bandung sangatlah memakan waktu, Azzam tidak mempermasalahkan itu. Tapi Azzura ia tidak tega melihat Azzam sangat kelelahan, jadi ia menyarankan pindah ke Jakarta. Umi Aisyah dan Abi Ismail menyetujui itu, dan mereka juga ikut pindah.
"Bagaimana sayang?Apa kamu suka dengan rumah baru kita ini?." Azzam merangkul Azzura, mereka sudah tiba di rumah baru di Jakarta.
"Suka, Mas. Tapi ini terlalu besar, seperti istana. Lihatlah ada lift juga, pasti harganya mahal ya?." Azzura merasa tidak enak tinggal di rumah yang besar, mereka akan menepati Mansion. Azzam sengaja membeli Mansion untuk sang istri, karena ia ingin meratukan istri.
"Ini sengaja aku beli untuk kamu, aku ingin kamu menjadi ratu di Mansion ini. Semua fasilitas yang kamu inginkan ada di sini, termasuk ruangan untuk kamu bebas berkarya seperti hobi kamu yang memasak, menjahit dan aku juga sudah siapkan ruangan untuk kamu mengajar. Nanti anak-anak panti bisa datang ke sini kapan pun itu, panti yang dulu kamu tempati aku pindahkan di sebelah Mansion ini. Jadi kamu bebas kesana dan ajak anak-anak panti, anak-anak panti juga sudah aku daftarkan ke sekolah. Anak-anak yang masih 3-6 tahun bisa kamu ajarkan, itu yang kamu mau kan mengajar anak-anak panti yang di bawah 6 tahun."
"Iya, Mas. Makasih ya, kamu sudah peduli aku dan anak-anak panti. Aku bersyukur mempunyai suami seperti mu." Azzura terharu dan memeluk Azzam.
"Justru itu aku yang bersyukur mendapatkan bidadari seperti mu, aku akan berusaha semampu ku agar kamu bahagia. Aku tidak mau kamu merasa sedih atau bosan di Mansion ini, jika kalau ada yang kurang nanti aku akan bilang ke Andy untuk memperbaiki atau tambah sesuai keinginan mu." Azzam mencium kening Azzura.
"Tidak, Mas. Ini sudah cukup, malah lebih dari cukup. Aku sangat senang sekali, Mas."
"Alhamdulillah kalau kamu suka, tadinya aku sangat was-was kalau kamu tidak menyukai."
"Aku suka, Mas. Terima kasih ya, Mas."
"Sama-sama, sayang. Tapi kamu nanti jangan terlalu cape ya, aku tidak mau nanti kamu dan debay kenapa-napa."
"Iya, Mas. Nanti aku akan membatasi kegiatan ku."
__ADS_1
"Ya udah, yuk. Kita istirahat besok baru kamu bebas melakukan apa saja, aku hanya bisa memantau kamu. Kebetulan aku besok libur, biar Andy yang mengurus kantor."
"Kasihan sekali mas Andy menjadi bawahan mu, Mas. Dia sungguh tersiksa, kamu itu kebanyakan mengandalkan Andy."
"Kamu malah kasihan sama orang, wajar dia kan bekerja di perusahaan aku dan dia itu bawahan ku, Yank."
"Tapi tidak seperti itu juga, Mas. Justru kamu itu seorang pemimpin, memberi contoh kepada bawahan mu. Bekerja dengan rajin dan disiplin, jangan sedikit-Sedikit bolos. Itu tidak baik, Mas."
"Baik, bu guru. Besok itu tidak ada kerjaan, jadi aku istirahat di rumah. Kalau ada yang penting Andy yang akan ke sini, sayang. Aku akan bosan di kantor tidak ngapa-ngapain, lebih baik di sini bisa memeluk kamu dan melihat aktivitas kamu sayang." Azzam memeluk Azzura.
"Ish! Malu di lihat orang."
"Malu kenapa? kita kan suami istri, sayang."
"Ya udah. Kita ke kamar." Azzam menggendong Azzura dengan gaya bridal style, Azzura tambah malu. Ia belum terbiasa bermesraan di hadapan orang banyak.
"*Senangnya jadi istri tuan Azzam, di perlakukan seperti ratu. Jadi iri"
"Mereka sangat romantis."
"Mereka sangat serasi, yang satu ganteng dan yang satu cantik."
__ADS_1
"Menonton darkor secara live, sungguh bikin meleleh. Tidak kuat*."
Itulah kata-kata dari para Art yang tidak sengaja melihat ke romantisan majikannya.
Azzam memperlakukan Azzura seperti ratu, dia hanya ingin membuat Azzura bahagia. Apalagi saat ini Azzura sedang hamil, Azzam akan extra menjaganya. Makanya ia membuat ruangan yang di inginkan Azzura, agar Azzura tidak pergi keluar-keluar. Cukup di Mansion sudah tersedia.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, Vote dan komentarnya ya...
__ADS_1
See you... 😘😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗