
"Biarin aja, aku bicara jujur. Dari pada nanti Azzura di serobot oranglain, aku ngga mau itu." Kata Azzam menatap lembut Azzura.
"Lebih baik, kita sarapan dulu. Kasihan ini makanan jadi dingin nanti." Ucap Umi Aisyah, mereka duduk di bangku masing-masing dan melahap makanan dan minuman yang terhidang di meja.
Setelah sarapan, mereka mengikuti kemauan Ibrahim untuk melamar Zahwa. Alex sangat senang bisa jalan-jalan. Abi Ismail dan Umi Aisyah berada di mobil Ibrahim, sedangkan Azzam dan Azzura serta Alex satu mobil. Azzam sengaja mengajak supir, agar dia bisa berdekatan dengan Azzura.
Tak lama kemudian, meraka tiba di pesantren milik Pak Haji Jafar. Jalur kuning sudah melengkung dan tenda sudah di pasang dan di hias, padahal pernikahan seminggu lagi. Kenapa sudah rapi dan banyak orang yang sudah berdandan rapi. Membuat mereka bingung.
"Ini apa pernikahannya di majukan?." Umi Aisyah melihat sekeliling.
"Kurang tau, Mi. Lebih baik kita kesana aja, untuk memastikan." Kata Abi Ismail.
"Mas, apa benar ini tempat calon istrinya Ibrahim?." Azzura penasaran.
"Benar, ini tempatnya. Tuh mereka turun, yuk kita turun." Ajak Azzam.
Mereka menghampiri salah satu tamu undangan.
"Assalamualaikum, maaf ini ada apa ya?." Tanya Umi Aisyah.
"Wa'alaikumsalam, ini pernikahan Hawa di majukan. Karena calon mertuanya tiba-tiba saja sakit." Penjelasan wanita berhijab merah.
Umi Aisyah, Abi Ismail dan Ibrahim saling pandang begitu juga dengan Azzam dan Azzura.
Di hati Ibrahim seperti di hantam batu besar, tenggorokan nya tiba-tiba terasa kering. Kaki terasa lemas, ia pun terhuyung. Untung Azzam masih di belakang, ia bisa menangkap tubuh adiknya.
"Aku sudah terlambat, Bang, Umi, Abi." Suara bergetar Ibrahim.
"Yang sabar, Nak. Mungkin dia bukan jodoh mu." Abi Ismail menenangkan Ibrahim.
"Kak..." Suara yang lembut, suara yang ia rindukan. Ia tidak bisa miliki.
"Kakak, kenapa?." Zahwa khawatir. Ibrahim menatap Zahwa, ia merasa janggal. Karena Zahwa tidak berdandan seperti pengantin perempuan.
"Kamu Zahwa kan?." Ibrahim memastikan.
"Iya, aku Zahwa Kak. Kakak kenapa."
"Zahwa, aku mohon kamu jangan menerima pinangan ustadz itu." Ibrahim memegang tangan Zahwa.
"Kak, lepaskan tangan ku." Zahwa merasa tidak enak, baru kali ini tangannya di pegang laki-laki.
"Aku tidak akan melepaskan mu, aku sangat mencintai mu Zahwa."
Umi Aisyah menjewer telinga Ibrahim.
"Kamu ini jangan pegang-pegang tangan seorang gadis." Umi Aisyah marah.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, aku ingin Zahwa menikah dengan ku." Ibrahim kekeh, ia masih memegang tangan Zahwa.
"Kalau kamu ingin segera menikah dengan anak ku, segara ucapkan ijab qobul." Pak Haji Jafar yang baru datang bersama dengan Ustadz Zaki.
Ibrahim menjadi bingung.
"Ish! Kamu malah bengong, kalau kamu memang ingin Zahwa menjadi istri mu. Kamu harus ucapkan ijab qobul." Pak Haji Jafar menepuk pundak Ibrahim.
"Tapi bagaimana dengan..." Ibrahim melirik Ustadz Zaki yang sudah berpakaian pengantin.
"Ooo... Aku baru tau, kakak pasti salah paham. Yang menikah itu Kakak kembar ku yang bernama Hawa, mungkin nama kita itu sama dalam panggilan. Jadi Kakak salah paham." Zahwa menjelaskan.
"Jadi..."
"Iya, yang menikah bukan aku. Tapi Hawa." Hawa keluar dari rumah.
Di lihat dari kedua matanya, mereka hampir sama. Walau tertutup cadar, suara mereka pun juga sama.
"Perkenalan aku Hawa, kembaran Zahwa." Hawa mengantupkan kedua tangannya.
"Ya Allah, selama ini aku sudah salah paham. Jadi malu." Ibrahim menyandarkan kepalanya di punggung Azzam.
"Ck, malah bersembunyi. Cepat sana katanya mau nikah." Azzam mendorong Ibrahim.
Pada akhirnya Ibrahim dan Zahwa menikah, walau dadakan dan belum ada persiapan sekali. Untuk Mas kawin, Ibrahim menyerahkan ATMnya dan untuk cincin yang di pakai Zahwa itu dari Umi Aisyah. Untung Umi sedang memakai cincin.
"Hufh, akhirnya kita menikah juga ya. Sayang, walau serba dadakan. Alhamdulillah di lancarkan." Ibrahim menyandarkan kepalanya di bahu istri yang baru ia nikahi.
"Iya, sayang. Aku juga minta maaf, setelah aku mendengar cerita dari dua santriwati. Aku langsung percaya dan tidak mengecek lagi kebenarannya."
"Nah! sekarang kamu sudah menikah, ubahlah sikap mu yang kaya anak Tk. Yang selalu minta di manja sama Umi." Ledek Azzam.
"Ish! Bang, jangan bikin aku malu sama istri ku ini." Ibrahim cemberut.
"Hahaha... Tuh lihat Zahwa suami ini seperti anak Tk, apa-apa sudah gampang cemberut."
Zahwa tidak berkomentar, ia malah tersenyum melihat tingkah adik kakak yang humoris menurutnya.
"Biarin kaya anak Tk, yang penting aku sudah menikah. Dari kau jomblo akut." Ibrahim membalas meledek Azzam.
"Sory ya, Abang tidak jomblo lagi. Sekarang Abang sedang dalam proses, Insya Allah 4 bulan lagi Abang akan langsung mempersunting Azzura." Kata Azzam percaya diri.
"Percaya diri sekali kamu, Bang. Emangnya Azzura mau menikah dengan abang."
"Jelas dong, apalagi ada Alex sekarang."
"Ck, Alex kan bukan anak kalian."
__ADS_1
Bugh
"Alex anak Papa Azzam dan Mama Azzura." Alex datang langsung memukul perut Ibrahim.
"Aauuww... Sakit Alex, Om minta maaf." Ibrahim pura-pura sakit.
Alex di gendong Azzam.
"Makanya jangan usil, ini jagoan ku." Azzam mencium pipi gembul Alex.
"Iya, rasakan." Alex menjulurkan lidah ke arah Ibrahim.
"Bang, Alex sangat lucu dan menggemaskan. Bolehkan Alex bersama kami." Zahwa mengatupkan kedua tangan, seperti orang bermohon.
"Alex mau sama tante Zahwa?." Azzam menoleh ke Alex yang masih di gendongan.
"No, Alex mau sama Papa Azzam. Alex tidak mau dekat-dekat sama Om Baim, kalau tante mau dekat sama aku boleh. Tapi harus menginap di rumah Mama Azzura, jangan ajak Om Baim." Alex tersenyum, ia sangat senang bisa di kelilingi orang baik.
"Eh! kutu kupret, Daddy Saka cariin kamu. Enak aja menyuruh istriku menginap sendirian, No." Ibrahim memeluk Zahwa.
Mendengar nama Daddynya, Alex sedih dan mengeluarkan air mata.
"Aku tidak mau kembali sama mereka, Pah. Hiks... Hiks... Hiks..."
"Cup... Cup... Jagoan Papa jangan menangis, Papa tidak akan membiarkan mereka mengambil kamu. Kamu akan selalu menjadi anak Papa dan Mama." Azzam mengelus punggung Alex, lalu menatap Ibrahim dengan tajam. Kemudian pergi dari kedua pengantin baru.
"Alex, sayang. Kenapa?." Azzura melihat Alex menangis bergegas menghampiri Alex yang di gendong Azzam.
"Aku mau jalan-jalan sama Papa dan Mama, boleh ya." Tatap Alex dengan mata yang masih basah.
"Iya, Nak. Kita pamit dulu ya, sama yang lain." Azzura mengelus rambut Alex.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘😘