
Keesokan harinya Ibrahim Benar-benar menyusul Umi Aisyah dan Azzam ke Bandung.
"Assalamualaikum Umi, Bang." Ibrahim memberi salam.
"Wa'alakumsalam." Serentak. Ibrahim mencium punggung tangan Umi Aisyah dan Azzam.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?Kamu terlihat kurus, Abi mu ngga ikut pulang?." Umi Aisyah memeluk Ibrahim.
"Lusa akan nyusul, Mi. Abi sedang mengurus pelebaran lahan pesantren, Umi." Kata Ibrahim masih memeluk Umi Aisyah.
"Iya, itu gara-gara kamu memohon sama Abi untuk melamar anaknya Pak Haji Jafar. Eh! Abi malah jatuh cinta dengan pesantren milik Pak Haji, Abi ngga mau pulang kalau pesantren ia bangun dengan sempurna. Emang sih suasana disana sangat sejuk dan asri, karena pemandangan yang bikin seger tiap hari. Tau sendiri Abi suka pemandangan, apalagi ada pesantren di sekitar pemandangan tersebut." Azzam menjitak Ibrahim, Azzam agak kesal dengan adik satu-satunya itu merengek minta di kawin sama anak Pak Haji Jafar. Abinya bukan membantu melamar, malah terpesona pemandangan pesantren hingga ia lupa niat datang ke pesantren.
"Iya, Bang. Malah Abi melupakan membantu aku melamar anaknya Pak Haji Jafar, sedih rasanya. Abi lebih mementingkan pembangunan pesantren agar lebih baik." Ibrahim cemberut kesal.
"Hahahaha... Makanya jangan terlalu buru-buru jadi beginikan."
"Ish! Bang, aku ini lagi sedih malah di ketawain."
Azzura datang membawakan masakan.
"Assalamualaikum." Salam Azzura.
"Wa'alaikumsalam." Serentak.
"Wah! ada bidadari cantik." Ucap Ibrahim.
Tuk
Azzam mengetok kepala Ibrahim.
"Bidadari cantik itu punya Abang, kamu sama anaknya Pak Haji Jafar."
__ADS_1
"Aauuww... Jahat sekali kau jadi Abang." Ibrahim memegang kepalanya yang abis di getok sama Azzam.
"Kalian ini selalu bikin ribut, malu di lihat Azzura. Sini, sayang. Duduk, perkenalkan adiknya Azzam. Ibrahim namanya." Umi Aisyah memperkenalkan Azzura ke Ibrahim.
Azzura mengantupkan kedua tangannya.
"Salam kenal Mas, aku Azzura."
"Ibrahim, kamu cantik." Kata gombal Ibrahim.
"Terimakasih." Azzura tersenyum.
"Subhanallah, senyumannya sangat menawan."
"Berisik kami, ayo Ra. Kita pergi sekarang aja." Azzam cemburu, lalu menggetok kepala Ibrahim kembali.
"Iya, Mas. Mi, ini tadi Azzura memasak masakan kesukaan Umi." Azzura menyondorkan paper bag.
Azzura dan Azzam sudah pergi, Ibrahim melihat kepergian mereka.
"Umi, Bang Azzam kayanya sudah berubah. Siapa perempuan itu?Apa dia yang membuat kalian pergi Ke Bandung?." Tanya Ibrahim.
"Abang mu itu sudah jatuh cinta kepada Azzura sejak pertemuan pertama, tapi sayang Azzura masih status istri orang." Penjelasan Umi Aisyah.
"Loh, Kok bisa. Bagaimana ceritanya?." Ibrahim penasaran.
Umi Aisyah menceritakan dari ia dan Azzura bertetangga dan hingga sekarang Azzam membantu Azzura bercerai.
"Kurang ajar banget itu suaminya, kalau aku ketemu sudah aku buat geprek. Di Cocol sambal rawit merah. Jadi laki pengecut banget, beraninya sama perempuan. Sumpah Umi aku ingin rasanya memukul itu laki." Geram Ibrahim.
"Maka dari itu Abang mu itu membantu Azzura agar cepat bercerai."
__ADS_1
"Aku juga akan membantunya Umi, aku juga tidak suka ada lelaki yang berani sama perempuan. Tidak tau apa kekuatan keluarga Ismail."
"Istighfar, Nak. Jangan kuasai hati mu oleh iblis." Umi Aisyah mengelus dada Ibrahim.
"Astagfirullahaladzim, maaf Umi aku terbawa emosi."
"Iya, Nak. Makanya Umi mengangkat Azzura sebagai adik kalian."
"Wah! Jangan Umi, kasihan yang ada nanti Bang Azzam tidak bisa mendekati Azzura, aku baru kali melihat Abang dekat sama lawan jenis. Biasanya Abang sangat anti."
"Kamu benar, tapi Umi pengen Azzura jadi anak Umi."
"Doakan mereka aja Umi, agar di lancarkan. Kalau Abang Azzam menikah dengan Azzura. Otomatis Azzura akan jadi anak Umi."
"Kamu benar, Nak."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.