Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#28


__ADS_3

Ibrahim menatap langit-langit, ia sangat merindukan sang pujaan hati, anak Pak Haji Jafar.


"Zahwa, apa kabar diri mu?Sungguh aku merindukan mu." Ibrahim menghela napas, ia mengingat waktu pertama kali bertemu.


Flash Back On


Ibrahim sedang liburan di Kairo, dulu ia pernah kuliah di universitas terkenal di Kairo. Dan dia sedang berkunjung ke kampusnya dulu.


"Ternyata masih tetap sama, hanya sedikit perubahan." Kata Ibrahim.


Ibrahim berkeliling kampus, ada yang masih mengenal dirinya. Karena dulu ia juga dosen yang paling di seganin mahasiswa dan mahasiswi, Ibrahim tidak hanya tampan dan baik hati. Ia di kenal sebagai dosen terpintar dan cerdas, cara mengajarnya sangat berbeda dari dosen lain.


"Assalamualaikum, dosen." Sapa mahasiswa dan mahasiswi (Bahasa Arab 😄😄😄)


"Wa'alaikumsalam, apa kabar kalian?." Ibrahim tersenyum.


"Kami baik, Pak Dosen."


"Alhamdulillah Baik."


"Alhamdulillah."


"Zahwa, kenalin ini dulu salah satu dosen ini. yang waktu aku ceritakan ke kamu itu." Kata Nisa. Zahwa hanya mengantupkan kedua tangannya, lalu ia pergi. Membuat Ibrahim menatapnya, baru kali ada mahasiswi bersifat biasa aja. Dulu dia di hormati, bahkan ada yang gila-gila padanya.


Zahwa gadis bercadar itu membuat Ibrahim penasaran, lalu ia mengikuti Zahwa.


Zahwa masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya. Ibrahim buru-buru masuk kedalam mobil, lalu mengikuti mobil Zahwa.


Mobil Zahwa berhenti di toko Swalayan, lalu ia kembali masuk ke dalam mobil. Ia membawa banyak sekali barang, bahkan di restaurant di sebelah toko Swalayan memberikan banyak makanan. Semua sudah masuk kedalam mobil, Zahwa menyetir kembali.


"Mau kemana dia?." Gumam Ibrahim fokus melihat mobil Zahwa, tepat di depannya.


Mobil Zahwa memasuki pemukiman rumah yang begitu terbilang sangatlah memperhatikan.


Zahwa tampak senang melihat anak-anak kecil berhamburan memeluk Zahwa. Tanpa sadar Ibrahim tersenyum melihatnya.


"Ini bidadari surga ku." Kata Ibrahim, ia sudah memutuskan mengejar Zahwa untuk menjadi istrinya.


Ibrahim keluar dari mobil dan membantu Zahwa membagi-bagikan barang kepada anak-anak dan dewasa.


"Pak dosen?." Zahwa bingung, kenapa Dosen yang baru ia bertemu. Tiba-tiba ada di sampingnya, padahal dia tidak mengajaknya.


"Sudah, selesaikan ini. Nanti aku jelaskan." Kata Ibrahim lembut, ia pun tersenyum. Walau wajah Zahwa di tutup cadarnya, Ibrahim merasakan kalau Zahwa gadis cantik.


"Hm, baiklah." Zahwa meneruskan membagikan bingkisan.


Semua bingkisan sudah dibagikan, mereka duduk di bangku dekat pohon.


"Di minum dulu, Pak. Terimakasih sudah membantu saya, Oia bapak belum jawab pertanyaan saya." Zahwa memberikan Ibrahim minuman, ia duduk agak jauh dari Ibrahim.

__ADS_1


"Terimakasih, pertama kamu jangan panggil aku Bapak. Aku belum setua itu, tadi tidak sengaja melihat mu di toko Swalayan. Kamu membeli begitu banyak barang dan kamu juga membeli begitu banyak makanan di restaurant toko Swalayan itu." Ibrahim menatap Zahwa, tapi Zahwa hanya menunduk.


"Saya merasa tidak sopan, anda kan dosen."


"Mantan dosen, aku tidak lagi mengajar di sana lagi. Aku kesana karena merindukan lingkungan Kampus."


"Ooo, kalau begitu saya panggil Kakak saja."


"Itu lebih baik, kita bersantai aja bicaranya."


"Ya Allah jantungku berdebar-debar, dia memang bidadari surga ku." Kata Ibrahim dalam hati.


"Baik, kak."


Mereka terdiam, merasa canggung.


"Hm, Kamu bukan warga negara ini kan?." Ibrahim menggaruk kepala yang tidak gatel.


"Iya, Kak. Aku dari Indonesia."


"Sama aku juga dari Indonesia, tapi aku di Jakarta. Kalau kamu dimana?."


"Aku banten, Kak."


"Ooo... Waktu sudah mau Azhar, apa disini ada Mushola atau Masjid."


"Di sini hanya Mushola."


"Iya, Kak."


Mereka berjalan, Zahwa berjalan terlebih dahulu. Ibrahim menatap punggung Zahwa.


"Masya Allah, sungguh indah ciptaan mu ini Ya Allah. Aku memohon semoga gadis bernama Zahwa menjadi istri ku, aku ingin mempersunting dirinya." Kata Ibrahim dalam hati.


"Di sini kak Musholanya dan disana tempat wudhu laki-laki." Zahwa menujukan tempat tempat wudhu.


"Ya Allah, ini Musholanya?." Ibrahim memastikan.


"Iya, Kak."


Mushola tanpa tidak layak bagi Ibrahim, lalu ia menghubungi Abi Ismail agar membangun Mushola agar layak di gunakan. Tanpa ada perdebatan Abi Ismail mentransfer uang ke rekening Ibrahim.


"Maaf Zahwa, Abi aku mentransfer uang untuk pembangunan Mushola ini. Bisakah aku minta Nomor rekening kamu dan nomor ponsel mu, jika nanti ada tambahan dari Abi. Aku akan memberitahukan kamu." Kata Ibrahim.


"Subhanallah, sungguh mulai sekali Abi Kakak. Semoga kebaikan Kakak dan keluarga di balas oleh Allah SWT." Kata Zahwa, ia merasa senang.


"Amiin Ya Robbal'alamin..."


Zahwa mengetik nomor Hpnya di ponsel Ibrahim.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku dapat nomor hp sang bidadari surga ku." Kata Ibrahim dalam hati, ia merasa senang.


Ibrahim sudah mentransfer uang ke rekening Zahwa.


"Terimakasih, ya Kak. Setelah ini kita memberikan uang itu kepada pengurus di sini Kak."


"Iya, bagaimana besok pagi saja. Kebetulan abis Sholat Azhar, aku ada urusan"


"Iya Kak."


"Kak Ibrahim tidak hanya tampan wajahnya, tapi hatinya begitu baik. Dan ini kenapa aku tiba-tiba berdebar-debar." Kata Zahwa dalam hati.


Sejak itu hubungan Zahwa dan Ibrahim semakin dekat, bahkan kalau ada acara amal mereka datang bersama-sama. Dan mereka sama-sama merasakan jatuh cinta, tapi mereka tidak ada yang saling mengungkapkannya.


"Zahwa, besok aku harus pulang ke Indonesia. Karena perusahaan sangat membutuhkan aku, nanti kalau urusan disana selesai aku akan segera kesini." Kata Ibrahim, ia sangat tidak bisa meninggalkan Zahwa.


"Iya, Kak. Dua bulan lagi aku juga sudah lulus, Kakak tenang aja." Kata Zahwa.


"Baiklah, kalau begitu. Untuk itu hari ini kamu temani aku ya, aku beli oleh-oleh buat Umi, Abi dan Abang ku."


"Iya, Kak."


"Terimakasih ya Zahwa."


"Iya, Kak."


"Zahwa, maaf kalau aku bicara ini. Tapi aku tidak bisa menahannya, terserah kamu mau jawab apa aku terima dengan Ikhlas. Aku mencintaimu Zahwa, aku ingin mempersunting dirimu." Ibrahim menatap Zahwa penuh harap.


"Hmm... Bagaimana ini terlalu mendadak aku bingung, tapi jika kakak mau ingin mempersunting aku. Silakan Kakak bertemu Abi aku, jika Abi menerima mu sebagai suamiku. Aku pun ikut menerimanya." Zahwa menunduk.


"Insya Allah, setelah kamu lulus dan pulang ke Indonesia. Aku akan melamar mu."


"Iya, Kak. Nanti aku akan menginformasikan lagi ke kakak, kapan aku pulang ke Indonesia."


"Duh! jadi tidak sabaran, ingin segera mempersunting dirimu. Tunggu aku ya bidadari surga ku."


Zahwa tersenyum melihat tingkah Ibrahim.


Keesokan harinya Ibrahim pulang ke Indonesia, ia pun langsung menghubungi niat baiknya untuk mempersunting Zahwa dan Abi sangat mengenal Abi dari Zahwa, yaitu Pak Haji Jafar sang penceramah kondang. Abi Ismail pun menyetujui.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2