
"Qil..." Suara lemas Sonya.
"Ada apa, Son?." Qilla mendekati Sonya, lalu mengelus tangannya Sonya.
"G-gue mo-mohon, l-loe ja-ja-ga a-na-k g-gue." Kata Sonya terbata-bata.
"Iya, nanti gue bantu jaga anak loe. Anak loe cantik banget, loe harus cepat sembuh. Kita sama-sama rawat anak loe sama-sama." Qilla memberikan semangat Sonya.
Sonya tersenyum melihat sahabat sekaligus saudara yang begitu antusias merawat, ia begitu menyesal. Karena dulu ia begitu tega menyakiti Qilla, hingga Qilla harus kehilangan perusahaannya. Tapi Qilla tidak pernah membalas kejahatan Sonya, Qilla malah baik banget kepadanya.
"T-ta-pi hi-hi-dup Gu-gue ng-ngga a-akan la-lama la-lagi."
"Loe jangan sembarangan kalau ngomong gue ngga suka, gue yakin loe itu sembuh."
Sonya tersenyum dan memberikan sebuah kotak sedang seperti kardus sepatu.
"I-ini bu-bu-at Qi-Qi-a-na-ra. i-itu na-na-ma a-na-k ku."
"Bagus sekali namanya, gue tambahin Qianara Shazfa Alshamira yang artinya wanita yang dianugrahkan kejujuran, kedamaian dan kecantikan."
Sonya tersenyum dan badannya mulai melemas, lalu ia menutup matanya.
Tit....
Bunyi monitor, Qilla melihat di Monitor. Terdapat garis lurus yang menandakan Sonya sudah tiada.
"Tidak Son, loe bangun. Hiks... Hiks... Hiks... Jangan tinggalkan gue." Teriak Qilla histeris.
"Dokter, tolong saudara saya."
"Maaf sebaiknya anda tunggu di luar."
"Hiks... Son, gue mohon bangun." Qilla menatap Sonya yang berbaring di bangkar.
Qilla keluar dari ruangan operasi, ia langsung memeluk Pengacara Darel.
"Sayang, kamu kenapa?." Pengacara Darel mengelus rambut Qilla.
"Hiks... Hiks...Hiks... Jantung Sonya tidak berdetak." Isak Qilla.
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun." Perkataan Pengacara Darel menambah Qilla meneteskan air mata.
"Huhuwaaaa... Tidak mungkin Sonya meninggal, tidak mungkin."
"Yang sabar ya, sayang. Allah lebih sayang dibandingkan kita, kamu harus mengikhlaskan kepergian Sonya. Kasihan nanti, jika kamu tidak mengikhlaskan kepergiannya. Sonya akan merasa berat dan sedih, masa kamu tega sama Sonya."
"Hiks... Hiks... Hiks... A-aku..."
__ADS_1
"Hey, dengarkan aku. Kamu adalah wanita kuat, kita sama-sama mengurus anaknya Sonya dan juga perusahaan. Kita harus menjadi orangtua baik untuk anaknya Sonya, jadi kamu jangan bersedih. Kita lah sekarang orangtuanya."
"Hiks... Hiks... Hiks..." Qilla masih menangis, ia bingung. Jika harus menjadi ibu dari Qianara anaknya Sonya, ia harus berbuat apa.
Dokter keluar.
"Maaf, kami tim dokter sudah berusaha. Tapi Allah lebih sayang kepadanya, kami tidak bisa berbuat apa-apa." Kata Dokter.
Qilla pingsan di pelukan Pengacara Darel.
"Dok, tolong. Kekasih saya." Pengacara Darel panik.
"Baik, silakan masuk."
"Baik, Dok."
Pengacara Darel menggendong Qilla dengan gaya bridal style dan masuk kedalam ruangan Operasi, Pengacara Darel melihat Sonya di bangkar. Ia pun menghela napas.
"Son, Insha Allah gue akan Qilla akan menjaga amanah loe. Gue dan Qilla akan menganggap anak loe seperti anak kandung kami, pergilah dengan tenang. Semoga di sana loe mendapatkan kebahagiaan." Kata Pengacara Darel dalam hati.
Dokter memeriksa Qilla.
"Tekanan darah Nona sangat rendah, untuk sementara nona di rawat." Kata Dokter.
"Baik, Dok."
Qilla sudah di pindahkan ke kamar inap.
"Kemana nih orang, di saat genting seperti ini dia tidak bisa di hubungi."
"Kalau gue hubungi Dion, dia malah minta warisan Sonya. Dion itu lelaki bejat melebihi Saka, ya Allah. Aku harus bagaimana?aku mau mengurus pemakaman Sonya, tapi aku tidak tega meninggalkan Qilla disini." Pengacara Darel dilema.
Pengacara Darel berada di depan kamar dimana Qilla dirawat.
"Kamu Darel kan?." Tanya pria berjas.
"Ah! Iya, Azzam!!!." Pengacara Darel terkejut, pria berjas itu adalah Azzam.
"Apa kabar kamu?." Azzam menjabat tangan Pengacara Darel.
"Saat ini gue lagi berduka, Zam." Pengacara Darel menunduk, ia nampak sedih.
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, siapa yang meninggal?."
"Saudara dari pacar gue, Zam. Yang gue bingungkan itu pacar gue dan anak dari saudaranya di rawat, sedangkan jenazah saudaranya harus segera di makamkan." Pengacara Darel menceritakan.
"Gue turut berduka cita ya."
__ADS_1
"Ya Allah, emang usia anaknya berapa tahun?." Azzura merasa iba.
"Ini..."
"Istri aku, kenalkan namanya Azzura." Azzam memperkenalkan Azzura.
"Azzura!!! Ternyata dunia itu sempit ya."
"Maksudnya bagaimana?." Azzam dan Azzura bingung dengan perkataan Pengacara Darel.
"Yang meninggal itu adalah Sonya." Pengacara Darel menatap Azzura sedih.
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, Ya Allah. Mas aku mau melihatnya." Kata Azzura.
"Sonya masih di bersihkan, dia habis melahirkan."
"Ya Allah." Azzura meneteskan air mata.
"Kalau begitu boleh aku melihat anaknya?." Kata Azzura lagi.
"Loe ngga marah dengan atas sikap Sonya terhadap loe?." Pengacara Darel sudah mengetahui semua tentang Sonya, Qilla sudah menceritakan semuanya kepada Pengacara Darel.
"Setiap manusia pasti punya salah, Allah selalu memaafkan HambaNya. Maka dari itu kita sebagai sesama manusia harus saling memaafkan, melupakan apa yang terjadi." Kata Azzura.
"Hati mu sungguh mulia, pantas saja Azzam kesesem sama kamu."
"Bini ane, jangan melihat terlalu lama." Azzam merangkul Azzura, Azzam sangat cemburu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya lama tidak update karena aku sedang ikut Diklat sampai minggu depan.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗