Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#63


__ADS_3

Mami Sella dan Saka kembali ke rumah sakit, Mami Sella melihat Saka yang marah-marah tidak jelas. Karena gagal bertemu Azzura, Mami Sella hanya menggelengkan kepala. Sikap anaknya tidak pernah berubah.


"Reseh banget emang sih Azzam, mau ketemu Azzura aja di persulit. Kurang ajar emang sih Azzam, lihat aja gue akan merebut Azzura kembali dari loe. Ya, gue harus sembuh." Saka bersemangat, lalu ia menghentikan langkanya dan membalikkan badan menghadap Mami Sella tepat di belakangnya.


"Mi, aku mau sembuh. Kita berobat di Singapura ya." Saka penuh semangat.


"Iya, Nak. Mami dan Papi akan berusaha akan kamu sembuh, apapun caranya." Kata Mami Sella tersenyum.


"Maaf Nyonya Sella, tuan Saka harus di kemoterapi dulu." Kata Suster Dian sopan.


"Iya, sus. Antarkan saya keruangan kemoterapi." Saka masih semangat.


"Baik, tuan. Oia Nyonya nanti ke ruang Dokter Ibrahim, ada yang ingin beliau sampaikan."


"Iya, Sus. Nanti abis antar Saka, saya akan ke ruangan Dokter Ibrahim."


Mereka menuju keruangan kemoterapi, Saka sudah sangat yakin. Kalau dirinya bisa sembuh, ia begitu semangat.


"Mami senang melihat kamu seperti ini, tidak seperti tadi yang marah-marah tidak jelas. Udah tau sih Azzura itu bukan istrinya lagi, dia yang sewot melihat Azzam begitu mencintai Azzura. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Azzura, Mami ingin melihat kamu bahagia. Nak." Kata Mami Sella dalam hati, ia tersenyum melihat Saka yang begitu semangat.


Setelah Saka masuk kedalam ruangan kemoterapi, Mami Sella mendatangi ruangan Ibrahim.


"Assalamualaikum, Dok." Salam Mami Sella.


"Wa'alaikumsalam, Bu. Silakan duduk, kebetulan bapak Revan juga sudah hadir." Perkataan Ibrahim membuat Mami Sella bingung.


"Iya, Dok. Terimakasih, Oia ada apa dokter menghadiri kami berdua. Ada ada sesuatu tentang Saka atau apalah itu?." Mami Sella curiga.


"Sabar dulu, Mi. Kamu duduk dulu, biar dokter menjelaskan nanti." Kata Papi Revan, ia menarik tangan Mami Sella.


"Iya, Pi." Mami Sella duduk di samping Papi Revan.


"Maaf sebelumnya, ternyata penyakit yang di derita Saka sudah stadium akhir...." Pembicaraan Ibrahim terhenti oleh Mami Sella.

__ADS_1


BBrraakk.


Mami Sella memukul meja.


"APA!!! Dokter jangan ngada-ngada dech." Mami Sella terkejut dan tidak percaya.


"Mami, dengarkan dulu penjelasan Dokter jangan asal potong aja." Papi Revan memegang tangan Mami Sella, lalu menatap tajam Mami Sella.


Mami Sella terdiam dan menunduk, ia sangat takut kepada Papi Revan. Tangannya di genggaman erat.


"Jadi saya teruskan atau tidak." Ibrahim berusaha menahan amarah.


"Lanjutkan, dok. Dan Mami diam saja, sampai Dokter Ibrahim menjelaskan sampai selesai."


"Iya, Pi."


"Sel-sel kanker yang di derita Saka sudah menyebar keseluruh tubuh, dan ini hasil pemeriksaan lanjutan. Tadi saya baru mendapatkan secara detail dari tim laboratorium." Ibrahim kembali menjelaskan, lalu memberikan sebuah amplop coklat agak besar.


Papi Revan mengambil dan membuka amplop coklat, ia nampak tidak mengerti dengan penjelasan di kertas putih dan satu berbentuk foto.


"Ya Allah, Pi. Lebih baik kita harus membawa Saka ke Singapore, tadi Saka sangat bersemangat untuk sembuh." Isak tangis Mami Sella.


"Iya, Mi. Kita akan membawa Saka ke rumah sakit yang di Singapore." Papi Revan mengelus punggung Mami Sella.


"Maaf, tapi kalau Saka di bawa ke sana akan memburuk keadaannya. Karena dia abis kemoterapi, akan membuat tubuhnya sangat lemah." Kata Ibrahim.


"Ini gara-gara dokter membuat anak saya tidak berdaya, ini malapraktik namanya. Saya akan tuntut rumah sakit ini, saya tidak terima anak saya di jadikan malapraktik oleh rumah sakit ini." Mami Sella naik pitam, ia sangat tidak terima Saka akan parah.


"Kalau mau tuntut silakan, saya sebagai dokter sekaligus pemilik rumah sakit tidak pernah namanya itu pasien di buat malapraktik apa yang ibu sampaikan. Sejak kemarin itu saya sabar menghadapi ibu, karena anda itu pernah menjadi bagian Kak Azzura. Ternyata apa yang di katakan Kak Azzura itu tidak benar, dulu yang katanya mertuanya sangat baik dan sopan atau apalah. Tapi tidak sama sekali." Ibrahim emosi.


"Emang kamu siapanya Azzura." Mami Sella meredahkan emosinya.


"Saya adiknya Kak Azzura yang sudah terpisah jauh." Ibrahim berbohong, ia ingin memberi pelajaran buat Mami Sella.

__ADS_1


"APA!!!." Mami Sella terkejut.


"Kalau anda tidak percaya lihatlah foto pernikahan Kak Azzura terpasang besar di dinding."


Mami Sella duduk lemas, melihat foto pernikahan Azzura dengan Azzam di sana juga ada Umi Siti Hawa mantan sahabatnya dulu. Disana juga ada Abi Ismail, Umi Aisyah, Alex dan Zahwa, tapi Mami Sella hanya melihat foto Umi Siti Hawa sedang merangkul Ibrahim selayak anaknya sendiri. Padahal anak dari Abi Ismail dan Umi Aisyah, merupakan adik dari Azzam.


Pas acara nikahan Azzura dan Azzam, Mami Sella dan Papi Revan datang pas Umi Siti, Abi Adam sudah pergi yang di antar oleh Ibrahim. Jadi Mami Sella dan Papi Revan tidak mengetahui sebenarnya.


"Ini tidak benarkan." Mami Sella dengan tatapan kosong.


"Ini emang benar mereka adalah keluarga ku." Ibrahim menegaskan.


Mami Sella sangat syok, kenyataan yang baru ia dengar dari Ibrahim. Padahal dalam hati Ibrahim, ia tertawa puas melihat Mami Sella yang sombong. Berubah lemas karena syok, jahat emang. Tapi ia sudah kesal dengan sifatnya Mami Sella, ia tidak peduli gimana dengan kesehatan Mami Sella nanti. Yang terpenting dia puas mengerjai Mami Sella.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan Komentarnya ya...


See you... 😘😘😘🤗🤗🤗


__ADS_2