Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#50


__ADS_3

Satpam di Mansion berbaik hati memesan taksi untuk Saka, karena Saka sudah lemas tidak berdaya. Pukulan yang di beri Qilla sangat keras.


Supir taksi membawa Saka ke rumah sakit, ia merasa kasihan kepada Saka yang penuh luka di wajahnya. Lalu Saka di tangani dokter.


"Anda keluarga pasien?." Tanya suster.


"Bukan sus, saya hanya supir taksi. Pas naik ke mobil saya, ia sudah babak belur seperti ini. Entah apa yang terjadi saya tidak tau, saya kasihan melihat dia merintih kesakitan." Jawab supir taksi.


"Ini harus ada yang di sis data-data pasien."


"Saya kurang paham, Sus. Lebih baik suster lihat di tasnya siapa tau ada data-data yang suster perlukan dan ini tadi ponselnya sempat terjatuh." Supir taksi memberi Suster ponsel dan tas milik Saka.


"Lebih baik hubungi keluarga pasien." Suster mencari kontak orang-orang terdekat Saka dan Suster menemukan no. Papi Revan, lalu menghubungi langsung Papi Revan. Untung ponsel Saka tidak pernah di kunci.


Papi Revan menerima telepon dari rumah sakit Saka di rawat, lalu ia mendatangi rumah sakit tersebut untuk menyakini apa yang di rawat itu Saka anaknya atau hanya penipuan. Yang biasanya terjadi. Papi Revan berangkat sendiri, ia tidak mau mengajak Mami Sella. Karena ada Alex, ia tidak mau meninggalkan Alex bersama baby sister atau Art.


Papi Revan telah tiba di rumah sakit.


"Maaf apa benar disini ada Pasien bernama Saka Ardiansyah?." Tanya Papi Revan di bagian resepsionis.


"Mohon tunggu sebentar, kami cek terlebih dahulu." Resepsionis mencari nama di komputer.


"Benar, pak. Beliau masih di dalam ruang UGD, beliau pasien baru masuk."

__ADS_1


"Baik, mba. Terimakasih." Papi Revan bergegas ke ruang UGD, di depan ruang tunggu UGD. Papi Revan melihat ada seorang bapak berkemeja biru yang menandakan ia supir taksi.


"Sus, maaf apa di dalam ada pasien bernama Saka Ardiansyah?." Papi Revan menanyakan kembali kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Iya, Pak. Di dalam ada pasien bernama Saka Ardiansyah, tapi beliau sedang di tangani. Maaf anda siapanya Pak Saka?." Suster ramah.


"Saya Papinya, Sus."


"Oh! Baik, Pak supir taksi ini tadi yang membawa pak Saka ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri." Suster memperkenalkan supir taksi.


"Terimakasih, pak sudah membawa anak saya ke rumah sakit. Sebagai imbalan ini ada sedikit rezeki buat anak istri bapak." Papi Revan memberikan 10 lembar uang berwarna merah.


"Ini kebanyakan, pak. Saya menolongnya dengan ikhlas." Supir taksi merasa tidak enak, ia mendorong tangan pelan Papi Revan.


"Tidak apa-apa, pak. Sebagi wujud rasa terimakasih bapak untuk anak saya, mohon di terima ya. Pak." Papi Revan memaksa supir taksi untuk menerima uang.


"Amiin Ya Robbal'alamin."


Beberapa menit kemudian, Papi Revan menunggu Saka di tangani. Akhirnya Dokter yang menangani Saka, keluar ia menjelaskan keadaan Saka.


"Alhamdulillah, anak anda tidak terjadi apa-apa. Hanya luka di wajahnya yang akan memerlukan pengobatan agak lama dan agak meninggalkan bekas sedikit, karena ada goresan di pipinya. Tapi tidak apa-apa nanti akan hilang, jika melakukan perawatan." Penjelasan Dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih. Dok." Papi Revan menjabat tangan Dokter.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Saya izin pamit pulang." Kata Pak Supir Taksi.


"Oia, baik. Pak, terimakasih ya atas kebaikan anda." Papi Revan juga menjabat tangan Pak Supir taksi.


"Iya, pak sama-sama."


Dokter dan Pak supir taksi sudah pergi, Papi Revan menghampiri Saka yang sedang berbaring lemas di bangkar.


"Ck, kau ini tidak kapok-kapoknya. Selalu saja bikin masalah, kali ini masalah apa. Hingga kau babak belur begini." Papi Revan masih tidak habis pikir dengan sikap Saka yang sering berbuat masalah.


"Sudah punya anak dan istri, tapi sifatnya seperti anak kecil. Kapan sih kamu dewasanya sih."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2