Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#33


__ADS_3

Sonya terbangun, karena merasa ada yang mencium keningnya.


"Sayang, kamu kembali." Suara serak Sonya baru bangun tidur.


"Iya, sayang. Aku kembali, karena sangat merindukan dirimu." Saka memeluk Sonya.


"Iya, Sayang. Aku juga sangat merindukan dirimu." Sonya membalas pelukkan Saka.


Sonya tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah, ia bergegas ke kamar mandi.


"Hoek... Hoek... Hoek..." Sonya muntah-muntah, yang keluar hanya air. Kemarin dia tidak sempat makan, entah dirinya melihat masakan terasa mual.


Saka mendengar Sonya muntah-muntah, lalu ia menghampiri Sonya di kamar mandi.


"Ya Ampun, Sayang. Kamu kenapa?." Saka khawatir, lalu memijat tengkuk leher Sonya.


"Aku ngga tau, Sayang. Kemarin aku ngga sempat makan, melihat makanan di meja. Aku langsung terasa mual-mual." Lirih Sonya, ia merasa lemas.


"Ya udah kita ke rumah sakit, ya. Aku ngga mau kamu kenapa-napa sayang." Saka menompang tubuh Sonya, agar tidak jatuh.


"Iya, Sayang."


Saka menggendong Sonya dengan gaya bridal style, berjalan menuju lift. Dulu waktu Azzura ia tidak perhatian, seperti apa yang ia lakukan saat ini. Melihat Sonya sakit, ia merasa khawatir sekali.


Lift turun di lantai basement yang langsung menuju pakiran mobil.


"Sayang, aku sudah ngga kuat. Mata ku berkunang-kunang." Setelah berbicara Sonya tidak sadarkan diri.


"Eh! Sayang bangun, jangan membuatku khawatir." Saka menggoyangkan tubuh Sonya, tapi Sonya tidak ada respon.


"Pak, antarkan saya membawa Nyonya ke rumah sakit." Teriak Saka, ia panik. Sonya tidak merespon panggilan.


"Baik, Tuan." Pak Supir membukakan pintu. Kebetulan Pak Supir sedang membersihkan mobil.


Mereka berangkat menuju rumah sakit terdekat, sesampainya di rumah sakit. Saka teriak-teriak memanggil Dokter dan Suster.


"Dokter... Suster... Tolong istri saya."


Petugas dan Suster datang, lalu membawa Sonya ke ruang UGD. Saka mengikuti dari belakang.


"Sayang, ku mohon bertahan. Demi aku, aku ngga mau kehilangan mu." Saka Sedih.


Sonya sedang di periksa, Saka mondar-mandir di depan ruang periksa. Ia sambil berdoa.


Kemudian pintu ruangan terbuka, Dokter keluar.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?." Saka menghampiri Dokter.


"Istri anda kekurangan cairan, dan saya belum bisa memastikan sepertinya istri anda sedang mengandung. Tapi lebih jelasnya nanti bisa ke dokter Obgyn." Penjelasan Dokter.


"Apa!!! Hamil, kok bisa dokter. Padahal selama ini dia menggunakan KB." Saka nampak terkejut.


"Untuk itu nanti anda bisa bertanya dengan dokter Obgyn, maaf saya harus menangani pasien lain." Dokter pamit undur, Saka masih bengong. Ia tidak percaya Sonya hamil, entah dia mau senang atau kecewa. Saka bingung untuk mengekspresikan wajahnya.


"Ngga mungkin secepat ini Sonya hamil, apa yang harus kami lakukan. Aku bingung."


Seharusnya Saka itu menerima kehamilan Sonya dengan bahagia, ini malah terlihat seperti orang bodoh. Mau menerima sih calon anak atau tidak, Saka seharusnya lebih bersyukur. Karena masih di percayakan lagi sama Allah memiliki anak, di luar sana banyak yang susah untuk memiliki anak.


Dua insan ini sangat ajaib, mereka tidak mau memiliki anak. Karena mereka tidak mau mengurusnya, bagi mereka memiliki anak merupakan bencana. Kerena ketenangan hidupnya akan terganggu, emang gila mereka. Tidak pernah bersyukur apa yang Allah berikan.


Saka menatap Sonya yang sedang berbaring lemah di bangkar, Saka mendekati Sonya. Ia mengelus tangan Sonya.


"Apa benar kamu hamil lagi, Sayang." Gumam pelan Saka.


Sonya membuka mata, ia melihat sekeliling dan menebaknya pasti dirinya sudah sampai di rumah sakit.


"Sa-sayang." Lirih Sonya.


"Iya, Sayang." Saka mendekati Sonya.


"Aku haus."


"Aku kenapa, Sayang?." Kata Sonya, setelah ia meneguk air di dalam botol.


"Kamu kekurangan cairan dan kemungkinan kamu ha-hamil." Kata Saka menatap Sonya senduh.


"Apa!!! ha-hamil?Ngga mungkin, aku kan KB." Sonya tidak percaya.


"Itu baru kemungkinan, sayang. Kita harus dokter Obgyn." Saka mengelus rambut Sonya.


"OMG, aku baru ingat. Aku sudah telat, sebelum berangkat ke Paris itu haid terakhir ku. Bagaimana bisa padahalkan aku menggunakan Kb." Kata Sonya dalam hati.


Sonya sudah agak mendingan, karena mereka penasaran apa Sonya hamil atau tidak. Mereka ke dokter Obgyn, untuk memastikannya. Saat ini mereka sudah di dokter Obgyn, Sonya tengah berbaring di bangkar. Lalu Dokter Obgyn memberikan jel di perut Sonya.


"Lihatlah, Tuan dan Nyonya. Ini calon anak sudah hadir, selamat ya. Usianya sudah 5 minggu." Kata Sang dokter. Sonya dan Saka saling menatap.


"Tapi dokter bagaimana mungkin istri saya bisa hamil, istri saya rutin minum pil KB setiap ingin berhubungan." Kata Saka.


"Ada kemungkinan istri anda lupa meminum pil KB." Dokter cantik itu tersenyum, ia melihat sepasang suami istri ini tidak menyukai kehamilan. Tapi Sih Dokter tidak mau kepo dengan kehidupan orang lain.


"Ini saya akan meresepkan vitamin, obat mual dan penguat janin. Di minum sesuai aturan yang saya tulis." Dokter cantik memberikan resep kepada Saka.

__ADS_1


"Baik, Dok." Saka dan Sonya undur diri.


Setelah mengambil resep, Saka dan Sonya tidak berbicara. Tanpa mereka sadari, mereka sudah tiba di Mansion milik Sonya.


Di dalam kamar, Sonya di interogasi seperti maling ketahuan mencuri.


"Bagaimana ini bisa terjadi?aku sudah suruh kamu minum itu Pil, kalau begini jadinya bagaimana." Saka menarik rambutnya dengan kasar.


"A-aku rutin minumnya Sayang." Sonya menunduk sedih.


"Seharusnya aku yang sedih, di sini nanti aku yang mengandung dan melahirkan. Apalagi perut ku sampai di belah lagi, aku ngga mau. Kita gugurkan aja anak ini." Sonya meneteskan air mata.


"Kamu jangan gila, walau bagaimanapun dia itu anak kita darah daging kita."


"Ya, tapi aku ngga mau lagi mengandung dan melahirkan. Kamu memang ngga pernah merasakan menjadi aku, setiap malam aku ngga bisa tidur dan perut habis operasi itu terasa sakit sekali. Hiks... Hiks... Hiks... Aku ngga mau mengulang lagi, itu sangat menyakitkan."


Saka duduk di sampai Sonya, lalu memeluk Sonya.


"Maaf, bukan maksud ku begitu. Aku melihat mu sakit aja, seakan dunia ku seakan berhenti sejenak. Kamu yang sabar, ya. Mau bagaimana lagi, kamu harus tetap melahirkan anak ini. Tenang aku selalu mendampingi mu."


Sonya masih menangis, ia masih membayangkan waktu ia mengandung Alex. Hingga melahirkan Alex yang perutnya di belah, itu membuat Sonya trauma.


"A-aku takut, sayang." Tubuh Sonya gemetar.


"Lihat aku, kamu harus tenang. Aku ngga akan meninggalkan mu." Saka memegang kedua pipi Sonya, ia meyakinkan Sonya.


"Benar, kamu ngga akan meninggalkan aku." Sonya menatap Saka.


"Benar, sayang. Karena aku sangat mencintai mu." Saka mencium kening Sonya.


"Aku juga sangat mencintai mu." Sonya memeluk Saka.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, Vote dan komentarnya ya...

__ADS_1


See you... 😘😘😘😘🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2