
Saka melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, ia pulang. Tapi ia pulang tidak ke Mansion milik Sonya ataupun ke Mansion milik kedua orangtuanya, tapi ke rumah yang dulu ia dan Azzura tempati.
Saka memasuki kamar, lalu ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Bayangan waktu pertama kali menempati kamar, sewaktu masih menjadi pengantin baru dan kegiatan lain di kamar. Maupun romatis ataupun Saka berbuat kasar kepada Azzura, seakan waktu berputar kembali. Saka melihat dulu betapa kejamnya ia terhadap Azzura, tiba-tiba air mata menetes di pipi.
"Sayang, Maafkan Mas. Hiks... Hiks... Hiks... Mas sangat bersalah, Mas begitu kejam sama kamu. Aku mohon kembali lah, aku janji akan memulainya dari awal lagi yang ngga ada orang ketiga. Aku sangat merindukan mu, sayang." Saka menyesali perbuatannya, tapi penyesalan dia tidak ada gunanya lagi. Karena saat ini mereka sudah resmi bercerai. Hanya tinggal Sonya memberikan Akte cerai dari pengadilan, akte cerai sudah di kirim melalui anak buah Azzam dan sudah terima oleh Asistennya Sonya.
Keesokan harinya Saka terbangun, ia langsung bergegas membersihkan diri. Karena ia sudah janji dengan Sonya.
"Apa Bi Tukiyem sudah pergi ya?Kok terasa sepi." Saka celingak-celinguk mencari keberadaan Bi Tukiyem, Saka sudah rapi dan ia sedang menuruni tangga.
"Ah! Biarin Bibi udah pergi, aku juga harus pergi sebelum Sonya menghubungi aku lagi." Saka bergegas menuju ke Mansion Sonya.
Saka mengendarai mobilnya sangat kencang, kebetulan jalan masih sepi. Karena masih pukul 5 Subuh, tidak memerlukan waktu lama. Ia sudah tiba di Mansion milik Sonya.
Saka langsung menaiki tangga dan menuju kamarnya.
cklek
Pintu kamar di buka, Saka melihat istrinya sedang tidur pulas. Lalu menghampiri Sonya.
Cup
Saka mencium kening Sonya, lalu merapihkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Sonya memang cantik, tapi lebih cantik Azzura. Sebenarnya Azzura itu cantiknya alami, sedangkan Sonya perlu polesan make up. Sonya memang baik, tapi kebaikannya ngga tulus. Beda dengan Azzura, ia sangat baik dan tulus. Aku sebenarnya menyesal dengan pilihan ku, yang memilih Sonya. Aarrgghhh, aku jadi bingung. Bila aku berpisah dengan Sonya, saham yang baru saja Sonya berikan akan di cabut. Dan fasilitas yang ia miliki akan di cabut juga, ngga mungkin aku harus mengemis untuk kembali kepada Papi dan Mami. Itu ngga akan mungkin aku lakukan, aku harus tetap bersama Sonya. Untuk urusan Azzura semoga ia mau di madu." Kata Saka dalam hati.
Saka memang laki-laki pecundang dan tidak ada pendirian, selalu berubah-ubah. Untung saja Azzura cepat menceraikan Saka, cuma Sonya yang betah dengan laki-laki seperti Saka. Betah karena Saka memberikan kepuasan, dua orang itu sangat cocok. Karena saling menguntungkan dalam kehidupan mereka masing-masing.
Di Sisi lain
Papi Revan menjemput Alex, tapi Alex tidak mau. Ia mau bersama Azzura dan Azzam. Sudah berbagai cara dan rayuan Papi Revan lakukan, tetap Alex tidak mau.
"Alex tidak mau, Alex maunya bersama Mama Azzura dan Papa Azzam." Rengek Alex.
"Tapi, Nak. Tidak enak merepotkan mereka terus." Papi Revan berusaha memberikan pengertian.
"Maaf Pak Revan, biarkan saja Alex bersama Kami dan menjadi anak kami." Azzam mengelus punggung Alex.
"Apakah tidak merepotkan?." Papi Revan merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak, Kok. Pi, malah Azzura ada temannya dan juga Azzura sangat terobati adanya Alex. Azzura melupakan anak yang sudah tiada." Azzura tersenyum.
"Hufh, baiklah. Nanti bila Alex mau pulang hubungi Papi ya."
"Tidak akan Opa, Alex tidak mau pulang. Apa lagi bersama Daddy dan Mommy." Alex sedih.
"Itu tidak akan, sayang. Opa tidak akan memberikan kamu kepada mereka, walau mereka itu orangtua kandung mu."
"Azzura, Azzam. Papi pamit, tolong jaga Alex baik-baik. Nanti kalau Alex sudah bosan sama kalian, cepat hubungi Papi."
"Iya, Pi."
Papi Revan telah pergi.
"Sayang, kamu tidak boleh membenci kedua orangtua mu. Walau mereka itu jahat sama kamu, tapi di dalam diri mu ada darah yang mengalir dari kedua orangtua mu." Azzura mengelus rambut Alex.
"No, Ma. Alex sangat membenci mereka." Alex cemberut.
"Sudahlah, Ra. Dia itu masih trauma, apa yang sudah mereka lakukan. Sebaiknya nanti kita ke psikiater anak, semoga Alex bisa berubah dan melupakan kekejaman orangtuanya."
"Iya, Mas. Kita akan perlahan-lahan membujuknya, aku tidak mau Alex menanam kebencian di dalam dirinya."
Umi Aisyah dan Abi Ismail masih di pesantren, begitu juga dengan sih pengantin baru Ibrahim dan Zahwa.
"Sshh... Gara-gara kakak, aku jadi susah berjalan. Ternyata berhubungan intim itu sakit banget." Gumam Zahwa yang masih di dengar Ibrahim.
"Hehehe... Maaf ya, sayang. Abis kamu sangat enak, kalau kita sering melakukan tidak akan sakit. Malah yang ada kenikmatan." Ibrahim memeluk Zahwa dari belakang.
"Ish! Kakak kenapa jadi mesum kaya gini sih."
"Mesum sama istri sendiri juga."
"Aku malu kalau keluar jalan kaya gini, kak."
"Ya udah kita di kamar aja."
"Tidak mau yang ada Kakak malah menerkam aku lagi, ini aku masih sakit sekali. Apalagi milik kakak itu besar sekali, seperti singkong yang sudah siap panen."
"Hahaha... Kamu bisa saja, sayang. Jadi aku laki-laki tangguh dong."
__ADS_1
"Ish! kamu kak, ini bagaimana aku bisa keluar. Jangan malah terus meledak ku."
"Ya udah kami di kamar aja, nanti aku kasih tau semua orang kalau kamu sedang tidak enak badan. Jadi kalau membutuhkan sesuatu nanti kamu kasih tau Kakak aj ya."
"Iya, kak."
Ibrahim keluar kamar, ia memberitahu Umi Aisyah kalau Zahwa sedang sakit. Umi Aisyah malah menarik telinga Ibrahim.
"Ini pasti gara-gara ular mu yang susah di kompromi, membuat menantu Umi Sakit." Umi Aisyah sangat kesal.
"Maaf Umi, abis enak sih. Aku menyesal kenapa baru sekarang menikah, kenapa tidak dari dulu." Ibrahim bukan merasa bersalah, tapi ia malah membayangkan pergumulan panasnya dengan Zahwa.
"Ya Allah, kamu ini memang anak tidak tau malu berbicara seperti itu di depan Umi."
"Lah! emang enak kan Umi, buktinya aja Umi dan Abi melakukan sampai aku dan Abang hadir."
"Kamu jangan berbicara mesum seperti itu."
"Ada apa sih ribut-ribut." Abi Ismail yang baru datang.
"Ini loh, Bi. Menantu Umi Sakit gara-gara sih ular nakal milik Ibrahim." Kata Umi Aisyah.
"Sudah-sudah Umi, jangan ribut-ribut. Lagian ya kamu tidak pernah merasakan ular nakal."
"Ya Allah, kenapa anak dan ayahnya sangat menyebalkan." Umi Aisyah langsung ke kamar Ibrahim dan Zahwa. Ia melihat Zahwa sedang tiduran sambil memainkan ponselnya.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, Vote dan komentarnya ya...
__ADS_1
See you... 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘