Ketika Di Sakiti

Ketika Di Sakiti
#34


__ADS_3

Tidak terasa sudah 3 bulan, masa iddah Azzura telah selesai.


"Azzura sudah selesai masa Iddah, aku akan bikin lamaran yang paling romantis dan tidak akan pernah di lupakan." Kata Azzam dalam hati, ia tersenyum membayangkan dirinya tengah melamar Azzura.


"Bos... Bos... Ck, Azzam Mahendra Bin Ismail Mahendra!!!." Andy memanggil Azzam, tapi Azzam malah tengah asyik melamun. Lalu ia berteriak.


"Ish! kau ini." Azzam melempar kotak tisue ke arah Andy.


"Lagian ya, gue itu beberapa kali panggil loe. Tapi loe malah asyik melamun." Andy sewot.


"Lah! mang ada yang ngelarang orang melamun, hah." Azzam tak kalah sewot.


"Iya, juga sih. Tapi gue kan mau kasih kabar penting untuk kehidupan loe nanti."


"Kabar apaan emangnya?."


"Duh! Bos, masa loe lupa. Tadi kan loe nyuruh gue untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk lamaran loe sama neng Azzura." Andy menepuk keningnya, bos sekaligus sahabatnya memang ajaib sifatnya.


"Hehehe... Gue lupa, gimana-gimana udah kelar dan sangat memuaskan tidak?." Azzam cengengesan, merasa tidak bersalah.


"Ck, jelas dong. Andy gitu, tinggal set-set cepat selesai. Malah ini di luar ekspektasi kita bos, ini lebih menakjubkan. Pasti Neng Azzura bakalan terima lamaran loe bos, gue pasti yakin. Gue aja kalau jadi cewek aja kesesem melihat derkor tempat lamarannya bos."


"Masa, kamu suruh Dina. Untuk temanin Azzura ke butik dan ke salon, gue mau yang terbaik untuk harus hari ini."


"Siap bos, kalau begitu gue pamit undur diri." Andy pergi, Azzam membayangkan dirinya melamar Azzura.


Andy menghampiri Dina di ruangan.


"Din, loe ada tugas dari bos." Kata Andy main masuk aja, tanpa mengetuk pintu.


"Ck, kebiasaan loe. Kalau mau masuk itu ketuk pintu kenapa." Dina kesal, Andy selalu masuk ke ruangan Dina tanpa mengetuk pintu.


"Halah, loe kan bukan sih bos."


"Tapi setidaknya loe itu sopan dikit."


"Itu tidak penting, tugas loe sekarang enak hari ini. Tidak ada hubungannya kertas-kertas di atas meja..." Pembicaraan Andy di potong sama Dina.


"Enak gimana? maksudnya ngapain sih, jadi penasaran gue."


"Makanya gue ngomong itu dengerin dulu."


"Hehehe... Sory, lanjutkan."


"Ck, kebiasaan loe itu kaya gini yang suka memotong pembicaraan orang."


"Iya, sory ya. Andy ganteng." Dina mengedipkan matanya.


"Apaan sih loe, tugas loe itu temanin Azzura belanja ke butik dan Ke salon. Enakan?."


"Yang, benar bos?."


"Benarlah ngapain juga gue harus bohong, cepat sana pergi. Sebelum gue berubah pikiran. Tapi ingat jangan bilang ini dari bos, loe tau kan hari ini Abang sepupu loe mau melamar Azzura"

__ADS_1


"Iya, Gue tau. Baiklah, gue meluncur." Dina buru-buru merapihkan barangnya, lalu ia pun menjejeng tasnya. Tapi langkahnya terhenti, ia baru mengingat sesuatu yang paling penting.


"Kalau belanja dan ke salon, itu pakai duit siapa?." Dina membalikkan tubuhnya.


"Makanya jangan langsung pergi aja, ini atm nanti loe kasih ke Neng Azzura." Andy menyerahkan kartu Atm ke Dina.


"Nah, kalau gini kan gue kagak rugi. Ya udah gue pergi dulu, ya. Jangan kangen sama gue y, see you." Dina tanpa sadar mencium pipi Andy, lalu pergi dengan senang. Sedangkan Andy terbengong.


"Tadi itu apa?." Andy memegang pipinya yang abis di cium Dina.


Dina sebenarnya sudah lama mencintai Andy dan sudah sering kali Dina mengungkapkan perasaannya kepada Andy, tapi Andy tidak menanggapinya. Dina merupakan saudara sepupu Azzam, hanya sifatnya beda jauh dengan Azzam dan keluarganya yang agamis. Dina lebih bebas kehidupannya.


Andy tidak menerima Dina lantaran, belum bisa melupakan mantan yang sudah lebih dulu di Panggil Allah.


Dina sangat senang mendapatkan tugas dari Azzam, ia sudah sampai di rumah Azzura.


"Assalamualaikum, kak." Dina memberi Salam.


"Wa'alaikumsalam. Masuk sini dek." Kata Azzura.


"Kak, to the point aja. Anterin aku ke butik yuk, aku ingin berdandan kaya kakak."


"Alhamdulillah, ya udah Kakak mau ganti baju dulu." Azzura ke lantai atas.


"Eh! tante Dina mau kemana sama mama?." Tanya Alex yang baru datang.


"Eh! Ada anak ganteng, tante mau ngajak mama Azzura jalan-jalan." Dina mensejajarkan dengan tinggi Alex.


"Alex tidak di ajak, tan?." Alex sedih.


"Mau banget tante." Alex bersemangat.


"Bagus, kalau begitu. Nanti bila Mama ngajak kamu, Alex nolak ya. Bilang aja kamu mau belajar, nanti Tante akan beli Alex mainan."


"Benar, tante?."


"Iya, dong."


"Baik, kalau gitu beliin Alex mainan motor racing yang bisa Alex naikin."


"Emang kamu bisa?Bukannya tante ngga mau, takut kamu malah terluka."


"Tenang Tante aku akan minta berlatih sama Papa Azzam atau Om Andy."


"Terserah dirimu saja, Sstt... Mama kamu sudah turun, ingat pesan Tante."


"Siap tante."


"Alex, mama mau menemani tante Dina pergi. Kamu mau ikut tidak?." Azzura sudah di lantai bawah.


"Tidak, mah. Alex mau belajar, Alex ada tugas ngaji dari pak ustadz." Azzura memasuki Alex ke TPA di masjid dekat rumah, agar Alex tidak lupa dengan pelajaran yang selama di pesantren.


"Rajinnya anak mama, ya udah. Mama akan pergi, kamu sama Bibi dulu ya. Ingat jangan nakal."

__ADS_1


"Iya, Mah. Ya udah hati-hati di jalan, ya Mah. Tante Dina tolong jaga Mamanya Alex, ya."


"Ish! Sok dewasa kali kau ini, makin ke sini kamu malah agak mirip sama seperti Bang Azzam."


"Ya jelaslah, aku anaknya papa Azzam." Alex langsung menuju kamarnya.


"Ya Ampun, Benar-benar tuh anak malah mirip sama bang Azzam."


"Iya, karena Bang Azzam dengan tulus menyayangi Alex."


"Benar, kak. Ya udah kita go." Dina penuh semangat.


Mereka menuju ke butik terlebih dahulu


Beberapa menit kemudian meraka sudah tiba ke butik milik Umi Aisyah.


"Yuk, kak. Turun." Dina melepas seltbelt, di susul Azzura. Lalu mereka turun.


Dina menggandeng tangan Azzura, ia sangat manja kepada Azzura. Karena ia tidak memiliki kakak perempuan.


Setelah masuk kedalam butik, Dina dan Azzura dengan serius memilih pakaian. Malah Dina sudah memilih 20 pakaian gamis yang sangat cocok dengan Azzura.


"Ini, Kak. Ini sangat cocok sama Kakak." Dina menyerahkan 20 gamis ke Azzura.


"Masya Allah, Dina banyak banget. Buat kamu?." Azzura kebingungan.


"Ngga lah ini buat Kakak, dan yang ini buat hari ini. Langsung di pakai aja, Kak."


"Ya Allah, buat apa, Din?Memang ada acara?."


"Iya, maaf ya kak. Ini teman ku sedang merayakan ulangtahun, jadi kakak temani aku ya."


"Tapi Alex kasihan sendirian."


"Tenang, Kak. Kalau Alex kan sudah ada Umi Aisyah, tadi siang Umi Aisyah baru tiba ke rumah Kakak. Jadi mau kan nemanin aku, Kak. Please."


"Hm, baiklah, tapi nanti jangan lama-lama ya. Aku tidak enak tinggalin Alex lama-lama."


"Iya, Kakak ku cantik..."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya Up date nya agak lama soalnya uwa dari suami meninggal...🙏🙏🙏🙏


__ADS_2