
Sonya dan Saka kembali ke Indonesia.
"Akhirnya kembali juga ke tanah air, aku harus bertemu dengan Azzura." Kata Saka dalam hati, ia ingin segera bertemu Azzura.
"Senangnya aku menjadi istri satu-satunya Saka." Kata Sonya dalam hati, mereka dalam pemikiran masing-masing.
Mereka sudah tiba di bandara.
"Sayang, aku ada urusan sebentar. Kamu pulang saja dulu." Saka mengelus rambut Sonya.
"Tapi sayang..." Ketika Sonya ingin bicara, di potong Saka.
"Cuma sebentar, aku mau nengokin Papi dan Mami. Sudah lama aku ngga kesana."
"Ya udah, kamu jangan lama-lama ya."
"Iya, sayang."
Saka mencium kening Sonya, lalu pindah ke taxi di belakang. Setelah melihat taxi yang di tumpangi Sonya pergi.
"Pak, tolong ke alamat ini ya." Saka menyondorkan selembar kertas berisi alamat.
"Baik, Pak." Kata sang supir, lalu melajukan.
"Azzura tunggu aku sayang." Kata Saka dalam hati, ia tampak senang.
Tak lama kemudian, Saka tiba dimana dulu menjadi rumah dia dan Azzura. Rumah yang penuh kenangan. Saka menunduk sedih, ketika ia berlaku kasar kepada Azzura.
Pintu gerbang di buka Satpam,
"Apa kabar Den Saka?." Sapa Satpam.
"Baik, Pak. Apakah ibu ada?." Saka turun dari taxi.
"Hmm..." Satpam bingung mau jawab apa, Saka langsung masuk kedalam rumah.
"Azzura..." Panggil Saka.
"Azzura, sayang. Ini Mas udah pulang." Teriak Saka, lalu ia menaiki tangga. Di pikirnya Azzura ada di dalam kamar.
Pintu kamar, Saka buka dan dia terus memanggil Azzura.
"Kemana perginya? Di kamar dan kamar mandi ngga ada, Oia mungkin di dapur atau di belakang. Biasanya Azzura suka masak dan bercocok tanam." Saka bergegas ke dapur, tapi Azzura tidak ada. Lalu ke belakang rumah, tapi tidak ada. Bibi Tukiyem yang baru datang abis belanja, ia kaget kedatangan majikannya.
__ADS_1
"Den Saka." Bibi Tukiyem membelalakkan matanya, lalu ia meletakkan barang belanjaan di meja makan.
"Bi, Azzura kemana?." Saka menghampiri Bi Tukiyem.
"Non... Non Azzura." Bi Tukiyem menunduk, ia bingung harus jawab apa. Takut Saka akan marah.
"Bibi kenapa?Azzura istri ku kemana? aku sudah cari seluruh ruangan, tapi aku ngga menemukan Azzura. Jawab Bi, Azzura kemana?." Saka memegang bahu Bi Tukiyem, tubuh Bi Tukiyem menjadi gemetar.
"Bi, ada apa sebenarnya?Kenapa Bibi sampai gemetar seperti ini."
"Maaf, Den. Bibi ngga tau Non Azzura dimana?." Bi Tukiyem menunduk, Saka menatap tajam Bi Tukiyem.
"Kenapa bisa ngga tau?Bibi ini gimana sih." Saka emosi, ia mendorong pelan Bi Tukiyem.
"Maaf Den, setau Bibi Non Azzura kan di rawat di rumah sakit." Bi Tukiyem berbohong.
"Sial!!." Saka mengusap wajahnya dengan kasar, ia lupa kalau Bi Tukiyem ngga tau kalau Azzura sudah pulang.
"Harusnya Bibi ngga mengecek lagi kerumah sakit, mang Bibi ngga pernah menjenguk Azzura."
"Maaf Den, kalau itu Bibi sibuk ngurusin rumah. Belum sempat menjenguk Non Azzura, apa Aden ngga periksa aja ke panti. Siapa tau Non Azzura disana." Bi Tukiyem memberi saran.
"Bibi benar, kalau begitu aku langsung kesana. Kalau Azzura sudah kembali tolong kasih tau aku ya, Bi."
"Iya, Den. Maaf Den, anak Bibi yang di kampung mau menikah. Jadi Bibi mau ambil cuti, hingga acara di sana selesai. Soalnya di sana masih menggunakan adat, untuk pernikahan jadi memerlukan waktu lama." Bi Tukiyem masih berbohong, ia ingin mengunjungi Azzura.
"Terimakasih, Den. Itu sangat banyak sekali."
"Ngga apa-apa, ya udah aku mau ke panti. Kabari aku kalau Bibi ketemu Azzura."
"Iya, Den."
Saka sudah pergi, Bi Tukiyem bernapas lega. Ia begitu banyak berbohong kepada Saka.
"Lebih baik aku harus segera pergi, dari pada nanti Den Saka kembali. Aku bingung harus menjawab apa, lagian aku sudah ngga betah di sini. Ngga ada Non Azzura." Bi Tukiyem bergegas mengemas pakaiannya.
Saka membawa mobil yang dulu pertama kali ia beli bersama Azzura, mobil yang sangat tua. Mobil ini sangat bersejarah, dimana mobil ini menjadi saksi perjuangan dia dengan Azzura mencapai kesuksesan. Tapi karena kebodohannya ia mencampakkan Azzura dan mobil ini pun dilupakan.
"Azzura sayang, tunggu mas." Saka semangat, lalu melajukan mobil ke panti. Tiba-tiba ponselnya berdering, Saka meminggirkan mobilnya.
"Iya, Sayang." Kata Saka.
"Sayang, kamu dimana?Katanya cuma sebentar." Sonya agak marah.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Mami sedang sakit, jadi aku harus menemani. Soalnya Papi sedang keluar kota, malam ini aja aku akan bermalam di rumah Mami. Ya, Sayang. Besok kita belanja, soalnya ada tas keluaran baru." Saka merayu Sonya.
"Baiklah, aku akan menunggu mu besok. Kalau besok kamu ngga menepati janji aku akan marah sama kamu."
"Iya, Sayang. I Love you."
"I Love you too."
Panggil telepon terputus, Saka menyenderkan kepalanya di bangku.
"Maafkan aku, sayang. Aku telah berbohong, aku terpaksa. Aku harus menemui Azzura." Saka menyalakan mobilnya, lalu melajukan mobilnya.
Sudah 2 jam perjalanan, ia tempuh. Panti yang dulu Azzura tempati sangat jauh dari pemukiman.
Tibalah Saka di panti dimana Azzura dulu tinggal, kenangan kembali berputar dimana ia dan Azzura sering belajar di pohon rindang. Sambil menikmati makanan dan minuman yang di berikan Bunda Anna.
"Saka." Panggil Bunda Anna.
"Bunda." Saka mencium punggung tangan Bunda Anna.
"Kamu kesini sendirian?Azzura dimana?." Bunda Anna menoleh ke mobil.
"Jadi Azzura ngga kesini bunda?." Saka terkejut.
"Tidak, Nak. Emang apa yang terjadi?Apakah kalian sedang bertengkar?."
"Ah! Iya Bunda hanya salah paham aja." Saka menggaruk lehernya yang tidak gatel.
Bunda Anna tersenyum.
"Begini, Nak. Di dalam rumah tangga itu pasti ada pertengkaran, itu merupakan bumbu indah di dalam rumah tangga. Tapi di usahakan jangan sampai terlalu larut, Bunda hanya berpesan bila Nak Saka sudah tidak mencintai Azzura dan Azzura mempunyai salah, Nak Saka bisa mengembalikan ke kami dan tegurlah dia jangan ada kekerasan. Karena kami merawat Azzura dari masih bayi dengan penuh kasih sayang." Kata Bunda Anna.
"Iya, Bunda. Saka sangat mencintai Azzura dan ngga akan pernah menyakiti Azzura."
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ayo, Nak. Kita di dalam saja. Mungkin Azzura masih berpikir seperti anak kecil, nanti Bunda akan menasehati Azzura."
"Iya, Bunda. Maafkan Saka telah merepotkan bunda."
"Tidak apa-apa, Nak."
Tidak terasa hari sudah sore, Saka malah masih asik bermain dengan anak-anak panti.
"Ah! seandainya aku ngga bodoh, mungkin saat ini aku dan Azzura telah bahagia menyambut kehamilan Azzura. Aku sangat menyesal." Kata Saka dalam hati.
__ADS_1
Penyesalan itu datangnya belakang dan waktu tidak bisa berputar, makanya gunakan waktu dan masa sebaik-baiknya.
🤣🤣🤣🤣 Kagak nyambung...