
Keyra menghela nafas lega.
"Makasih, Sarah," kata Keyra lirih
"Sekarang kalian sudah jelas kan?" kata Bagas
"Maaf. Karena Keyra dulu pernah mengalami...." kata Kevin
"Stop!!" potong Keyra
"Aku ingin pulang," kata Keyra akhirnya.
Kevin segera membawa Keyra keluar dari rumah Reyo.
"Mbak, ini pakaian dan sepatunya mbak Keyra," tiba-tiba pembantu Reyo menghampiri Tania dan menyerahkan barang-barang Keyra.
"Oh makasih, Bi."
Pembantu itu langsung meninggalkan mereka.
"Aku percaya kalian bisa menjaga Keyra dengan baik. Makasih," kata Tania yang masih berdiri di tempatnya.
"Kamu pulang sama mereka berdua, Tan?" tanya Sarah
"Iya Sarah. Aku ingin berada di dekat Keyra saat ini."
"Kapan-kapan kita ngobrol ya. Udah lama kita nggak ketemu."
"Pasti Sarah. Aku permisi ya."
"Hati-hati," kata Nico
Di malam hari yang begitu dingin di kediaman Deru Domaja. Setelah seharian bekerja di kedai teh, Deru melepas penat di ruang tengah sambil menonton tv.
Keyra pun menghampirinya.
"Ayah capek ya?" tanya Keyra sambil memijat pundak Deru.
"Kalo ayah sih sudah terbiasa, Key. Kamu pasti yang capek ya karena seharian tadi kamu bantu ayah."
"Nggak kok yah. Keyra nggak capek. Em.. Keyra boleh tanya yah?" Keyra duduk di samping Deru.
"Tanya apa?"
"Kenapa ayah begitu percaya sama Reyo dan teman-temannya?"
"Pasti kamu lagi ngomongin kemarin ya. Ayah percaya mereka bisa menjagamu dengan baik.
Nggak mungkin mereka menjerumuskan mu."
"Ayah nggak takut apabila sesuatu terjadi pada Keyra?"
"Kamu jangan selalu berpikir negatif, Key. Buktinya sampai sekarang kamu baik-baik saja kan. Berarti mereka semua itu sayang sama kamu dan mereka bisa menjagamu. Tolong, lupakan yang sudah berlalu."
Keyra memeluk erat ayahnya dan menitikkan air mata.
"Keyra begitu takut yah. Keyra takut."
"Sayang, teman-temanmu di sini banyak yang menyayangimu. Mereka sangat baik. Mereka semua selalu ada untuk menjaga dan mengawasimu. Kamu nggak perlu terlalu khawatir. Percaya sama ayah ya. Sekarang kamu tidur. Sudah malam, kamu pasti kecapean," Deru mencium kening Keyra
Keyra pun masuk ke kamarnya.
'Ayah benar. Mereka memang sangat baik sama Keyra. Dan mereka nggak mungkin nyakiti Keyra. Lagian mereka sudah berjanji sama kakek, untuk menemani dan menjagaku. Mereka nggak mungkin mengingkari itu' pikir Keyra.
Keyra pun terlelap dalam gelapnya malam.
__ADS_1
...❤...
Minggu pagi yang begitu cerah, Keyra meminta pak Anjar mengantarkannya pergi ke rumah Reyo.
"Mbak Keyra pacaran ya sama mas Reyo," goda pak Anjar dalam perjalanan.
"Apaan sih, pak. . Pak Anjar tu sok tau ya."
"Cocok kok mbak. Mbak Keyra cantik, mas Reyo ganteng."
"Handsome darimana. Dia itu selalu kasar sama aku. Kita aja selalu tengkar," kata Keyra sedikit sebal
"Lama-lama juga suka, mbak.”
"Pak Anjar sekarang mending nyetir aja deh. Nggak usah ngomongin dia lagi di depanku," Keyra geram
"Iya mbak. Maaf."
"Ditinggal aja, Pak," kata Keyra setelah sampai di rumah Reyo.
"Nanti pulangnya gimana mbak?"
"Itu gampang. Pak Anjar hati-hati ya," Keyra tersenyum
Setelah pak Anjar berlalu, Keyra mengetuk pintu rumah Reyo. Pintu pun terbuka. Pembantu Reyo tersenyum pada Keyra.
"Reyo ada, Bi?"
"Ada mbak. Silahkan masuk."
Keyra menyusuri rumah yang begitu besar dan tertata rapi. Ya, rumah yang tak begitu asing lagi buat Keyra karena kemarin malam dia menginap di sana. Gara-gara pergi ke diskotik dan akhirnya menginap di rumah itu dan membuat Keyra salah paham.
"Silahkan ke belakang mbak. Den Reyo lagi berenang."
Keyra pun menuju kolam renang yang berada di belakang rumah.
'Wow, bening sekali kolam renang ini. Besar lagi' pikir Keyra.
Keyra berdiri dan memandang Reyo yang tengah berenang. Lincah sekali.
Reyo yang menyadari kedatangan Keyra terkejut. Ia langsung naik dan mengambil handuk.
"Kenapa kamu kesini!"
”Aku ingin mengembalikan piyama kamu. Dan aku mau minta maaf atas kejadian kemarin."
“Syukur deh kalo ngaku salah."
"Sebenarnya itu juga salah kamu tau."
"Udah deh aku nggak mau ribut hari ini."
"E.. ngomong-ngomong kamu lincah juga berenang. Belajar darimana?" Keyra mendekati kolam renang yang jernih itu.
"Bukan urusanmu!"
Reyo berniat meninggalkan Keyra untuk pergi mandi. Tapi tiba-tiba Byuurrr.... Keyra tak bisa mengendalikan sepatu rodanya dan akhirnya tergelincir karena lantai yang begitu licin.
"Reyo! Tolong! Aku tak bisa berenang!" teriak Keyra panik
Reyo yang menyadari hal itu langsung berbalik dan masuk ke kolam.
Setelah mendapatkan Keyra, Reyo langsung menarik dan menepikan Keyra.
Pembantu Reyo yang mengetahui itu langsung mengambil dan memberikan handuk pada Reyo.
__ADS_1
Reyo pun langsung menelungkupkan handuk itu ke pundak Keyra.
Tubuh Keyra yang begitu lemas, membuat Reyo harus membopongnya ke tempat duduk.
Reyo segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kamu nggak papa?" tanya Reyo setelah menutup ponselnya.
"Enggak papa kok. Tapi sedikit pusing."
"Bi tolong bikinkan teh hangat," kata Reyo pada pembantunya
"Iya den."
"Kalo nggak bisa berenang jangan berenang," kata Reyo setelah pembantunya pergi.
"Mulai lagi deh. Kamu nggak lihat aku terpeleset, hah!!" Keyra mulai kesal
"Emang nggak lihat," kata Reyo
"Den, ini pakaiannya udah datang," kata pembantu Reyo tiba-tiba.
"O iya. Antarkan Keyra ganti baju," kata Reyo akhirnya
"Ini baju darimana, Bi?" tanya Keyra ketika sampai di kamar tamu.
"Dari tokonya Den Reyo mbak. Silahkan mbak, mandi dulu. Di situ kamar mandinya. Bibi tinggal ya mbak."
"Makasih, Bi."
Setelah mandi, Keyra memakai baju pemberian dari Reyo.
Dengan t-shirt lengan panjang warna pink dipadukan dengan rok mini hitam dan sepatu cewek pink serta dengan rambut terurai, menambah anggunnya Keyra.
Ia berjalan menghampiri Reyo yang tengah duduk memakai pakaian rapi, menatap kolam dan meneguk secangkir teh hangat.
Reyo pun menatap Keyra tajam, ketika Keyra sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa menatapku seperti itu," kata Keyra
"Jangan GR kamu," Reyo memalingkan mukanya
"Apa nggak ada legging? Aku nggak terbiasa memakai rok tanpa legging," kata Keyra yang agak risih dengan rok itu.
"Kita nggak memproduksi legging, ngerti! Udah deh, mending kamu nyantai aja pake itu."
"Tapi..."
"Aku nggak mau ribut. Mending kamu duduk, diem, dan minum teh itu."
Keyra pun menurut apa yang dikatakan Reyo. Suasana kembali hening.
Tak berapa lama...
"E... Orang tua kamu mana? Kok aku tidak melihatnya," kata Keyra hati-hati
"Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing."
"Sekarang mereka tinggal di mana?"
"Amerika."
"Wow, jauh banget. Emang kamu nggak mau tinggal di sana. Kan bisa dekat dengan mereka."
"Untuk apa tinggal sama mereka kalo merekapun juga sibuk sama pekerjaan masing-masing dan jarang di rumah. Mending di sini, masih ada sahabat untuk bertukar pikiran."
__ADS_1