
Rumah Keyra
Di malam yang begitu dingin membuat Keyra susah tidur. Tetapi ini masih jam 8 malam. Bukan susah tidur melainkan hatinya gelisah. Hatinya merasa tak tenang. Memang.
Undangan pernikahan kekasihnya itu selalu melintas dalam pikirannya. Kekasih?? Bullshit itu semua. Bahkan sampai sekarang kita belum memutuskan hubungan ini.
Tok tok tok...
Suara pintu mengagetkan Keyra yang bergelut dalam pikirannya. Pintu pun terbuka.
"Nico?"
"Bisa bicara di luar?" kata Nico
Keyra berharap Reyo yang datang. Meminta maaf dan membatalkan pernikahannya dengan Kirani. Tapi itu mustahil. Kenyataannya Nico berdiri di hadapannya sekarang.
"Kok bengong?"
"Eh iya. Yuk," ajak Keyra duduk di kursi teras
"Ada apa Nico?" tanya Keyra
"Aku cuma ingin memberikan ini untukmu," Nico menyerahkan sebuah undangan.
"Undangan Reyo?" tanya Keyra
"Ya," Nico mengangguk pelan
Keyra meletakkan undangan di atas meja teras.
"Pantaskah aku datang ke pernikahan itu?" tanya Keyra bimbang
"Tanyakan pada hati kecilmu yang paling dalam."
"..."
"Kalau kamu masih menyimpan rasa cinta padanya. Temui lah dia walau bersanding dengan yang lain."
Keyra menatap Nico.
"Tapi... "
"Aku yakin kamu orang yang kuat. Temui lah kalau itu bisa membuat hatimu lega."
"Tapi kalau kamu tidak datang, itu terserah padamu. Aku akan mendukung semua keputusanmu," lanjut Nico.
...❤...
Hari pernikahan.
Hari sabtu pagi yang cerah, Keyra meminta ijin ayahnya pergi ke mall sekedar jalan-jalan untuk melepas penat.
Sebelum pergi ke mall, Keyra menyempatkan untuk pergi ke makam ibu, kakek dan nenek. Tak lupa Keyra juga mengunjungi makam Kevin.
Setelah apa yang dirasakan Keyra selama ini, air mata pun tumpah di makam ibunya.
"Aku yakin aku kuat. Doakan Keyra dari sana ya bu," kata Keyra memeluk makam ibunya.
Selesai berziarah ke makam, Keyra pergi ke mall.
Mall
Pengunjung mall memang tak pernah sepi. Ada saja orang yang ingin pergi ke sana. Entah belanja, makan, ataupun sekedar jalan-jalan.
Keyra menyusuri mall. Tak sengaja dia bertemu Abel dan kakaknya.
"Keyra!" teriak Abel dari jauh
"Abel?"
__ADS_1
"Sendirian aja nih?" tanya Abel
"Iya."
"Hai Keyra," sapa kakak Abel
"Eh kak. Apa kabar?"
"Baik."
"Yuk kita mending ke resto yuk sambil ngobrol," ajak Abel
Sesampainya di resto mereka segera memesan makanan dan minuman. Di samping itu mereka asyik mengobrol. Entah apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Keceriaan tampak menghiasi wajah mereka.
Tak terasa hari semakin siang. Setelah menyantap makanan masing-masing, akhirnya mereka berpamitan.
"Keyra," Abel tiba-tiba memeluk Keyra erat dan menitikkan air mata. Seolah-olah tau apa yang dirasakan sahabatnya itu.
"Kenapa jadi nangis gini sih? Udah ya malu banyak yang lihat," Keyra menghapus tangisan Abel.
"Aku salut sama kamu Key. Kamu orangnya kuat. Melihat perjalanan cinta kamu, kamu begitu tegar. Sabar ya Key."
"Iya Abel. Ini semua juga karena kalian. Tanpa kalian aku tak akan kuat seperti ini," Keyra tersenyum
"Semoga kamu mendapatkan yang terbaik Key."
"Makasih. Ya sudah sana berdandan lah yang cantik untuk Bagas malam ini."
"Apakah kamu nanti datang ke pernikahannya?" tanya Abel pelan.
"Entahlah. Aku belum memikirkannya."
"Apapun keputusanmu nanti, aku akan selalu mendukungmu Key."
Sore hari, Deru terlihat sangat rapi. Keyra yang baru pulang heran melihat ayahnya yang dandan tak seperti biasanya. Memang seperti orang yang akan menghadiri pesta pernikahan.
"Ayah rapi benar. Mau kemana?" tanya Keyra sembari duduk di sofa.
"Ayah tau soal ini?"
"Ya. Reyo datang dan meminta restu ke ayah."
Keyra menatap Deru.
"Meminta restu? Kapan?"
"Itu sudah lama."
"Kenapa ayah nggak pernah cerita ke Keyra?"
Deru duduk di samping putrinya.
"Keyra, bersiap-siaplah ayah akan menunggumu di sini," kata Deru tanpa menjawab pertanyaan Keyra.
Keyra pun segera mandi dan bersiap. Setelah mandi, Keyra langsung duduk di sebelah ayahnya dan merangkul lengan ayahnya.
"Loh kamu nggak datang ke pernikahan Reyo?" tanya Deru yang melihat Keyra hanya memakai setelan piyama tidur.
Keyra menggelengkan kepalanya pelan.
"Ayah tau perasaanmu Keyra. Tapi bagaimanapun mereka sudah hadir ke dalam kehidupanmu."
"Apakah kamu nggak mau hanya sekedar memberi ucapan selamat untuk mereka?" lanjut Deru
"..."
"Iklhas kan Reyo. Biarkan dia memilih jalan yang di takdir kan untuknya," Deru memeluk Keyra erat.
"Keyra masih mencintainya ayah."
__ADS_1
"Ayah tau. Kekuatan cinta akan mendapatkan jalannya tersendiri. Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik," Deru bergegas meninggalkan Keyra yang masih duduk di sofa.
Karena bagaimanapun juga Deru tak kuasa melihat Keyra yang sedih. Deru menahan air matanya di depan Keyra agar putrinya tidak berlarut-larut dalam kesedihan juga. Dan dia tidak ingin putrinya melihat dia menangis di depannya.
Entah apa yang dirasakan Keyra saat ini. Hatinya sedang berkecamuk.
Sementara Deru yang sudah berada di dalam mobil bersama pak Anjar menumpahkan air matanya yang tadi dibendungnya.
"Pak Deru nggak papa?" tanya pak Anjar
"Nggak papa kok. Yuk kita berangkat sebelum acara dimulai," kata Deru menghapus air matanya.
"Yang sabar ya pak. Pasti ada hikmahnya," kata pak Anjar
"Iya," Deru tersenyum
"Mbak Keyra nggak ikut pak?"
"Nanti dia nyusul."
"Oh baik Pak. Kita berangkat sekarang."
"Ya."
Rumah Reyo
Pernikahan diadakan di rumah Reyo. Memang rumah Reyo besar dan cukup luas. Cukup untuk pesta pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan teman dekat.
Rumah Reyo berubah menjadi istana. Semua serba putih. Meskipun sederhana tapi terkesan elegan.
Reyo yang terlihat gagah memakai jas hitam menyapa tamu undangan. Tak terkecuali menyapa para sahabatnya.
Nico dan Tania, Anji dan Sarah, Aldi dan Bella, Bagas dan Abel. Semua sudah lengkap. Keyra?? Entahlah...
"Selamat Rey," kata Tania
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Nico
"Tinggal menunggu Kirani," kata Reyo
"Kamu nggak nunggu Keyra?" sindir Bagas
Karena diketahui hanya Bagas yang masih belum merelakan Reyo bersama Kirani. Bagas yang masih kecewa dan sakit hati dengan perlakuan Reyo kepada Keyra.
Abel segera menyikut lengan Bagas.
Tak beberapa lama, mereka melihat om Deru.
"Selamat malam om," sapa semuanya
"Selamat malam," jawab Deru singkat
"Keyra mana om?" tanya Bagas langsung
"E... ada. Dia nanti nyusul."
"Dia masih di rumah om? Apa perlu saya jemput om?" tanya Bagas
"Enggak Bagas. Temani lah Abel," Deru tersenyum
'Apakah kamu akan datang ke pernikahanku Keyra? Maaf. Maafkan aku. Bahkan sampai saat ini aku masih mencintaimu. Sangat...' pikir Reyo
"Apakah sudah siap Reyo?" tanya Deru mengagetkan Reyo
"I... Iya om. Tinggal menunggu Kirani."
"Om mau ke sana dulu," kata Deru
"Iya om," jawab mereka bersamaan
__ADS_1
...❤...