Keyra, Miss Sepatu Roda

Keyra, Miss Sepatu Roda
Keyra 44


__ADS_3

"Maaf," kata Reyo singkat


"Maaf katamu? Basi tau nggak!!"


"Seberapa benci kamu sama aku??" tanya Reyo menatap Keyra.


Keyra terdiam. Matanya seakan berkaca-kaca.


"Aku sangat membencimu!!" Keyra menatap tajam Reyo.


"Bohong kamu!!"


"Perlakuanmu selama ini kepadaku, apakah itu kurang cukup membuat aku membencimu!!"


"Tapi kamu tidak akan pernah membenciku!" kata Reyo tegas


"Aku tau kamu masih mencintaiku. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Iya kan?" lanjut Reyo


Keyra menggelengkan kepalanya.


"Aku muak denganmu Rey!!"


Keyra membalikkan badan dan ingin meninggalkan Reyo. Tetapi Reyo dengan cepat menarik tangan Keyra. Keyra terkejut. Tangan Reyo melingkar di pinggang Keyra.


"Bahkan sampai detik ini aku juga masih sangat mencintaimu!" kata Reyo


"Rey, lepaskan!!"


"Aku tak akan pernah melepaskan mu!"


"Gila kamu Rey! Lepaskan!!"


Reyo pun mencium Keyra dengan lembut. Keyra berusaha melepaskan pelukan Reyo. Tapi tidak berhasil.


Sementara Bagas yang menunggu Keyra tidak segera bergabung lagi dengan mereka, akhirnya berniat mencari Keyra. Lainnya pun mengikuti Bagas.


Tetapi sesampainya di kolam renang. Semua terdiam. Bagas yang melihat kejadian itu ingin segera mendekati Reyo dan Keyra. Tapi Nico menahannya.


Plak!!!!


Keyra menampar Reyo setelah Reyo mengakhiri ciuman itu.


"Puas kamu!!"


Reyo memegang pipinya yang terasa panas.


Bagas dan yang lainnya pun segera menghampiri Keyra dan Reyo.


Keyra terkejut.


Bagas yang ingin memukul Reyo pun ditahan oleh Nico.


"Keterlaluan kamu Reyo!!" kata Bagas


Tiba-tiba salah satu pelayan datang ke tengah-tengah mereka.


"Mas Reyo! Mbak Kirani mengalami pendarahan," kata pelayan itu panik.


Semua saling tatap. Reyo segera pergi meninggalkan lainnya diikuti Keyra. Mau tidak mau semuanya mengikuti mereka.


Sampai di kamar rias.


Kirani tergeletak menahan rasa sakit di perutnya. Gaun pengantin putih yang dikenakannya berlumuran darah. Reyo segera mendekatinya.


"Aku nggak kuat Rey," kata Kirani pelan


"Kamu harus kuat!"


"Kak Kirani!!" Keyra datang mendekati Kirani


"Keyra. Maaf," kata Kirani pelan

__ADS_1


"Kakak harus kuat ya!" Keyra menitikkan air matanya.


"Maaf Keyra..." Kirani menahan sakit


"Sudahlah kak. Aku sudah memaafkan kakak."


Ambulans datang dan segera membawa Kirani. Mereka pun menuju rumah sakit bersalin.


Rumah Sakit


Sebelum masuk ke ruang operasi, Kirani sempat mengatakan maaf pada Keyra. Keyra menggenggam tangan Kirani erat.


"Maaf Key."


"Aku sudah memaafkan kakak. Jadi nggak usah dibahas lagi ya kak."


"Kakak harus kuat!" lanjut Keyra


"Terima kasih," Kirani tersenyum dan kemudian pintu operasi ditutup.


Reyo duduk tenang di luar ruang operasi, sementara Keyra mondar mandir ke sana kemari. Entah mengapa hatinya menjadi tak tenang.


Beberapa menit kemudian para sahabat datang dan bergabung dengan Keyra dan Reyo.


Keyra pun memeluk Tania.


"Kamu tenang ya Keyra," kata Tania


"Aku nggak bisa. Aku takut."


"Apa yang membuatmu takut?" tanya Anji


"Aku takut kalau..." Keyra kembali ke sana kemari.


"Bisa tenang nggak kamu!!" kata Reyo keras


Keyra menatap tajam Reyo.


"Jadi kamu nyalahin aku. Iya!!"


"Iya!!"


"Stop!! Kalian bisa nggak sih nggak bertengkar," kata Bella


"Yang di dalam lagi bertaruh nyawa untuk melahirkan. Kalian malah bertengkar kayak gini. Sudah donk. Cukup," lanjut Bella


Semua terdiam tanpa kata.


Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Keras sekali. Semua berpandangan dan tersenyum. Ya, bayi yang dikandung Kirani selama ini telah lahir ke dunia.


Lampu ruang operasi menyala hijau. Semua lega dan senang. Suster yang membawa bayi, keluar dari ruang operasi. Memindahkan bayi itu ke ruang bayi.


"Bayinya cowok apa cewek sus?" tanya Keyra penasaran.


"Bayinya cowok. Selamat ya. Permisi saya harus segera membawa bayi ini ke ruang bayi," kata suster itu.


"Ya, terima kasih sus," kata Keyra


"Sama-sama."


Suster berlalu.


"Aku akan menemani baby K dulu," kata Keyra


"Aku temani Keyra," kata Tania


"Aku juga. Yuk," kata Sarah


Sebelum mereka menuju ke ruang bayi, tiba-tiba Keyra ingin menoleh ke lampu ruang operasi itu. Dia terkejut karena lampu menyala merah.


"Ada apa ini?" Keyra panik

__ADS_1


"Kenapa Key?" tanya Tania


Keyra menunjuk lampu yang dilihatnya itu. Yang lainpun menoleh ke lampu yang di tunjuk Keyra.


Dua orang dokter terlihat buru-buru masuk ke ruang operasi.


"Dok, ada apa?" tanya Reyo sebelum dokter itu masuk ruangan.


"Pasien mengalami pendarahan hebat. Kami akan segera menanganinya. Permisi," kata salah satu dokter.


"Kak Kirani," kata Keyra lirih


Seluruh tubuh Keyra terasa lemas. Dia duduk di kursi yang tersedia. Hanya doa yang dia panjatkan.


Keyra mengurungkan niatnya melihat baby K, karena ingin mengetahui kondisi Kirani saat ini. Akhirnya Aldi, Bella dan Sarah yang menjenguk dan menemani baby K.


Sementara di rumah Reyo, papa dan mama Reyo meminta maaf kepada para undangan karena acara pernikahan ditunda karena memang waktunya yang tidak memungkinkan.


Para undangan pun dipersilahkan untuk menikmati jamuan makan malam meskipun acara pernikahan ditunda.


Setelah urusan di rumah Reyo selesai, Evans melajukan mobilnya menuju rumah sakit bersalin. Tak lupa dia membelikan roti dan minuman untuk para sahabat Reyo. Karena diketahui mereka memang belum menikmati jamuan makan malam.


Rumah Sakit


Evans telah sampai di ruang dimana sahabat-sahabat Reyo berada. Evans mendekati Keyra dan Tania yang duduk di kursi.


"Evans?" kata Keyra


"Makanlah. Ini aku bawakan roti dan minuman."


"Kalian juga makanlah karena dari tadi kalian belum makan," kata Evans membagikan makanan tersebut pada semuanya.


"Para undangan sudah pulang. Pernikahan ditunda," kata Evans pada Reyo.


Reyo cuek. Evans pun mendekati Keyra.


"Gimana, apa baby-nya sudah lahir?" tanya Evans.


"Baby K sudah lahir. Tapi kak Kirani sedang kritis," kata Keyra sedih.


"Doakan yang terbaik untuk Kirani. Sekarang makanlah sedikit untuk kesehatanmu," kata Keyra


"Yuk makan Key," ajak Tania


"Sebenarnya, kenapa kau kemari!" kata Reyo menatap tajam pada Evans.


"Memang aku nggak boleh kesini?" Evans balik bertanya.


"Jealous bilang aja!!" sindir Bagas


Abel yang berada di dekat Bagas menyikut lengan Bagas.


"Kamu, nggak usah ikut campur!" Reyo menatap Bagas tajam.


"Terserah aku," Bagas cuek


"Sudah selesai kalian bicara?" tanya Keyra meredam marahnya.


Semua terdiam tanpa kata. Lampu ruang operasi sudah tidak menyala merah. Salah satu dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Reyo cemas


Yang lain pun ikut harap-harap cemas.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain. Pasien meninggal dunia."


"Kalian yang sabar ya. Saya permisi dulu," kata dokter


"Terima kasih dok," kata Anji


"Sama-sama."

__ADS_1


Air mata Keyra tumpah dalam pelukan Tania.


__ADS_2