
"Tenang Key. Dia sepupu Reyo kok. Dia tinggal di Amerika. Dan rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tua Reyo di sana," jelas Bagas.
"O sepupunya. Pantes aja sama-sama ngeselin!"
"Apa maksud kamu," Reyo menatap Keyra.
"Oh iya Key. Kamu beli apa sih tadi?" Bella mengalihkan pembicaraan.
"Oh, cuma beli baju kok," kata Keyra
"Kamu nanti pulang Key?" tanya Sarah
"Iya. Aku suruh jemput pak Anjar. Mungkin dia dalam perjalanan."
"Katanya Kevin mau married ya?" tanya Aldi
"Iya. Sorry akhir-akhir ini aku jarang kumpul sama kalian. Aku harus membantu kak Kevin mempersiapkan semuanya."
"Emang harus kamu yang mempersiapkannya," Reyo sinis
"Kamu tu memang nggak ngerti ya!" Keyra sedikit kesal.
Tiba-tiba handphone Keyra berdering. Pak Anjar.
"Sorry ya aku harus pulang sekarang. Pak Anjar sudah di depan," Keyra segera berdiri
"Eh Key. Kamu nanti akan datang ke acara ulang tahun Reyo kan?" tanya Bagas
”Ulang tahun? Kapan?" Keyra melirik Reyo ragu.
”Masa kamu nggak tau," kata Nico
”Cuma dirayain kita-kita aja kok. Tanggal 10 November nanti," kata Anji
Gaun yang dibawa Keyra terjatuh. Tania membantu mengambilkannya.
'Ya ampun. Kenapa ultah Reyo bertepatan dengan acara pernikahan kak Kevin' Keyra terlihat panik.
“Kok bengong, Key. Kamu pasti datang kan?" tanya Bagas
”E... aku pasti datang. Aku pulang dulu ya," Keyra segera bergegas.
"Menyebalkan," Reyo memalingkan wajahnya.
Di dalam kamar. Ditemani cahaya lampu yang temaram. Keyra tak juga bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang.
Tanggal 10 November adalah hari ulang tahun Reyo. Dan itu bertepatan dengan acara pernikahan kak Kevin. Acara yang sama-sama dirayakan pada jam yang sama pula.
Ya ampun... mana bisa aku hadir ke acara mereka dengan jam yang sama. Mana yang harus aku dahulukan? Mereka semua sahabat aku. Mana mungkin aku mengecewakannya.
"Ya Tuhan...." Keyra terlihat mondar-mandir.
Kemudian dia merebahkan kembali tubuhnya. Mencoba memejamkan matanya. Tapi tak bisa juga.
Dia pun melihat benda yang terletak di atas lemarinya. Dia segera memungutnya.
Benang rajutan? Keyra pun tersenyum melihat benda itu. Dan entah apa yang dikerjakannya pada benda itu.
__ADS_1
...❤...
Malam hari, tanggal 10 November.
"Keyra buruan! Nanti kita telat lho," kata Deru
"Iya iya, Yah. Keyra udah siap, Keyra keluar dari kamarnya."
Deru tercengang melihat Keyra. Keyra terlihat cantik memakai gaun putih yang dibelinya jauh-jauh hari. Meskipun wajah Keyra hanya berbalut bedak dan lipgloss, tapi tetap cantik alami.
"Anak ayah cantik malam ini. Kamu nggak..."
"Aku sudah melupakannya, yah. Yuk kita pergi. Pasti kak Kevin udah nunggu," Keyra memeluk ayahnya dan segera berangkat.
Seperti biasa diantar pak Anjar. Mobil pun melaju dengan cepat.
Di rumah Kevin pukul 08.00 WIB.
Para undangan pun terlihat di penjuru rumah Kevin. Acara pernikahan Kevin sangat meriah, meskipun hanya dihadiri anggota keluarga dari kedua pihak dan sahabat atau teman terdekat.
Canda tawa pun hadir di tengah-tengah mereka, ketika mempelai bergabung dengan lainnya.
Tak terasa malam semakin gelap. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB.
"Ya ampun.. Reyo," Keyra melirik jam di tangannya.
'Kenapa aku sampe lupa gini' Keyra gelisah.
"Kamu kenapa Key?" tanya Deru mengagetkan Keyra.
"Eh, enggak kok, yah."
Reyo, Nico, Anji, Aldi, Bagas, Tania, Sarah, dan Bella menunggu Keyra.
"Mana sih Keyra? Udah 2 jam kita tunggu. Lama bener, " kata Aldi
"Sabar. Mungkin dalam perjalanan," kata Bagas
"Tapi nggak mungkin selama ini, Gas. Aku takut terjadi apa-apa sama Keyra," Tania cemas
"Jangan mikir macam-macam, Tan. Aku telfon dia sekarang," kata Nico
Tak ada jawaban juga.
”Gimana Nic?" tanya Tania. Nico menggeleng.
"Apa perlu dia kita jemput?" tanya Bella
"Nggak perlu. Kita mulai sekarang," tegas Reyo
"Tapi Rey..." bantah Bagas
"Aku yakin dia sibuk," kata Reyo akhirnya.
Kekecewaan jelas terlihat di wajah Reyo. Tapi para sahabatnya selalu berusaha memeriahkan ulang tahunnya.
Suasana semakin meriah, ketika Bagas didorong Aldi ke kolam renang. Jelas saja Bagas basah kuyup. Apalagi ini malam hari, pastilah dingin.
__ADS_1
Reyo yang sedari tadi diam, akhirnya melontarkan senyumnya. Mereka semua tertawa di malam yang hangat itu.
'Ya ampun... Handphone aku ketinggalan di rumah lagi' desah Keyra yang ingin menghubungi Reyo.
Kegelisahan pun menyelimuti Keyra. Deru menyelidiki hal itu.
"Ada masalah Key?" tanya Deru pelan
"Handphone Keyra ketinggalan yah."
“Memangnya kamu mau menghubungi siapa?"
“Hari ini Reyo ulang tahun, yah. Dan dia merayakannya malam ini. Keyra ingin menghubunginya. Keyra ingin bilang kalo Keyra agak telat ke rumahnya. Keyra udah janji kalo Keyra mau datang ke acara itu," mata Keyra terlihat berkaca-kaca.
”Pergilah Key. Nanti ayah sampaikan ke Kevin," Deru mengerti perasaan Keyra.
”Tapi yah, acara kak Kevin belum selesai. Aku takut kalo..."
”Pergilah Key. Jangan pernah sekali-kali mengingkari janji yang sudah terlanjur kamu buat. Mereka pasti sudah menunggumu."
Keyra memeluk ayahnya erat dan kemudian segera bergegas.
Keyra menghampiri Pak Anjar. Tapi Pak Anjar tak ada di mobil. Entah kemana. Padahal pintu mobil tak dikunci.
Keyra segera mengambil sebuah kotak di dalam mobil dan selembar uang dua puluh ribuan yang dilihatnya di laci mobil.
'Pak Anjar, sorry aku pinjem uang ini dulu.'
Keyra berlari keluar halaman. Di tengoknya kanan kiri. Tak ada kendaraan umum. Keyra melirik jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB. Keyra pun berlari. Jauh.
Beberapa lama, dia menemukan sebuah angkutan umum. Jalanan malam itu masih lumayan ramai.
'Ya Tuhan, semoga acara Reyo belum selesai.'
Tiba-tiba di perempatan jalan, Keyra menghentikan angkutan itu. Ternyata angkutan umum itu berlawanan arah dengan rumah Reyo.
Tak terlihat angkutan lain, Keyra pun kembali berlari karena dirasa lama menunggu angkutan datang.
'Gini nih kalo nggak pakai sepatu roda. Capek larinya kan' pikir Keyra kesal
Jalanan yang masih ramai itu ditelusurinya. Sesekali dia berhenti sambil ngos-ngosan.
Membasuh keringatnya yang mengalir di wajahnya. Beberapa detik kemudian dia kembali berlari.
Sampai akhirnya pukul 12 malam lebih, dia sampai di rumah Reyo.
Gerbang yang belum dikunci, membuat Keyra sedikit lega. Satpam yang biasa nongkrong di pos, tak tau pergi kemana. Keyra tak peduli.
Dia kembali berlari menyusuri halaman yang begitu luas. Sesampainya di depan pintu, Keyra ragu.
Rumah itu sudah gelap. Hanya beberapa ruangan yang terlihat disorot lampu.
Keyra mengetuk pintu dengan keras. Membunyikan bel berkali-kali. Tapi tak ada jawaban.
Berteriak memanggil Reyo. Tapi juga tak ada jawaban.
'Pada kemana semuanya? Apakah acara sudah selesai? Aku memang bukan sahabat yang baik. Aku tak bisa menepati janjiku.'
__ADS_1
Keyra murung. Karena kelelahan, akhirnya dia terlelap dan bersandar di depan pintu.
...❤...