Keyra, Miss Sepatu Roda

Keyra, Miss Sepatu Roda
Keyra 23


__ADS_3

Menjelang subuh, Reyo dikagetkan dengan suara handphone-nya.


Dengan malas dia mengambil handphone itu di meja.


'Om Deru??' Reyo melirik jam weker.


"Pagi om. Ada perlu apa ya telfon pagi-pagi sekali?"


"Oh nggak papa. Saya mau tanya apa Keyra sudah bangun? Maaf ya merepotkan nak Reyo. Lagi-lagi Keyra harus menginap di rumah kamu."


Reyo gelagapan mendengar kata-kata Deru.


Dia berpikir panjang. Bingung. Cemas. Mondar mandir ke sana kemari. Dia tak melihat Keyra datang kesini.


"Hallo??"


"Eh iya om. Kayaknya Keyra belum bangun," kata Reyo asal (alias boong).


"Oh kalo gitu sampaikan ke Keyra ya, kalo sudah bangun suruh dia cepat pulang. Sekali lagi maaf merepotkan," Deru merasa tak enak hati pada Reyo.


"Iya nggak papa om."


"O iya. Selamat ulang tahun ya Rey. Maaf telat. Dan maaf om tak bisa kasih apa-apa ke kamu."


"Nggak papa om. Makasih."


Tut...Tut... sambungan terputus.


Reyo segera berlari keluar kamar. Lampu ruangan dinyalakannya. Kosong.


Dia pun berlari menuju ruang tamu. Dibukanya pintu depan. Reyo terkejut ketika melihat Keyra tergeletak di lantai. Reyo panik.


Dia segera membawa Keyra ke kamar. Tubuhnya dingin, wajahnya pucat dan tampak lemas. Dokter pribadi Reyo pun datang memeriksanya.


"Gimana dok keadaan dia?" tanya Reyo pada dokter yang selesai memeriksa Keyra.


"Dia nggak papa Rey. Cuma kayaknya dia kelelahan," kata dokter


"Apa dia kekasih kamu? Cantik. Jagalah dia jangan sampai kelelahan seperti ini," lanjut dokter.


Reyo hanya menganggukkan kepala.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya."


"Iya dok. Terima kasih."


Reyo memanggil satpam rumahnya setelah dokter memeriksa Keyra dan pergi. Dengan hati yang penuh emosi, dia memarahinya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalo Keyra datang!" bentak Reyo pada satpam.


"Maaf mas, saya nggak tau. Saya bener-bener ketiduran dan lupa mengunci gerbang. Saya nggak tau kalo mbak Keyra datang."


"Jadi kerja kamu cuma tidur, Iya! Mulai sekarang kamu akan ku pecat!"


"Dia nggak salah Rey," tiba-tiba Keyra terbangun.


"Jangan pecat dia. Ini salah aku. Aku yang kemalaman bertamu ke rumah orang. Udah lah Rey, kasihan dia," lanjutnya.


Keyra segera bangun dan terlihat mencari sesuatu. Sadar dengan benda yang dicarinya nggak ada, Keyra langsung nyelonong pergi dari kamar.


"Key, mau kemana kamu! Kamu belum pulih benar," kata Reyo yang kemudian mengikuti Keyra.

__ADS_1


Satpam pun di belakang mereka.


Sesampai di depan pintu, Keyra mengambil sebuah kotak yang tergeletak. Kotak itu terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna merah hati.


"Ya udah. Sana kembali kerja kamu. Tapi jangan tidur aja kalo nggak mau aku pecat," kata Reyo pada satpam.


"Baik mas. Makasih mbak, permisi," satpam itu pergi.


Reyo dan Keyra kembali masuk ke dalam rumah. Mereka pun menuju kolam renang dan ditemani dua cangkir teh hangat.


"Sorry Rey, aku datang terlambat," Keyra merasa sangat bersalah.


"Kenapa kau tak bisa dihubungi," kata Reyo ketus.


"Handphone aku ketinggalan."


"Kamu pergi? Kemana?"


"Malam itu.. aku pergi ke pernikahan kak Kevin."


"Jadi dia lebih penting dari aku?"


"Kamu nggak tau perasaan aku gimana waktu itu Rey."


Tiba-tiba handphone Reyo berdering. Om Deru. Reyo segera berdiri dan mengangkat handphonenya. Menjauh dari Keyra.


"Hallo om."


" Maaf Reyo! Apakah Keyra baik-baik saja? Naik apa Keyra ke rumahmu? Apakah kamu yang menjemput Keyra waktu di pernikahan Kevin? Soalnya pak Anjar baru cerita kalo dia tak mengantarkan Keyra ke rumah kamu," Deru terlihat cemas.


Reyo menatap Keyra. Keyra sedang asyik meminum tehnya.


"..."


"Reyo? Apakah kamu mendengar suara om? "


"Oh iya om. Aku suruh sopir menjemput Keyra," kedua kalinya Reyo bohong.


"Syukur deh. Soalnya Keyra tak bawa uang kalo dia naik angkutan. Om jadi cemas."


"Oh."


"Kalo Keyra bangun, suruh dia cepat pulang ya,"


Deru mengakhiri pembicaraan.


"Naik apa kamu kemari?" tanya Reyo setelah menutup telfonnya.


"Ayah yang telfon?" Keyra balik bertanya


"Aku tanya, kamu naik apa kesini!!”


"Ah... itu nggak penting, Rey. Lupain aja. Pokoknya aku sudah sampai kesini dengan selamat. Iya kan," Keyra memamerkan deretan giginya.


"Oke. Naik apapun itu kamu, aku nggak mau bohong lagi sama om Deru. Sekarang kamu pulang. Om Deru mencemaskan mu."


'Berarti ayah sudah tau kalo aku nggak diantar pak Anjar kemarin. Tapi dia nggak tau aku kesini sama siapa dan dengan apa. Reyo pasti cari alasan untuk nenangin ayah. So sweet, Reyo'


"Heh cepat pulang! Malah bengong. Aku ada urusan di distro. Biar sopir yang antar kamu," kata Reyo


"Tunggu Rey! Selamat ulang tahun. Sorry telat. Cuma ini yang bisa aku kasih ke kamu. Semoga kamu suka," Keyra menyerahkan kotak berbungkus kertas kado itu pada Reyo.

__ADS_1


Reyo mengambilnya.


"Udah sana pulang."


"Huh, bilang terima kasih kek, ato apa kek. Malah cepat-cepat ngusir aku, ngeselin," Keyra cemberut.


Sore itu hujan turun lebat. Sepulang dari distro, Reyo merebahkan tubuhnya di kamar. Menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba dering handphone berbunyi. Tania. Reyo segera mengangkatnya.


"Hallo Rey."


"Ada apa Tan?"


"Kamu lagi apa Rey?"


"Ini baru pulang dari distro."


"Emm, cuma mau tanya sih. Apa kamu udah buka kado dari Keyra?"


Reyo menatap kotak berbungkus kertas kado yang diberikan Keyra waktu itu di atas meja. Ia pun menghampiri meja dan mengambilnya.


"Aku sih penasaran apa isinya. Bukannya ikut campur sih. Tapi Keyra bela-belain lari dari rumah kak Kevin ke rumah kamu lho," lanjut Tania


Reyo tersentak. Ia menatap kaca jendela yang basah oleh hujan.


Keyra memang cerita sama Tania kejadian malam kemarin. Tak seorang pun lainnya yang tau.


"Hallo Rey? Kok diem?" kata Tania mengagetkan Reyo.


"E... *Apa Keyra cerita ke kamu kemarin?"


"Iya. Keyra nggak bisa hadir ke ultah kamu karena menghadiri pernikahan kak Kevin. Dia sebenarnya juga pingin gabung dengan kita."


"Eh dia datang pas kita semua sudah pulang. Coba kalo acara kamu sampai pagi pasti Keyra bisa gabung dengan kita."


"Sampai pagi? Becanda kamu."


"Hehe iya sih. soalnya kasihan dia kelelahan*."


"..."


"Pasti belum kamu buka ya kadonya. Ya udah deh kalo gitu. Buka aja dulu. Pasti kamu suka kado dari Keyra. Sampai ketemu lagi ya Rey. Da..."


"Iya," Reyo mengakhiri pembicaraannya.


Dengan cepat Reyo langsung membuka kado itu. Sebuah syal rajutan berwarna hitam dan putih. Rajutan yang begitu rapi.


Reyo pun langsung memencet sebuah nama dari handphonenya. Keyra.


"Cepat kamu ganti baju. Kita pergi."


"Pergi kemana Rey?"


"Makan malam."


"Tapi..."


"Cepat!"


Reyo menutup handphone.

__ADS_1


__ADS_2