
Setelah semuanya kenyang, mereka menghabiskan waktu mengobrol di restoran itu.
"Doain ya skripsi kita lancar," kata Bagas pada Keyra dan Tania.
"Oh iya kalian udah mulai skripsi ya. Tak doain deh agar lancar dan cepat lulus," kata Tania
"Lulus dengan nilai terbaik," Keyra menambahkan.
"Iya agar Nico bisa cepat-cepat menikahi mu," Bagas tersenyum
"Apaan sih Gas. Mulai lagi deh," Tania menggelengkan kepalanya.
Nico yang ingin menjitak kepala Bagas, mengurungkan niatnya karena dia melihat sosok yang begitu akrab di matanya. Reyo.
Nico terdiam.
"Keyra apakah kamu ada masalah sama Reyo?" tanya Nico tiba-tiba.
"Hah??" Keyra pura-pura tak mendengar.
"Tuh kan tulalit lagi," kata Aldi
"Kenapa tiba-tiba kamu tanya seperti itu Nic?" tanya Tania
"Tuh lihat," Nico menunjukkan Reyo sedang belanja di baby shop bersama seorang cewek.
Semua melihat ke arah yang ditunjuk Nico.
"Bukannya itu Reyo sama Kirani?" tanya Bagas
"Iya sih ngapain mereka berdua???" tanya Aldi
"Apa perlu kita samperin sekarang?" tanya Bagas
"Nggak usah Gas," kata Keyra lirih
"Tapi Keyra..."
Keyra menggelengkan kepalanya.
Keyra terdiam.
'Ternyata benar. Reyo akan menikahi kak Kirani. Terus bagaimana dengan aku Reyo? Kamu tega ninggalin aku yang masih butuh kamu,' Keyra berusaha menahan air matanya.
"Keyra?" tanya Tania pelan
"Hem."
"Ada yang kamu sembunyikan dari kita?" tanya Anji pelan.
"Keyra, cerita sama kita donk," kata Tania lirih
Keyra masih terdiam.
Tiba-tiba Keyra menangis dalam pelukan Tania. Apa yang dia pendam selama ini tumpah begitu saja.
Semua terdiam seolah-olah tau apa yang terjadi pada Keyra.
"Awas kamu Reyo," Bagas mengepalkan jari-jarinya.
Mereka pun mengantar Keyra pulang ke rumah. Sebelum turun dari mobil, Keyra meminta semuanya untuk tidak bercerita pada Ayahnya.
"Aku mohon jangan ceritakan apapun yang kalian lihat pada ayah," Keyra menghapus air matanya yang masih menetes.
Semuanya mengangguk paham.
"Gimana, kita samperin Reyo sekarang?" tanya Bagas setelah Keyra masuk rumah.
"Ya," kata Aldi
"Kalian jangan gegabah ya. Biarkan Reyo cerita dulu," kata Tania cemas karena O-I-S terlihat memendam emosi.
"Kita antar kamu pulang dulu," kata Nico
"Enggak. Aku mau ikut."
Nico menatap tajam Tania.
"Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kalian. Anji aku ikut ya," Tania memohon pada Anji karena dia yang lebih tenang dari yang lainnya.
__ADS_1
"Oke kalau mau ikut."
"Loh kok gitu. Cewek nggak boleh ikut," kata Bagas
"Emang toilet."
Akhirnya malam ini mereka berlima datang ke rumah Reyo. Setelah mobil terparkir di halaman rumah Reyo, mereka masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Reyo.
Tapi setelah menelusuri di seluruh penjuru rumah mereka tidak menemukan Reyo sama sekali.
"Kenapa kita tak tanyakan Bibi," kata Anji
"Iya juga sih. Dasar bodoh semua," kata Bagas
"Iya juga sih. Kenapa aku jadi emosi juga. Ah tau ah," kata Tania
"BIBI!!!" teriak Bagas
"Samperin donk jangan teriak-teriak seperti ini," kata Aldi menutup telinganya karena suara Bagas yang melengking.
"Rumah Reyo besar, aku males jalannya. Lagian kita tadi sudah muter-muter. BIBI!!!" teriak Bagas lagi.
Satu jitakan dari Aldi mendarat di kepala Bagas.
"Iya den, ada apa?" tiba-tiba Bibi datang.
"Reyo mana bi?" tanya Tania
"Den Reyo belum pulang sejak tadi pagi."
"Apa!! Kemana aja tu anak," Bagas semakin geram.
"Apa mungkin dia di apartemennya?" tanya Nico
"Bisa jadi den," kata bibi
"Oke kita ke sana," kata Bagas
"Makasih bi," kata Tania
"Iya sama-sama."
Ting tong... Apartemen terbuka.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Reyo
"Kita ingin bicara. Bolehkah kita masuk?" kata Anji
Reyo masuk di ruang tengah diikuti lainnya.
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Reyo setelah duduk di sofa.
"Ada hubungan apa kamu dengan Kirani?" tanya Bagas langsung.
"Jadi kalian sudah tau," Reyo cuek
"Kita belum tau. Jadi kita butuh penjelasan dari kamu sekarang," kata Nico
"Apa Keyra tak cerita ke kalian?"
"Dia memang tak cerita. Tapi terlihat dari tangisannya, pasti ada masalah sama kamu!!" kata Bagas
"Aku nggak mau bahas soal ini sekarang," kata Reyo
"Apa kamu bilang?? Nggak mau bahas sekarang. Loe mikir nggak Keyra gimana!!" kata Aldi
"Setidaknya kamu bicara sama kita. siapa tau kita bisa bantu kamu," kata Anji
Reyo terdiam. Lama...
"Kenapa diam?? Loe selingkuh kan sama Kirani. Hah!!" Bagas terpancing emosi.
"Ya!! Aku akan menikahinya!!"
Semua menatap Reyo tajam. Entah benar atau tidak yang dikatakan Reyo. Semua tak percaya.
"Brengsek kamu Rey!!" Bagas memukul wajah Reyo
"Apa maksud kamu Rey??" tanya Tania tak percaya.
__ADS_1
"Semua sudah jelas. Jadi kalian silahkan keluar dari sini!!"
Bagas pun memukul Reyo kembali dengan emosi yang tinggi.
"Gila loe Rey!!" Aldi yang geram juga ikut memukul wajah dan perut Reyo berulang kali.
Reyo tersungkur. Darah segar yang keluar dari bibirnya dia hapus.
"Cukup!! Hentikan!!" teriak Tania yang tak tega melihat Reyo.
Tania mendekati Reyo yang terbaring lemah tak berdaya. Tetapi Nico menarik lengan Tania dengan cepat.
"Biarkan dia!!" kata Nico
"Nico, kalian bisa membunuhnya," Tania menatap Nico tajam.
"Kamu pilih dia atau kita," Nico membalas tajam tatapan Tania.
"Kita pergi!!" Bagas meninggalkan tempat diikuti lainnya.
Mereka akhirnya meninggalkan Reyo yang terbaring menahan rasa sakitnya.
Dalam mobil
Anji mengambil alih setir mobil karena diketahui Bagas lagi emosi.
"Brengsek si Reyo!!" kata Bagas memukul kaca mobil di sampingnya.
"Bisa-bisanya dia menyakiti hati Keyra. Benar-benar gila tuh anak!! Shitt!!" Bagas semakin geram.
"Menikahi orang bunting. Benar-benar saraf tuh anak!!!" Bagas memukul kaca mobil lagi.
Semua hanya terdiam mendengar omelan Bagas. Mereka hanya bisa menyimpan pertanyaan besar dalam kepala masing-masing.
Tit.. tit.. tit...
Handphone Tania berdering.
"Keyra," kata Tania
"Angkat aja," jawab Nico
"Hallo Keyra?"
"Hallo Tania. Belum tidur?"
"Belum Key. Kamu juga belum tidur? Ada apa telpon malem-malem?"
"Aku nggak bisa tidur Tan. Perasaanku nggak enak."
" Nggak enak gimana Key?"
"Aku merasa terjadi sesuatu pada Reyo."
Tania menghela napas.
"Sebenarnya ada apa sih Key? Kamu ada masalah apa sama Reyo?"
Tania memencet tombol loudspeaker agar terdengar yang lainnya.
"Aku nggak tau Tan. Aku bingung."
"Bingung kenapa?"
"Reyo selalu menghindariku. Setiap aku telpon tidak diangkatnya."
Bagas terlihat mengepalkan jari-jarinya.
"Kok begitu Key. Sejak kapan?"
"Sejak kemarin lusa."
"E... Memang yang kita lihat di mall tadi apakah benar Key?"
"Mungkin saja benar Tan. Reyo pernah bilang ke aku akan menikahi kak Kirani," Keyra menitikkan air mata.
"Apa?? Kamu serius Key!! Jadi benar?"
"Apa maksudmu Tania? Kamu sudah tau??"
__ADS_1