
"Iya, ini aku Keyra," Erwin tersenyum dan berjalan mendekati Keyra.
"Apa yang kamu lakukan, Win!" Keyra berusaha melepaskan tali yang mengikat di tangannya.
"Tenang Keyra sayang. Jangan berisik," Erwin memegang pipi Keyra.
Keyra menghindar. Entah apa yang ada dalam benak Keyra sekarang. Dia diculik oleh bosnya sendiri. Atasan yang dia percaya selama ini. Dia terlalu bersemangat bekerja sama dengan Erwin tanpa memperdulikan kata-kata sahabatnya. Semua sudah terlanjur dan tidak bisa diulang kembali. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia diculik dan diikat di sebuah kursi seperti drama yang ada di tv. Dan menunggu seseorang untuk menyelamatkannya.
"Maaf kalau pertemuan kita kali ini membuat kamu tidak nyaman," Erwin tersenyum
"Lepaskan aku!!"
"Oke. Tapi kita tunggu kekasihmu itu datang."
"Reyo tidak akan datang!"
"Oh ya?? Apa dia sudah tidak mencintaimu lagi? Hah!!"
"Selama ini aku sudah salah menilai kamu Erwin. Aku menyesal telah bekerja sama dengan kamu!!"
"Baru sadar kamu? Tapi terima kasih selama ini kamu telah mempercayai aku sebagai atasanmu, hahaha," Erwin tertawa lepas.
"Tapi sayang mulai hari ini aku memecat kamu! Kamu tau kenapa? Karena kamu telah mengcopy semua data-data pribadiku!" Erwin menatap tajam Keyra.
"Tapi aku tidak melakukan apapun pada data-data kamu," balas Keyra
"Oh ya? Apa kamu yakin? Hah!!"
Keyra terdiam.
"Tidak masalah untuk itu. Sekarang kamu berada dalam genggamanku," lanjut Erwin
"Win, tolong hentikan ini. Kamu hanya terobsesi pada Tania kan??"
"Jangan bawa nama Tania disini! Ngerti!"
"Kamu hanya ingin menguasai perusahaan R untuk menandingi Nico dan merebut Tania. Iya kan!!"
"Jika cara kamu seperti ini, Tania tidak akan pernah mencintaimu!!" kata Keyra keras.
"Diam kamu!!" Erwin mencengkeram kedua pipi Keyra.
"Tania akan mencintaiku dengan caraku sendiri. Ngerti!" Erwin menatap tajam Keyra.
"Lepaskan Keyra!!" Reyo tiba-tiba datang.
"Reyo? Kenapa kamu datang!!" Keyra menatap Reyo.
Reyo terdiam tanpa menjawab pertanyaan Keyra.
"Akhirnya kamu datang juga," kata Erwin pada Reyo.
"Sekarang apa maumu!!" Reyo menatap tajam Erwin.
__ADS_1
"Hahaha, tenang dulu. Jangan terburu-buru."
"Tenang dulu. Silahkan duduk," Erwin mempersilahkan Reyo duduk di kursi yang telah tersedia.
Erwin terlihat menyuruh seorang pengawalnya mengambilkan sesuatu. Pengawal itu segera pergi. Tak lama kemudian, pengawal itu kembali dengan memberikan seberkas kertas pada Erwin. Lalu pengawal itupun segera pergi.
Erwin melemparkan pelan berkas itu di depan meja Reyo.
"Tidak perlu panjang lebar. Cepat tanda tangani berkas itu!" kata Erwin pada Reyo.
"Jangan Reyo!!" teriak Keyra.
Reyo menatap Keyra.
"Percayalah padaku," kata Reyo pada Keyra.
"Jangan lakukan itu Rey..."
"Jangan banyak omong! Cepat tanda tangan!!" bentak Erwin.
Reyo membuka berkas itu. Ya, berkas berisi tentang perusahaan R. Perusahaan yang telah berdiri sejak lama. Sudah ribuan pegawai bekerja di sana. Entah apa yang terjadi pada para pegawai itu jika perusahaan R jatuh ke tangan orang lain.
Tetapi Reyo sudah memikirkan hal itu.
Reyo bersikap tenang. Diletakkannya pulpen yang ia pegang di atas berkas. Keyra menghela napas lega karena Reyo tak menandatangani berkas itu.
"Kenapa? Apa kamu tak ingin melihat kekasihmu ini hidup!" Erwin menatap tajam Reyo.
"Aku ingin melihat anakku. Dimana dia?" tanya Reyo.
"Tenang saja. Anakmu aman bersama kami," kata Erwin.
"Aku ingin melihatnya."
"Bawa dia kesini!" kata Erwin lantang pada seseorang.
Seseorang yang dipanggil Erwin langsung berada di samping Erwin sambil menggendong Keenan.
"Tania!!" kata Keyra dan Reyo bersamaan.
Keyra dan Reyo tak hanya kaget bahwa yang membawa Keenan adalah Tania. Tetapi mereka tak percaya Tania menodongkan pistol ke kepala Keenan.
"Tania! Aku yakin itu bukan dirimu, Tania!" kata Keyra khawatir.
"Tapi ini aku, Keyra!!" kata Tania tegas.
"Nggak mungkin. Lepaskan Keenan!" Keyra menangis dan berusaha membuka tali yang mengikat tangannya.
"Aku akan melepaskan Keenan setelah Reyo menandatangani berkas itu!" kata Tania tajam.
"Sadarlah Tania! Kamu benar-benar licik Erwin!" Keyra menatap tajam Erwin dengan mata sembabnya.
Erwin tertawa lepas dan mendekati Keyra.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang. Aku akan menghapus air mata kamu," Erwin hendak memegang pipi Keyra.
"Berhenti!!" potong Reyo.
Erwin menatap Reyo.
"Jangan sentuh Keyra sedikitpun!" lanjut Reyo.
Distro O-I-S
Anji, Aldi, dan Bagas sedang bersantai sambil menyeduh minuman cokelat.
"Reyo mana kok belum balik?" Anji melihat jam di tangannya.
"Nico juga. Kemana aja dia?" tanya Bagas.
"Iya juga. Mereka tak bisa dihubungi," kata Anji yang berusaha menghubungi Reyo.
"Padahal kita akan membahas perusahaan R. Kenapa data-data itu bisa dicuri. Dasar Reyo ceroboh," kata Aldi.
Tak lama kemudian, Nico datang dengan ekspresi wajah yang terlihat panik. Melihat kanan kiri di sekitarnya seperti mencari seseorang.
"Kenapa kamu? Siapa yang kamu cari?" tanya Bagas.
"Reyo mana?" tanya Nico akhirnya.
"Memang dari tadi kita tak mencari dia? Sudah lama kita nunggu kalian," kata Aldi.
Nico pun pergi begitu saja. Anji, Aldi, dan Bagas saling tatap. Bagas pun segera menghentikan Nico.
"Tunggu Nico! Ada apa ini?" tanya Bagas.
"Tadi Reyo mencari kamu. Sekarang kamu mencari dia. Kalian sedang tak main petak umpet kan?" lanjut Bagas.
"Keyra dan Keenan diculik. Reyo pasti mencarinya," kata Nico panik.
"Diculik? Siapa?" tanya Aldi.
"Kenapa kamu baru cerita? Ini masalah besar," kata Anji.
"Ceritanya panjang. Aku ingin segera mencari mereka," Nico melanjutkan langkahnya.
"Tunggu Nico! Kita akan mencari mereka kemana?" tanya Bagas ikut panik.
Nico menghubungi Reyo. Tapi handphone Reyo tidak aktif.
"Tania!" kata Nico akhirnya dan mencari nomor Tania.
"Tania? Apa dia juga diculik?" tanya Aldi.
"Aktif tapi tidak diangkat. Aku harus ke sana," kata Nico tanpa menjawab pertanyaan Aldi.
Nico segera melacak nomor Tania. Dan pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Aku akan segera ke sana. Akan aku kirim alamatnya nanti pada kalian. Kalian tau apa yang kalian lakukan. Oke," kata Nico sebelum pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.