
Sementara Reyo yang masih berada di hadapan berkas itu, berusaha tetap tenang. Mengambil kembali pulpen yang tadi diletakkannya.
"Jangan Reyo!" kata Keyra menggelengkan kepalanya dan menangis.
Reyo menatap Keyra dan Keenan yang ada dalam gendongan Tania. Reyo pun segera menandatangani berkas itu dan meletakkan pulpen itu kembali.
"Bagus," kata Erwin meraih berkas itu.
Reyo mendekati Keyra dan segera melepaskan tali yang mengikat tangannya. Reyo memeluk Keyra erat.
"Serahkan anak itu pada mereka. Kita akan segera pergi," kata Erwin pada Tania.
Tania melangkah mendekati Keyra dan Reyo. Dengan tangan bergetar, Tania menyerahkan Keenan pada Keyra. Keyra menatap Tania. Tania menitikkan air mata.
"Tania," kata Keyra pelan.
Tania tak berani menatap Keyra. Dia takut air matanya tumpah menatap sahabatnya itu.
"Ayo kita pergi," Erwin menarik lengan Tania.
Keyra yakin Erwin pasti juga mengancam Tania.
Sebelum masuk ke rumah, Erwin dan Tania dihadang oleh Nico. Erwin terkejut.
Bagaimana bisa Nico bisa masuk ke dalam halaman rumahnya. Apalagi Tania yang tak kalah terkejutnya.
"Mau kamu bawa kemana Tania?" tanya Nico pada Erwin.
"Itu bukan urusanmu!! Dia sudah menjadi milikku!" kata Erwin.
Dengan kemarahannya pada Nico, Erwin mencari sesuatu di kantong celananya. Dia begitu terkejut Nico datang. Seseorang yang telah merebut wanita yang dicintainya. Setelah Erwin menemukan sesuatu yang dicarinya, dia langsung mengeluarkannya. Sebuah pisau lipat yang tajam kini ada dalam genggamannya.
"Jangan Erwin! Aku mohon. Aku akan bersamamu tapi jangan sakiti Nico," kata Tania dengan air mata mengalir deras.
"Dia sudah merebut kamu dariku. Tidak akan kumaafkan!!"
Tanpa berpikir panjang, Erwin langsung menyerang Nico. Reyo yang dari awal sudah mengetahui gerak-gerik Erwin mencari sesuatu dan ternyata pisau, Reyo pun langsung mendorong Nico agar pisau itu tidak mengenai Nico. Tetapi pisau itu telah mengenai perut Reyo. Reyo terjatuh dan berlumuran darah.
"Reyo!!!" teriak Keyra.
Erwin yang kebingungan karena salah sasaran langsung mundur. Erwin melihat tangannya yang berlumuran darah. Dia tersadar telah menyerang seseorang. Itu bukan Nico tapi Reyo. Erwin langsung berlari hendak menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Keyra yang mengetahui itu berusaha mencegah Erwin agar tidak kabur. Keyra memberikan Keenan pada Tania dan mengejar Erwin.
"Mau kemana kamu Erwin! Apa yang kamu lakukan pada Reyo! Kamu tidak akan bisa kabur!" Keyra mencengkeram lengan Erwin.
"Minggir!!" Erwin menghempaskan tubuh Keyra dengan keras.
__ADS_1
Keyra tersungkur dan kepalanya terbentur tembok. Pandangan Keyra kabur. Keyra memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Keyra!!" teriak Tania.
Dan Keyra pun terlelap.
...❤...
Pagi hari, Deru terbangun dari tidurnya. Deru melihat di sekelilingnya. Dengan perasaan sedih, dia menatap putri kesayangannya yang terbaring lemah di kamar rumah sakit. Deru mendekati Keyra.
"Maafkan ayah, Keyra. Ayah belum bisa menjagamu sepenuhnya. Apalagi banyak masalah yang menimpa kamu selama ini. Ayah cuma bisa berdoa dan berharap semoga kamu tetap menjadi anak yang kuat, periang, dan tetap bersemangat," kata Deru mengelus kepala Keyra.
Tak berapa lama, Keyra mulai membuka matanya dengan pelan. Keyra memegang kepalanya yang masih terasa agak sakit.
"Kamu sudah sadar Keyra?" tanya Deru tersenyum.
"Ayah, dimana ini?" Keyra mencoba bangun dari tidurnya.
"Kamu di rumah sakit. Sudah tiga hari kamu tidak sadarkan diri. Apa kepala kamu masih sakit?"
"Tidak seberapa ayah. Em, Reyo dimana ayah? Aku ingin menemuinya," Keyra mulai panik.
"Reyo..."
Kata-kata Deru terpotong karena Keyra langsung terbangun dari tempat tidurnya dan meninggalkan kamarnya.
"Keyra, apakah kamu sudah baik-baik saja?" tanya Deru cemas.
Deru pun menunjukkan jalan menuju kamar Reyo. Setelah sampai di depan kamar Reyo, Deru menyuruh Keyra masuk.
"Masuklah. Ayah akan menunggu kamu di luar."
Keyra memasuki kamar dimana Reyo dirawat. Suasana sepi dan hening. Terlihat Anji dan Aldi diam seribu bahasa. Nico yang mulai menitikkan air mata. Bagas yang mencoba berbicara dengan Reyo yang terbaring di atas kasur dengan seluruh tubuh dan kepala tertutup selimut putih.
"Bangun Reyo!! Kita masih butuh kamu. Jangan tinggalkan kita seperti ini. Kamu sangat berharga bagi O-I-S," Bagas mulai menitikkan air mata.
Keyra berdiri mematung, menyaksikan apa yang ada di depan matanya saat ini. Air matanya mulai mengalir. Kakinya terasa lemas.
"Apa-apaan ini! Apa kalian semua bercanda!" teriak Keyra pada yang lainnya.
Nico, Anji, Aldi, dan Bagas hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Keyra. Keyra mulai mendekati Reyo. Keyra membuka selimut yang menutup wajah Reyo dengan pelan. Air mata Keyra mulai tumpah tak terbendung.
"Bangun Reyo! Bangun! Jangan tinggalkan aku seperti ini!" Keyra menggoyang-goyangkan tubuh Reyo.
"Jangan pergi seperti ini Rey. Kembalilah! Aku masih membutuhkanmu! Bicaralah Rey! Buka mata kamu," lanjut Keyra.
"Aku... Aku... Aku masih mencintaimu Rey! Sungguh, aku mencintaimu!" Keyra menangis tersedu dan menunduk di lengan Reyo.
__ADS_1
"Yeah!!" teriak Bagas.
Keyra yang terkejut mendengar teriakan Bagas, segera menegakkan kepalanya ke arah Bagas dan yang lainnya. Semua tertawa.
'Mengapa mereka semua tertawa, sementara Reyo...'
Keyra melihat ke arah Reyo. Reyo dengan mata terbuka dan tersenyum melihat Keyra.
Keyra terkejut.
"Kalian mempermainkan aku, Hah!!" Keyra mengusap sisa air mata di pipinya dan berganti dengan kemarahan.
"Ini yang kamu inginkan dariku, Hah!!" Keyra memukul lengan Reyo berkali-kali dengan kemarahannya.
"Tenanglah Keyra. Reyo juga masih mencintaimu," ledek Bagas.
"Tapi aku sangat membencimu Reyo!!"
Reyo segera menarik tangan Keyra yang hendak pergi. Mata mereka saling beradu.
"Apakah kamu yakin membenciku Keyra? Bukankah kamu senang aku baik-baik saja," Reyo menatap dalam mata Keyra.
Keyra terdiam.
"Bagaimana dengan ini," Reyo mengeluarkan kotak kecil berisi cincin berlian.
"Setelah melewati baik dan buruk kehidupan ini bersamamu, maukah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya, Keyra?" tanya Reyo.
Keyra terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia bingung mau menjawab pertanyaan Reyo seperti apa. Tiba-tiba dalam benaknya muncul bagaimana awal pertemuannya dengan Reyo. Hari-hari bersama Reyo. Beberapa kejadian yang dilaluinya selama ini dengan Reyo. Bahkan sampai detik ini terlintas jelas dalam benak Keyra.
"Kok malah bengong, Key!" kata Bagas menyadarkan Keyra.
"Ayo jawab," kata Aldi.
"E... Aku... Aku..."
"Aku tidak akan meminta kamu untuk yang kedua kalinya," Reyo menatap Keyra.
Lama...
"Kalau kamu tidak mau menerima ini, jadi terpaksa aku akan memberikan pada..."
"Apa kamu memaksaku! Hah!" Keyra memukul lengan Reyo berkali-kali untuk yang kedua kali.
"Auw... Sakit Key!" Reyo mulai merintih.
"Kamu tuh benar-benar nyebelin, tau nggak!!"
__ADS_1
"Mulai lagi deh," Aldi menghela napas panjang.
Reyo pun menarik pinggang Keyra.