Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Cinta Pandangan Pertama


__ADS_3

Seorang waiters menarikan kursi untuk Mario duduki.


kariawan restoran itu nampak tersenyum ramah sebelum akhirnya ia meninggalkan Mario dan membiarkan Mario melihat lihat buku menu yang tersedia.


detik berikutnya waiters itu kembali dengan segelas air mineral untuk Mario.


.


.


"Maaf mas saya terlambat." suara lembut dari seorang wanita yang kini sudah duduk dibangku depan Mario.


Untuk beberapa detik mereka saling memandang, sebelum akhirnya wanita berhijab syar'i itu menundukan pandangannya.


Mario mengerutkan kedua alis, pasalnya wanita yang ia temui sangat jauh berbeda, dari foto yang ia tahu melalui sosial media.


"Maaf mas, tadi saya mampir dulu ke bengkel." suara wanita berhijab syar'i itu terdengar sangat lembut, halus dan mampu menyihir Mario, hingga Mario terdiam terpaku.


Pria yang memiliki wajah tampan dengan mata tajam itu tak sekalipun melepas tatapannya dari sang wanita yang menundukan pandangan.


"Sebelumnya saya meminta maaf jika mas merasa keberatan dengan keputusan yang saya ambil ini. tapi saya pun ingin meminta mas untuk memahami keputusan saya." Hilya berbicara tanpa menatap wajah Mario.


ia menunduk, dan jari-jarinya mengepal.


ia sedang mengumpulkan keberanian untuk bicara.


"Permisi pak, apa sudah ingin memesan?" seorang waiters mendatangi dan bertanya


namun Mario hanya mengangkat tangan dan meminta waiters itu pergi.


"Saya sangat bersyukur seorang ustad seperti mas bersedia mengajak saya untuk ta'aruf, terlebih keluarga mas beberapa hari lalu datang dengan niat mengkhitbah saya. tapi, jujur saya belum siap untuk hubungan itu mas, saya mohon beri saya waktu untuk istihoro meminta petunjuk pada Alloh."


Mario terdiam. begitu juga Hilya.


namun Mario tersenyum setelah ia melihat Hilya yang menghembuskan nafas lega, dengan masih menundukan pandangan.


Mario dengan santai menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu ia pun, mendorong segelas air mineral miliknya yang masih utuh mendekat pada Hilya.


"Minumlah." perintah Mario dengan wajah datarnya.


"Tidak mas, terimakasi, saya membawa minum sendiri." Hilya mengambil botol minumnya dari tas ransel kecil yang ia gendong.


sehingga Mario menarik kembali gelas miliknya lalu meminum air mineral itu.


Seorang pemuda nampak celingukan seperti mencari seseorang.


dan ia segera berjalan mendekati Hilya ketika ia melihatnya.


"Assalamualaikum.." ucapnya sopan.


"Waalaikumsalam."jawab Hilya, sedangkan Mario hanya menatap kedua orang di depannya itu dengan tatapan datar.


"Maaf mbk, saya terlambat." ucapnya pemuda dengan pakaian rapih, kemeja putih dan celana dasar.


Hilya mengerutkan kedua alis lalu ia melihat kearah Mario.


Mario hanya mengangkat kedua bahunya, membalas tatapan bingung dari Hilya.


"Saya Azis mbk, maaf jika sudah membuat mbk menunggu."


"Tidak apa mas, aku juga baru sampai, ayo kita duduk di meja sebelah sana." ajak Hilya pada pemuda itu dengan berjalan terdahulu, mendekati meja didekat jendela yang hanya berjarak dua meja dari tempat Mario.


Hilya menutupi perasaan malunya pada Mario, dengan terus mengobrol bersama Azis.


.


.


Mario tersenyum ia masih memperhatikan enteraksi Hilya dan pemuda itu.


Mario menertawai kesalahan Hilya yang tidak bertanya dahulu.


"Mohon pengertiannya mas." sambung Hilya menutup pembicaraannya pada Ustad Azis.


"Tidak perlu sungkan seperti itu Ustadzah, saya memaklumi dan akan sabar menunggu hingga Ustadzah Hilya siap saya khitbah."


jawab Azis seorang pemuda dengan gelar S.PD.I. memiliki wajah tampan dan teduh. tutur katanya lembut, mencerminkan sifat dan sikapnya.

__ADS_1


Hilya masih saja menundukan pandangannya. hingga membuat tatapan Mario tak berpaling dari Hilya.


Berbeda terbalik dari Ustad Azis yang selalu menjaga pandangan, ia cenderung sering melihat luar jendela, agar tidak terfokus pada wajah gadis cantik nan lembut yang menjadi lawan bicaranya saat ini.


.


.


.


"Permisi," sapaan seorang wanita dengan pakaian minidres wanita itu tersenyum membalas senyuman Mario.


"Apa sudah lama menunggu?" tanya Rose dengan menduduki kursi didepan Mario.


"Aku tidak suka berbasa basi " jawab Mario kemudian.


Rose perlahan menarik senyumannya, kini ia memasang wajah serius dengan menatap manik Mario.


"Aku tidak menyukaimu dan tidak berniat menerima perjodohan denganmu. kamu boleh pergi sekarang." ucap Mario dengan datar.


Rose terkekeh kecil ia menertawai dirinya sendiri yang sedang di tolak seorang pria, bahkan ia diusir.


Mario melihat kearah Hilya dan Azis yang sudah berdiri akan pergi.


Rose mengikuti arah pandang Mario.


ia menyimpulkan sendiri bahwa Mario mengenal mereka berdua.


Mario berdiri


"Makanlah sesuatu." ia meletakan beberapa lembar uang pecahan 100ribu diatas meja.


tanpa berkata lagi Mario segera berjalan keluar mengikuti Hilya dan Azis.


langkahnya terburu menapaki ruangan resto, ia tidak ingin kehilangan Hilya.


dan saat ia tiba di halaman parkir, sosok berpakaian syar'i mirip seperti Hilya mengendarai motor dengan mengenakan helem tengah meninggalkan halaman resto.


Azis hendak memasuki mobilnya tapi ia urungkan dan kembali menutup pintu mobil, saat ia melihat Mario berdiri di depan pintu resto.


.


.


.


"anda pria yang bersama Hilya tadikan?" tanyanya kemudian dengan mengulas senyum ramah.


Mario tersenyum ramah dan mengulurkan tangan guna menerima uluran Ustad Azis.


"Mario Sastriaji. dari Leon Home Living."


Azis tersenyum ramah seraya melepas jabat tangan mereka.


"Aku Azis mas."


"Aku tahu, Hilya sering bercerita tentang perjodohannya denganmu."


ucapan asal tebak Mario mampu membuat Azis memasang wajah tidak nyaman.


"Apa sedekat itu mas, hubunganmu dengan Hilya?" tanya Azis penasaran.


"Entahlah dapat dikatan dekat atau tidak, tapi Hilya sering bercerita tentang masalah pribadinya padaku."


Azis manggut manggut menanggapi obrolannya denga Mario.


"Saya harap, mas bisa meyakinkan Hilya untuk menerima taaruf dari saya mas."


Meskipun Mario tidak mengerti apa arti taaruf itu, namun Mario menyimpulkannya sendiri.


"Saya ragu soal itu." jawab Mario dengan menyeringai.


"Maksud mas. apa Hilya sudah memiliki pilihannya sendiri?"


"Gadis secantik dan sepintar dia tidak mungkin jika tidak memiliki kekasih, benar bukan?"


"Hilya mengatakan dia tidak sedang taaruf dengan pria lain mas."

__ADS_1


"Begitulah wanita, mereka selalu pandai menyimpan rahasia."


"Begitu ya." Azis menganggukan kepala beberapa kali.


"Aku permisi." pamit Mario


"sebaiknya kamu menyerah saja, kamu tahukan tidak mudah bagi wanita berkata jujur, dia hanya beralasan menolakmu dengan cara halus."


Azis memperhatikan kepergian Mario ia menatapi punggung Mario.


dan memekirkan ucapan Mario.


* * *


"Mario." panggil sang ibu saat Mario hendak masuk kamarnya.


"Bu, belum tidur?" Mario melihat jam di tangannya, sudah pukul 10malam.


"Ibu ingin bicara padamu "


"Bu jika ini tentang Rose, lebih baik kita bicarakan besok pagi saja ya."


"Bukan tentang Rose, tapi tentang dirimu.


akan sampai kapan kamu seperti ini nak?"


Mario memeluk ibunya dan mengecup pucuk kepala sang ibu.


"Katakan. kali ini ibu ingin Mario berbuat apa?"


"Ibu ingin cucu."


jawab ibu dengan nada manja.


"Baiklah, beri Mario waktu 3 bulan, dalam waktu 3 bulan jika Mario gagal membawa menantu, maka ibu berhak menjodohkan Mario dengan Rose." pintanya kemudian.


"Ck ... jangan sebut nama wanita gila itu."


ucap Ibu sebal, Mario melepaskan pelukannya, dan menatap sang ibu.


"Ibu tidak menyukainya, dia datang ke rumah lalu mengadu menjelek jelakanmu." keluh Ibu.


"Dan ibu memarahinya?"


"Tentu saja, ibu memarahinya. berani sekali dia mengatakan hal buruk tentang putra kesayangan ibu." ibu menangkup pipi kiri Mario.


Mario terkekeh kecil. dengan kasih sayang sang ibu.


"Lalu siapa wanita berhijab itu?" tanya ibu kembali.


"Apa Rose yang menceritakannya?" tanya Mario.


ibu menanggapinya dengan mengangguk, dan mengusap kelapa Mario.


"Hilya." Mario menjeda ucapannya ia menunggu reaksi sang ibu.


"namanya Hilya bu," sambungnya lagi.


wajah Mario bersemu saat menyebut nama Hilya, karena Ibu pun nampak memberi tatapan mencurigakan.


"Dimana rumahnya?" tanya ibu kembali.


Mario menggeleng.


"Lalu siapa nama ayahnya, biar ibu yang menyelidiki, latar belakang keluarganya."


Mario menggeleng lagi.


hingga ibu memukul lengan Mario, membuat Mario meringis menahan sakit.


"Dasar! jika kamu tidak tahu tentangnya bagaimana kamu bisa menyukainya hah!?" pekik Ibu.


"Ini cinta pandangan pertama ibu."


"Dasar kamu ini. sudah tidur sana." perintah ibu seraya beranjak, meninggalkan Mario.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2