
Allohuakbar Allohuakbar Ashadualailahaillah, Ashadu anna muhammadarosululoh, hayyalafalashola hayyalafala qadqamatissolah qadqamatissholah allohuakbar allohuakbar lailah haillaloh..
Kumandang iqomah dari dalam masjid menggema keseluruh area pesantren.
mobil Mario terparkir di luar gerbang pesantren yang telah tertutup.
Ada desiran aneh disaat ia mendengar iqomah yang mengajak umat islam menunaikan kewajibpan diwaktu sholat 3rakaat.
Mario duduk menyendarkan punggung pada sofa kemudinya. matanya terpejam namun ia tidaklah tertidur.
Mario menoleh pada luar mobil saat seseorang mengetuk jendela kaca mobil
segera Mario menurunkannya.
"Ayo Mas kita shalat berjamaah." ajak seorang pria paruh baya dengan pakaian kurfa putih lengkap dengan peci dan sorban.
Mario terdiam menanggapi ajakan pria yang sudah berumur sekitar 50 tahun itu.
yang ia ketahui adalah kiai Rozak ayah dari Hilya Humairah.
ia sempat memeriksa latar belakang Hilya hingga kedua orangtua Hilya.
Mario mematung, ia tidak menyangka bertemu dengan Kiai besar dengan cara seperti ini.
"Mari Mas." ajaknya lagi.
Mario tersenyum dan membungkuk hormat. lalu ia membuka pintu mobil dan berdiri tegap dengan menyatuhkan kedua telapak tangan.
Wajahnya nampak sangat tegang dan berkeringat.
"Mari Mas." Kiai mempersilahkan sopan pada Mario agar mulai melangkah.
Mario membungkuk hormat seraya tersenyum ia gunakan tangan kanan untuk mempersilahkan Kiai berjalan lebih dulu setelah itu Mario mengekor menuju Masjid.
"Apakah anda sudah berwudhu?" tanya kiai Rozak pada Mario saat sudah berada di pintu masjid.
dan Mario sedang membuka sepatu, meletakannya pada pinggir pintu.
"Belum pak." jawabnya singkat
"Silahkan berwudhu dulu, saya akan menunggu untuk sholat bersama anda, sepertinya sholat jamaah ini sudah rakaat terakhir. jadi lebih baik kita sholat bersama."
"Baik pak kiai." Mario beranjak untuk mencari tempat wudhu pria.
ia membuka jas dan dasi meletakan pada gantungan yang tersedia setelah itu dia membuka kaos kaki
Menggulung kemeja dan celana.
Mario menghidupkan air kran, namun ia tidak langsung berwudhu karena ia lupa tata caranya.
Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bahkan ia pun mengacak rambutnya.
"Terakhir kali gue sholat saat usia gue 8tahun itupun karena ikut pendidikan dasar agama dan praktek di sekolah" gumam Mario pada dirinya sendiri
ia membasu tangan terlebih dulu sambil mengingat ingat urutan berwudhu.
"Ck..gue lupa dan gak bisa mengingat cara berwudhu." ujarnya lalu ia membasu wajah dan kaki saja setelah itu ia keluar dari tempat wudhu itu.
.
.
.
"Mari.'' ajak kiai setelah ia menunggu Mario di depan pintu.
Mario tersenyum sopan, berjalan mengekor memasuki masjid dan menjadi makmum dari Kiai Rozak.
Mario mengikuti gerakan sholat sang imam namun ia hanya diam tanpa membaca doa pada shalatnya.
Mario mencium tangan Kiai Rozak setelah beliau menyelsaikan dzikirnya.
"Saya pamit melanjutkan perjalanan kiai" pamit Mario kemudian.
"Hati-hati berkendara nak ini sudah malam."
"Terimakasi kiai, saya permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab kiai sebelum akhirnya Mario meninggalkan masjid.
Mario memasuki mobilnya ia memasang seatbalt dan menghidupkan mesin mobil.
"Gue ngerasa seperti punggu yang merindukan bulan" keluhnya seraya mengusap wajah lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
.
.
.
* * *
pagi hari.
Mario berlari di sekitaran komplek tempat ia tinggal mengisi waktu dihari libur.
dengan penampilannya yang hanya mengenakan celana pendek berbahan dasar dan jaket biru dengan topi hitam.
Mario berlari pelan tubuhnya sudah berkeringat karena sudah lebih dari 30menit ia berlari.
dan kini sudah kembali tiba di depan rumahnya, Mario menghentikan langkah disaat ia melihat kerumunan warga disebuah rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah miliknya.
"Ada apa ini pak?" tanya Mario pada salah satu warga yang kebetulan melewatinya.
"Itu mas terjadi KDRT di kediaman bapak Jarwok." jawab bapak tua itu.
"Lantas kenapa rame sekali?" sambung Mario.
"Iya mas, istrinya meninggal akibat pukulan dikepala."
"Astafirloh."
"Tuh polisi baru saja tiba."
Mario celinguk an melihat pada rumah yang nampak ramai itu.
"Itulah resiko menikahi seseorang yang beda keyakinan mas, menurut desas desus karena disebabkan ibu Tuti yang terlalu cerewet tentang agama mas, sedangkan pak jarwo lebih nyaman pada keyakinannya sendiri."
"O begitu pak."
"Iya mas, kalo begitu saya permisi mas. mari" pamit bapak tua itu sebelum beranjak pergi.
Mario terdiam entah mengapa ucapan tetangganya itu sangat mengganggu perasaannya.
"Tuan Mario ada telpon dari Tuan Kenzo." ujar pembantu yang baru saja menghampiri, karena Mario tak kunjung beranjak dari depan gerbang.
Mario tetap diam dengan wajah datarnya, ia meraih telpon yang pembantunya berikan.
"Halo Yo, ada apa?"
dengan mengobrol bersama Kenzo melalui sambungan telpon, Mario memasuki rumahnya.
.
.
.
"Tuan apa hendak pergi keluar?" tanya Susi sang pembantu yang selalu memakai make up tebal dengan warna merah merona pada bibirnya.
pakaian yang ia kenakan pun selalu minim dengan rok diatas lutut dan kerap memakai kaos polos. namun kelebihan Susi ialah buah dadanya yang cukup menonjol.
"Iya Sus, tolong ruang kerjaku jangan dibersihin dulu ya, ada beberapa map yang belum selesai, takutnya malah tercampur."
"Susi juga gak mau bersihin kok Tuan, karena sekarang jadwal Susi belanja bulanan" jawab Susi. ia memang cukup berani untuk ukuran pembantu rumah tangga dan kerab kali membuat Mario geram karena keberaniannya yang sering membantah perintah Mario.
"Ya sudah." Mario baru akan pergi namun tertahan karena kini lengannya sudah di pegang Susi.
"Tuan, aku ikut ya." pintanya dengan senyuman sok imut,
yang justru terlihat amit-amit dimata Mario.
"Apa sih. enggak ya!" Mario menggibaskan lengan hingga Susi melepas pegangannya.
"Kan bareng tuan, sekalian loh."
"Enggak. enak aja biasanya juga sama sopir."
"Mang diman kan cuti tuan istrinya lahiran."
"A iya aku lupa Sus. tolong bilang sama mang diman untuk sharelock alamat rumahnya, nanti sore aku mampir." Mario meninggalkan Susi, namun Susi mengikuti dari belakang.
Susi faham jika bosnya ini tidak keberatan jika ia nebeng mobilnya.
Bekerja selama 3 tahun dikeluarga Sastriaji membuat Susi mengerti karakter Mario.
Mario adalah tipe orang yang jika tidak suka ia akan malas meladeni atau mendengarkan ucapan lawan bicaranya.
__ADS_1
ia akan meninggalkan lawan bicaranya begitu saja. kalimat Ya atau Tidak bagi Susi hanya kiasan selebihnya ia akan cenderung melihat perubahan ekprsi Mario.
itulah mengapa Mario menyukai Susi, meskipun Susi sering menyebalkan dan membantah namun Susi selalu memahaminya tanpa ia pinta.
* * *
"Terimakasi tuan."
ucap Susi setelah mobil yang mereka kendarai berhenti didepan pasar tradisional.
"Kalo udah telpon aja Sus, nanti aku jemput."
"Baik tuan."
"Dan tolong belikan ikan teri ya. aku pingin sambel teri dengan cabe ijo."
"Siap tuan."
Mario mengangguk dan ia melajukan kendaraannya meninggalkan pasar.
.
.
"Tuan dia datang." bisik seorang detektif setelah mereka mengintai beberapa menit,
seorang pemuda nampak keluar dari sebuah rumah kos.
"Ikuti dia, ingat jangan sampai terlepas dia adalah saksi kunci kasus plagiat desein prusahaan kita."
"Siap tuan." detektif itu melajukan mobil bersama Mario yang duduk disebelahnya.
Mereka mengikuti pengendara motor sport yang merupakan saksi kasus plagiat desein yang sedang menimpa prusahaannya.
"Tuan sepertinya ini kediaman tersangka utamanya,"
ucap sang detektif seraya menyelisik kondisi rumah dari dalam mobilnya.
"Kita selesaikan hari ini juga pak, aku sudah terlalu jerah mengadapi mereka."
"Baik Tuan." sang detektif menghubungi rekannya memastikan kesiapan mereka, karena targetnya kali ini termasuk pandai bersembunyi dan selalu saja berhasil lolos dari penyergapan.
"Ikuti dia." pinta Mario setelah target nampak melajukan kendaraannya.
Target mengetahui jika sedang diikuti ia menambah kecepatan kendaraannya, terjadilah kejar kejaran.
Mobil yang dikemudikan detektif berhasil mendahului dan menikung kendaraan target
Hingga target tidak bisa berkutik ia, merasa terancam ia meninggalkan motornya dan berlari,
Mario mengejar dan memasuki gang gang sempit di pemukiman.
Mario dan detektif berpencar untuk mengepung. mereka berlari menyusuri gang karena kini mereka kehilangan target.
Tiba pada sebuah gang dan ternyata Mario berhasil menghadang target.
Bug..
Satu tonjokan dari Mario mendarat di perut target.
Tak ingin mengalah targetnya pun melawan dengan memberikan tendangan berputar dan mengenai wajah Mario hingga sudut bibirnya berdarah.
"Aishh ..sial."
Mario meludah mengeluarkan darah didalam mulutnya.
Bug...
Hantaman tangan Mario pada wajah targetnya, mampu melumpuhkan sang musuh hingga tersungkur.
tak berhenti disitu Mario menginjak perut targetnya,
Hingga sang target mengeram.
lalu Mario menarik kera baju targetnya hingga berdiri kembali.
tubuhnya sudah lemah jika Mario melepaskan cengkraman kera bajunya sudah dapat dipastikan targetnya jatuh karena tidak bisa berdiri menopang tubuhnya sendiri akibat pukulan yang Mario berikan.
tidak jauh dari situ sepasang mata menyaksikan kebengisan yang Mario lakukan.
Hilya mematung dengan bola mata yang berkaca dan kaki gemetar.
lagi lagi ia menyaksikan kebengisan Mario.
__ADS_1
* * *
Bersambung.