Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Drama Bocil Belum Usai


__ADS_3

Meja sarapan pagi ini terasa berbeda karena kursi yang biasanya kosong telah terisi dengan kehadiran Kenzo setelah beberapa bulan berkelana keliling dunia bersama sang istri, untuk menebus bulan madu yang tertunda.


Kenzo menatap intens pada Mario karena sejak tadi Mario hanya menusuk nusuk roti yang berada dipiringnya dengan tatapan kosong mengarah lurus ke depan.


"Yo." panggil Kenzo pelan, namun Mario tidak merespon.


"Yo." panggil Kenzo lagi dan tetap sama tidak direspon.


"Yo!" pekik Kenzo dengan sedikit bertriak karena kesal.


"Ck.." Mario menatap sengit pada Kenzo.


hingga membuat Kenzo salah tingkah dan tidak nyaman dalam duduknya.


"ada apa?" tanya Mario kemudian dengan menatap malas pada Kenzo.


"Ke..kenapa?" Kenzo bicara terbata dengan sendok mengarah pada Mario.


"Apanya yang kenapa?" Mario memilih bersikap bodoh.


"Aaaaaaaaahhhhhh.....!!!" teriakan Pelangi di dalam kamar terdengar hingga lantai bawah.


Kenzo segera berlari terburu bahkan ia terjatuh ketika menaiki tangga karena kurang berhati-hati.


Kenzo bangkit lagi dan berlari pincang dengan satu sandal karena sandal satunya tertinggal saat ia jatuh dan tidak sempat memakainya.


Mario menghela nafas panjang menyaksikan tingkah konyol Kenzo yang panik hanya mendengar jeritan istrinya.


Mario teringat kembali luka hati yang sedang ia alami karena wanita.


Brak...


Kenzo membuka kasar pintu kamar menampakan sosok Pelangi tengah berdiri mematung dengan masih mengenakan handuk mandinya.


"Sayang ada apa?" Kenzo berhambur memeluk erat tubuh mungil istrinya yang masih menegang.


"Sayang." Kenzo melepas pelukannya demi menatap wajah Pelangi.


"apa ada cicak lagi dimana, dimana cicaknya aku akan menembaknya." Kenzo tidak memberikan Pelangi kesempatan untuk bicara.


"sayang ayo katakan sesuatu, jangan membuatku semakin cemas." Kenzo menggoyang goyangkan kedua bahu Pelangi agar Pelangi mampu menguasai dirinya karena saat ini Pelangi hanya diam dengan bengong, tatapan matanya bahkan kosong.


"Om" ucap Pelangi setelah ia sadar. lantas memeluk erat Kenzo ia membenamkan wajahnya pada bidak dada lebar Kenzo.


namun terdengar pula isakan disana.


Kenzo semakin dibuat bingung karena tanpa ia tahu penyebabnya istri kesayangannya tengah menangis tersedu-sedu.


Kenzo mengusab ujung kepala Pelangi dan mengecubnya.


"Tenanglah sudah ada aku disini." ungkap Kenzo karena ia tahu cicaklah yang harus bertanggung jawab di balik tangisan Pelangi.


"Om aku..aku.." ucapnya dengan terbata karena terisak.


"hussstt...aku tahu, kamu tidak perlu mengatakannya. aku akan meminta mang diman membunuh mereka." Kenzo menyela.


"Apa!" pekik Pelangi seraya mendorong tubuh kekar Kenzo.


hingga membuat Kenzo menatapnya bingung.


"Iya sayang aku akan membunuhnya kamu tenanglah." pinta Kenzo dengan merentangkan tangan agar Pelangi berhambur pada pelukannya.


"Dasar suami tidak bertanggung jawab! tega sekali kamu membunuhnya! setelah apa yang kamu lakukan padaku!" Pekik Pelangi dengan suara bergetar menahan tangis dan marah.


"Sayang ini bukan yang pertama kali aku membunuh mereka, jadi mengapa kamu sangat marah?" tanya Kenzo.


"Kakakkkkk!!!" teriak Pelangi dengan meninggalkan kamarnya.


"Kakak..." panggil Pelangi pada Mario dengan menuruni tangga dan menangis meraung.

__ADS_1


"Aishhh sial.." gumam Kenzo frutasi mengekor di belakang Pelangi.


Mario menghela nafas dia semakin merasa frutasi terlebih dengan kelakuan pasangan suami istri beda usia yang selalu saja mengusik ketenangan jiwanya.


"Kak" keluh Pelangi setelah berdiri di samping kursi tempat Mario duduk menyatap sarapan.


Pelangi mendramatis tangisan dan ekprsi wajahnya.


Mario berdiri dan membiarkan Pelangi memeluk tubuhnya erat.


Kenzo menggaruk tengkuknya ia bingung dengan drama dipagi hari yang sedang istrinya lakukan.


"Ada apa?" tanya Mario dengan mengusab rambut basah Pelangi yang tergerai.


"Dia jahat kak, dia mau bunuh anak aku." keluh Pelangi hanya ditanggapi anggukan oleh Mario.


"Tidak, tidak aku tidak__..." Kenzo menggantungkan ucapannya.


Sementara Mario terlihat bengong setelah ia menyadari ucapan Pelangi.


Mario dan Kenzo saling menatap mencoba mencerna ucapan Pelangi.


Mario memegang kedua bahu Pelangi agar mampu menatap wajahnya.


"Kamu hamil cil?" tanya Mario dengan ekprsi yang sulit diartikan.


entah sejak kapan Kenzo perpindah tempat menjadi berada di dekat mereka.


Kenzo menyingkirkan kedua tangan Mario mengambil alih kedua bahu Pelangi.


"Sayang a..ap..apa be benar kamu hamil? tanya Kenzo dengan terbata.


namun Pelangi menyibakan tangan Kenzo dari sisi pundaknya.


lalu Pelangi berpindah posisi kembali menghadap Mario seraya tersenyum dan mengangguk Pelangi pun memamerkan tespeck yang ia pegang.


"Alhamdulilah ..." ucap syukur Mario dan Kenzo bersama mengiringi senyum bahagia mereka.


"sayang." Kenzo meraih telapak tangan Pelangi namun Pelangi segera menepisnya.


''sayang apa kamu marah padaku? aku tidak seperti yang kamu pikirkan, aku mohon maafkan aku." sesal Kenzo


"Kakak ayo temani aku ke dokter kandungan." pinta Pelangi dengan senyuman manis bahkan Pelangi bergelayut manja pada lengan Mario.


"Sayang jangan gitu dong." sahut Kenzo.


Mario menghela nafas berat ia semakin merasa lelah dan mager.


"Kalian selesaikan dulu debatnya, setelah itu hubungi aku." Mario meraih tas berisi berkas-berkas kantor yang tergeletak di atas kursi kemudian ia berjalan meninggalkan berdebatan pasangan suami istri yang kerab membuatnya frutasi.


* * *


"Tuan apa anda baik-baik saja?" tanya Anju setelah mobil mereka melaju berbaur dengan pengendara lain di jalanan yang padat.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Mario menjawab namun ia enggan berpaling dari selembar kertas yang berada di map.


Anju terdiam dengan jawabpan Mario, ia melirik kaca sepion menyelisik raut wajah bosnya itu.


"Tuan." namun kali ini Anju menggantungkan ucapannya ia ragu untuk mengatakanya.


"Ada apa, cepat bicara sebelum aku menghajar mu." ujar Mario seraya menandatangani kertas yang baru selesai ia baca.


Anju nampak berfikir ia ragu untuk melanjutkan ucapannya.


namun Mario menatapnya intens hingga Anju merasa tertekan.


meskipun hanya melalui kaca sepion namun Anju dapat merasakan hawa angker dari balik kemudinya.


"Tuan sebaiknya kita menunda pertemuannya saja." ungkapnya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Mario penasaran.


Anju terdiam.


"Katakan." Mario memalingkan wajah menghadap jendela kaca tepat disampingnya.


"Nona Hilya sedang melakukan sesi pemotretan di lokasi, tuan." ujarnya lagi dengan sangat hati-hati.


"Lalu?" sahut Mario datar.


Anju terdiam, ia kembali melirik tuannya dari balik kaca sepion.


"Apa anda baik-baik saja tuan?"


Mario tersenyum mendengar pertanyaan dari Anju.


"Apa kamu sedang mengkhawatirkan ku atau sedang mengasihaniku?" tanya Mario dengan senyuman mengejeki dirinya sendiri.


"Maafkan kelancangan saya tuan."


Mario menghembuskan nafas dalam.


"Apa mereka melakukan prewed?"


"Sepertinya begitu tuan." jawab Anju singkat.


Mario kembali mengulas senyum saat Anju melihatnya dari pantulan kaca sepion.


"Saya akan mengatur ulang jadwal pemotretannya tuan." kata Anju seraya menepikan mobil di jalanan yang sepi.


"Tidak." tegas Mario.


"tidak ada waktu lagi untuk menundanya, lagipula kawasan itu sangat luas, dan apa yang kamu khawatirkan, bahkan aku tidak memikirkannya sedikitpun."


"Baik tuan."


"Apa model kita sudah tiba di lokasi?" tanya Mario, setelah mobil mereka kembali melaju.


"Sudah tuan, bersama rombongan yang lain."


Mobil mereka memasuki kawasan hutan pinus yang biasa di buka untuk umum sebagai tempat wisata.


"Pastikan semua berjalan dengan lancar." tegas Mario pada Anju.


"Baik tuan."


Anju membuka pintu mobil untuk Mario setelah mobil terparkir rapih.


rekan kerja pun sudah nampak berkumpul di lokasi mereka sibuk dengan tugas masing2.


Mario berjalan menghampiri seorang wanita yang nampak sibuk mengoleskan makeup pada wanita yang akan menjadi model dalam pemotran iklan dari produk baru yang Mario garap.


Yakni produk sepeda gunung atau sering pula disebut MTB atau mountain bike, sebuah bisnis yang baru Mario jajaki hasil bekerjasama dengan prusahaan asing.


"Pak" sapa Yuni yang baru saja menghampiri.


"ada kendala pada model pria nya pak, dia mendadak sakit dan harus cuti bekerja." ucap Yuni dengan sangat hati-hati.


"Aishhh .." Mario mengacak-acak rambutnya, ia sudah sangat frutasi dengan pekerjaan dan masalah pribadinya.


"Apa yang harus kami lakukan pak?" tanya Yuni lagi.


Mario nampak berpikir.


"Dimana Anju?" tanya Mario pada Yuni.


Yuni menoleh ke kiri kekanan guna mencari sosok Anju diantara kerumunan para staf.


"Kemari." perintah Mario pada Anju melalui panggilan ponselnya.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2