Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Kesalahan Pertama


__ADS_3

Teriknya matahari tidak menyulutkan semangat Hilya berserta santriwati untuk berbuat kebaikan.


"Terimakasih." ucap seorang tunawisma yang ia jumpai di jalanan saat Hilya memberinya sekotak nasi.


"Ustadzah apa sudah selesai semua?" tanya seorang santri yang baru saja menghampirinya dengan membawa pelastik merah besar yang sudah kosong.


"Sudah, milik kalian sudah habis?" tanya Hilya pada santriwati yang turut dalam kegiatannya membagikan kotak nasi.


"Ustadzah, apa tidak apa apa ustadzah melakukan ini setiap pagi?" tanya seorang santriwati remaja.


Mereka berjalan di trotoar dengan mengobrol.


"Tentu saja, memang ada apa kenapa kamu bertanya seperti itu?" jawab Hilya berbalik bertanya.


"Apakah tidak merugikan ustadzah? dan setiap pagi nasi kotak itu selalu berisikan uang jika ditotal keseluruhannya mungkin sekarang sudah dapat membeli rumah mewah."


"Iya Ri padahal baru 1bulan berjalan ya." timpal santri lainnya.


Hilya tersenyum menanggapi pertanyaan mereka.


"Tidak ada kata rugi untuk suatu perbuatan baik dan Alloh selalu mengganti pada harta yang kita sedakohkan bahkan Alloh melipat gandakan apa-apa yang kita keluarkan didalam sabililah."


Mendengar penuturan Hilya 3 santriwati itu terlihat mengangguk mereka belajar untuk bersedakoh dengan ikut serta dalam prakteknya.


"Lalu bagaimana hukumnya jika sedakoh hanya mengharapkan lipatan harta dari Alloh tanpa memikirkan pahalanya ustad?"


Hilya kembali tersenyum.


"Itu adalah niat yang salah. meskipun pada dasarnya Alloh selalu membalas perbuatan baik kita sesuai dengan apa yang kita niatkan, tapi alangkah baiknya jika kita selalu berniat tulus pada apa apa yang kita kerjakan. termasuk selalu menjaga niat."


"Baik ustad." jawab mereka kompak.


"yok pulang, sepertinya tugas hari ini selesai lebih cepat. nex kita ke jalan beruang ya." ucap Hilya


"Iya ustad, aku dengar di daerah itu banyak tunawisma yang bermukim di bantaran sungai."


"O begitu. berarti ustad harus melebihkan isinya ya."


Mereka terkekeh mendengar ucapan ustadzah yang sangat bernafsu jika mengenai sedakoh.


"Ayo kita kembali ke pesantren, sepertinya teman-teman yang lain pun sudah menyelsaikan tugasnya." ajak Hilya pada 3 santriwati didiknya.


"Baik Ustadzah." seruh mereka bertiga kompak.


Mereka berdiri di trotoar menunggu kendaraan nampak lenggang hingga mereka dapat menyebrang.


namun Hilya menajamkan pandangannya saat ia melihat Susi yang baru menaiki bis.


"Kalian pulang duluan ya, nanti Ustad menyusul."


"Baik ustad." para santri meninggalkan Hilya dengan menaiki taksi.


Hilya berjalan dan turut menaiki bis yang sedang berhenti menunggu penumpang.


Hilya celingukan mencari Susi, lalu ia duduk di kursi tepat belakang Susi.


"Aku akan mengatakan padanya bahwa suaminya sudah merayuku." gumam Hilya pelan.


"tapi__" Hilya mengantungkan ucapannya.


"apa buktinya jika Pria itu sudah merayuku?" Hilya nampak berfikir.


"dan aku tidak terlalu yakin apakah pria itu merayuku? bagaimana jika aku hanya merasa kepedean saja? dan bagaimana jika pria itu menyangkalku, lagipula dia tidak pernah menyatakan cintanya."


gumam Hilya sangat pelan


"aku hanya akan terlihat bodoh aku akan pulang saja."


Hilya melihat jam yang melingkar ditangan.


lalu ia memejamkan mata menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


kelibatan bayangan tentang Mario dan Susi kembali melintas di pikirannya.


Hilya membuka matanya.

__ADS_1


"Pria itu sungguh kejam ia tidak mengurus istrinya dengan baik. pakaian dan gayanya sangat berbeda dari istrinya. lagipula bukankah dia memiliki mobil mewah, lalu mengapa dia membiarkan istrinya naik bis."


Hilya menegakan kepala demi melihat Susi yang duduk di bangku depannya.


sementara bangku disamping Susi sudah terisi oleh seorang nenek.


Hilya menghela nafas niatnya untuk pindah duduk bersama Susi gagal.


Bis berhenti di halte dan Susi nampak berdiri.


Hilya sadar bahwa Susi hendak turun maka Hilya segera berdiri dan mengekori Susi menuruni bis.


Hilya mengikuti Susi ia ingin sekali memanggil namun suara Hilya tercekak ditenggorokan tak dapat ia keluarkan, hingga ia mengikuti Susi sampai pada sebuah gedung perkantoran.


Susi memasuki lobi berbarengan dengan Mario yang hendak keluar kantor.


Susi menghampiri Mario, sedangkan Hilya sembunyi dibalik tiang besar.


"Ini tuan." Susi merogo tas kecilnya lalu menyerahkan flasdish pada Mario.


saat Hilya mengintip dari balik tiang besar Mario sempat melihatnya, hingga akhirnya Hilya menarik wajahnya kembali bersembunyi.


"Mati aku, sepertinya dia melihatku." gumam Hilya.


tiba-tiba saja Mario sudah berdiri di belakangnya.


"He'em!" Mario bersuara.


hingga membuat Hilya menoleh ke belakang.


"Astafirloh!" pekiknya seraya memegangi dada karena ia terkejut.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Hilya pada Mario.


"Aku?" jawab Mario sedikit bingung.


"Tentu saja bekerja apa lagi?" jawab Mario benar adanya karena ini kantor Lion Home Living milik Kenzo yang berada dibawah kepemimpinan Mario.


"Aku tahu kamu bekerja, tidak ada seseorang yang kemping di kantor." jawab Hilya kembali.


"Lalu kenapa kamu disini?" tanya Mario dengan menyelisik.


"Aku, aku" Hilya sedang berfikir mencari alasan yang tepat.


Mario tersenyum imut.


"Kamu merindukanku?" ucapnya hingga membuat Hilya membuka mata lebar.


"Ya alloh, aku pikir setelah kepergok kamu akan mengakui kesalahan tapi nyatanya tidak, kamu justru secara terang-terangan merayuku. dasar tidak tahu malu!" cecar Hilya membuat kariawan yang mendengar seketika saling berbisik.


Mario memasang wajah lugu.


"Ada apa, apa yang salah?" tanyanya dengan penuh hati-hati.


"Tuan, saya permisi." ucap Susi dari jarak aman.


"Tunggu!" seruh Hilya hingga Susi terpaku.


Hilya berjalan menghapiri begitu sudah dekat Hilya meraih kedua telapak tangan Susi dan menggenggamnya.


"Tolong jangan salah faham denganku." ucapan Hilya membuat Susi beralih menatap Mario namun Mario hanya mengangkat bahu tanda ia pun tidak mengerti.


"aku mengerti posisimu yang tidak dipedulikan oleh suami, semoga Alloh selalu memberimu kekuatan untuk melalui cobaan, jangan pernah merasa kecil hati mbk."


"A..apa maksudnya?" tanya Susi.


"Maaf tapi mbak harus tau, bahwa suami mbak, dia__" hilya berganti menoleh pada Mario.


"Suami?" tanya Susi kembali


Hilya mengangguk.


"Tapi aku masih gadis ting-ting." jawab Susi.


"Apa?!" Hilya melepas tautan tangannya dari telapak tangan Susi.

__ADS_1


Mario nampak menahan tawa dengan masih menjaga jarak dari mereka.


"Saya permisi mbak." Susi membungkuk sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Hilya dan mendekat pada Mario.


"tuan saya pulang dulu." ucap Susi seraya membungkuk hormat.


"Jangan lupa ya Sus aku ingin makan sayur asem dan sambal." pesan Mario pada Susi.


"Baik tuan, bolehkah aku bertanya?" jawab Susi.


"Apa?"


"Jadi kapan tuan ada rencana mengubah menu makan?"


"Maksudnya?" Mario berbalik bertanya.


"Lidah anda blasteran tapi menu makanan selalu masakan orang desa." ungkap Susi, hingga membuat Mario terlihat menatapnya datar, menyadari hal itu Susi segera membungkuk dan pergi.


"Dia selalu saja menghina makanan paporitku." gumam Mario pelan. seketika ia sadar masih ada Hilya. saat ia menoleh ke arah Hilya, ternyata Hilya sudah hendak berjalan pergi.


"Tunggu!" seru Mario menghentikan langkah Hilya.


Mario berjalan mendekat.


"Jadi berikan aku alasan yang tepat untuk keributan yang kamu lakukan di kantorku." pinta Mario.


Hilya berbalik mengadap Mario, sejenak menatapnya hingga akhirnya ia menundukan pandangan.


"Ayo." tagih Mario.


"Maaf aku sudah berperasangka buruk tentangmu." tegas Hilya.


"Oh begitu, sayang sekali, padahal aku sangat menyukaimu." ungkap Mario hingga mendadak membuat Hilya merasakan jantungnya kembali tidak normal.


tangan Hilya menyelusub masuk kedalam hijab lalu memegangi dada.


'Jantungku kambuh lagi, apakah aku akan mati disini?' batinnya cemas.


"Ayo jawab." Mario kembali menegaskan.


"Apa?" Hilya reflek mengangkat wajah menatap Mario hingga netra mereka bertemu untuk sekian detik saling memandang sebelum akhirnya Hilya kembali menundukan pandangan.


"Maaf aku harus pulang." ungkap Hilya lalu ia berjalan terburu meninggalkan Mario yang masih terpaku menatapi kepergian Hilya.


'Astafirloh, apa yang aku lakukan?' batin Hilya mengerutuki dirinya sendiri.


Yuni berjalan mendekat setelah beberapa menit yang lalu ia berdiri tak jauh dan mendengarkan percakapan mereka.


raut wajahnya nampak tidak suka namun Yuni segera menguasai kembali dirinya.


"Pak, rapat dimulai 3menit lagi." ungkap Yuni dengan membungkuk hormat.


tanpa mengatakan apa-apa Mario berjalan meninggalkan Yuni menuju lif dengan sebuah flasdish yang ia terima dari Susi.


* * *


Hilya berdiri di halte bis yang tak jauh dari kantor Mario.


saat itu juga datanglah sebuah mobil yang ia ketahui sering digunakan oleh Mario.


Hilya sedikit kecewa saat yang keluar dari dalam mobil bukan Mario tapi seorang pria yang mengenakan pakaian seragam sopir.


"Nona. Pak Mario meminta saya untuk mengantar anda." ajak sopir itu.


"Tidak pak terima kasih, saya akan naik bis saja." tolak Hilya.


"Nona saya mohon karena jika Nona menolak Pak Mario akan memecat saya."


"Apa?"


"Maaf Nona silahkan ikut saya." sang sopir membungkuk hormat lalu ia membuka pintu mobil agar Hilya bersedia ikut dengannya.


"Baiklah." ujar Hilya menyanggupi ia pun nampak memasuki mobil.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2