Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Perasaan Yang Terbuang


__ADS_3

Sesi pemotretan berjalan lancar dengan Anju sebagai model pria menggantikan model yang berhalangan datang.


Hanya perlu polesan sedikit dan mengganti gaya pakaian serta tatanan rambut, Anju sudah seperti seorang model profesional.


Dengan tubuh tinggi dan berotot serta wajah originil yang manly menunjang penampilannya.


Mario terus memperhatikan, mengikuti sesi pemotretan, dengan berpindah pindah tempat. tak jarang ia mengatur pose dan beberapa riasan dari sang model iklan.


Hutan pinus yang lebat serta suasana alam yang asri sungguh menjadi suatu kenikmatan tersendiri.


Waktu kian berlalu, tanpa terasa hari sudah sangat sore.


Para kru tengah berkemas karena pemotretan pun sudah selesai.


Langit sore nampak gelap karena mendung, membuat para pengunjung segera meninggalkan lokasi.


Anju pun nampak sudah kembali siap dengan setelan jas yang selalu ia kenakan.


Anju berjalan mendekat lalu membungkuk hormat pada Mario yang tengah berdiri di samping mobilnya dengan menyandarkan tubuh pada pintu mobil yang tertutup.


Mario terpaku ia terdiam dengan pandangan lurus kedepan.


melihat ekprsi itu lantas membuat Anju turut menoleh kebelakang.


sosok wanita dengan hijab syari berwarna mocca berpadu dengan setelan gamis tosca dan seorang pria yang juga mengenakan pakaian senada tengah berjalan beriringan, nampak mereka mengulas senyum disela sela obrolan mereka.


Anju kembali melihat pada Mario ia masih terdiam menatapi kepergian Hilya yang mulai menjauh bersama Ustad Azis.


"Mari tuan." suara Anju menyadarkan Mario, segera Mario memasuki mobil yang sudah Anju buka pintunya.


Mobil yang Mario kendarai bersama Anju melaju melewati Hilya dan Ustad Azis yang saat itu sedang mengobrol, Hilya tak henti-henti tersenyum bahkan nampak terkekeh kecil.


namun Mario masih tetap menampakan wajah datarnya.


ia duduk dengan bersandar pada sandaran kursi belakang kemudi.


Wajahnya ia miringkan kearah jendela hingga ia dapat melihat dengan jelas wajah Hilya saat ia melewatinya.


Anju memperhatikan dari balik kaca sepion.


"Perhatikan jalanmu." perintah Mario karena ia tahu Anju selalu memperhatikan dirinya melalui kaca sepion.


"Maaf tuan."


"Nju," ujar Mario menggantungkan ucapan.


"apa kamu pernah jatuh cinta?" sambung Mario.


namun Anju masih diam.


"Kamu tahu Nju, ini pertamakali aku jatuh cinta, dan ternyata Garis Takdir mengharuskan aku untuk merasakan kekecewaan."


Mario memejamkan mata ia mencari posisi nyaman untuk istirahat.


"Aku ingin mampir minum sebentar." perintahnya kemudian.


"Tapi tuan." Anju tidak berani berbicara banyak, namun ia sungguh tidak membenarkan sikap Mario yang terlalu sering mabuk-mabukan.


.


.


.


"Tuan, sebaiknya kita pulang saja." pinta Anju.

__ADS_1


"Kamu mulai cerewet. pulanglah aku ingin sendiri."


"Tidak tuan aku akan menemani anda."


"Terserah." ujar Mario dengan berlalu meninggalkan Anju.


* * *


Entah sudah berapa botol minuman keras yang Mario habiskan botol botol kosong berserakan di atas meja bersama putung-putung rokok alunan musik yang mengepakan telinga sangat mengganggu bagi Anju, namun ia enggan meninggalkan bos yang sudah banyak membantunya.


Mario berdiri dengan tubuh gontai namun Anju selalu sigap menopang tubuhnya agar tidak tumbang dilantai.


"Tuan apa anda masih kuat berjalan?" tanya Anju.


Mario hanya mengangguk namun dengan anggukan konyol layaknya orang yang mabuk oleh minuman keras.


"Tuan ayo, aku akan mengantar anda." kata Anju seraya memapa tubuh Mario.


Anju membantu Mario menempatkannya pada kursi belakang.


menutup pintu mobil setelah dipastikan Mario duduk dengan nyaman.


baru setelah itu Anju memasuki mobil bersiap menyetir.


* * *


Hilya berlari tergesah-gesah di koridor rumah sakit nampak kecemasan pada raut wajah gadis berusia 23tahun ini.


"Umi.." Hilya memeluk umi begitu ia memasuki ruang rawat Abi.


"bagaimana bisa Abi seperti ini Mi, saat pagi tadi Abi baik-baik saja." tanya Hilya seraya melepas pelukan, ia menatap sendu pada wajah pucat Abi.


"Maaf menyembunyikan dari mu nak. Abi sudah sejak lama mengidap penyakit jantung kami selalu rutin mengontrol kesehatan Abi, tapi saat setelah kamu pergi Abi mendadak drop dan kami tidak bisa langsung mengabari kamu karena akan mengganggu acara prewed, kamu tahu benar bagaimana Abi menginginkan pernikahanmu dengan Ustad Azis."


Hilya menidurkan kepala pada lengan Abi dengan memeluk tubuh Abi yang masih tak sadarkan diri akibat pengaruh obat.


dan layar menunjukan grafik denyut jantung Abi.


"Dokter mengatakan kondisi Abi sudah membaik jadi kamu tidak perlu cemas nak."


"Bagaimana Umi bisa menyembunyikan ini dari Hilya bahkan saat Hilya sudah berada di rumah, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Abi, Hilya akan sangat menyesal Mi."


Umi terdiam ia tidak bisa lagi berkata-kata ia menatap sendu pada Hilya lalu mengusab ujung kepala Hilya.


"Semua akan baik-baik saja nak."


"Amin. dan harus baik-baik saja Umi."


Umi mengangguk seraya tersenyum simpul menutupi keresahan yang ia rasakan.


"Lebih baik kamu pulang ya nak, gantikan Abi untuk mengisi halaqah bagdha subuh." pinta Umi dengan menggenggam tangan Hilya dan menatapnya.


"Biarkan Hilya meminta Ustad Ridwan untuk menggantikan Abi, Mi."


"Tidak nak, Ustad Ridwan sudah mengurus santri malam ini, sedangkan Ustad kori mengisi materi faroit siang hari, kasian mereka jika harus kita bebani dengan pekerjaan Abi."


"Baiklah Umi, Hilya akan pulang dan kembali besok pagi dengan membawa sarapan untuk Umi."


Umi mengangguk dengan menangkup pipi Hilya.


* * *


Mobil Mario mendadak mogok, sedangkan Mario masih tidak sadarkan diri, Anju menoleh kebelang melihat Mario yang masih terlelap di bangku belakang.


"Aku akan memeriksa mesinnya." Anju membuka pintu dan keluar.

__ADS_1


Asap nampak mengepul dari mesin mobil.


ketika Anju membuka kap mobil.


Anju menoleh kiri dan kanan mencari letak bengkel namun jalanan ini termasuk jalanan yang sepi.


bahkan tidak ada rumah di jalanan ini.


Anju mengotak atik sendiri mesin mobil dengan sedikit pengetahuannya tentang otomitif.


"Sepertinya air radiator kering." Anju berjalan guna mengambil air yang ia punya di dalam mobil.


namun ternyata ia tidak memiliki persediaan air.


"Aku akan mencarinya sepertinya di ujung jalan terdapat Alfamart."


Sebelum pergi Anju melihat pada Mario yang masih tertidur ia ragu untuk meninggalkannya, namun ia harus jika ingin mobilnya kembali menyela.


"Tuan aku akan segera kembali." pamitnya pada Mario.


"Hemmm..." ucap Mario dengan setengah kesadarannya.


15menit berlalu namun Anju tidak kunjung datang hingga Mario terbatuk batuk dalam ketidak sadarannya.


Sorotan lampu motor menembus kaca mobil membuat Mario membuka mata sayubnya.


Mario kembali terbatuk ia pun merasa pusing pada kepalanya.


Hilya menghentikan motornya tepat di depan mobil Mario yang kapnya terbuka.


tanpa ragu Hilya segera turun dari motor dan melepas helemnya.


ia ingat betul itu mobil milik Mario.


"Apakah terjadi sesuatu?" gumamnya, lalu Hilya mengintip pada jendela mobil dan ia melihat Mario yang terbatuk batuk di dalam mobil.


Hilya memegang handel pintu hendak membuka pintu mobil, sedikit keraguan ia tepis begitu saja.


"Mas." ucapnya memanggil Mario yang dalam keadaan setengah sadar karena mabuk.


Hilya segera merogo tas kecilnya memberikan Mario minum dari botol mineral miliknya yang isinya sudah setengah.


"Minumlah." Hilya masuk kedalam mobil ia duduk disamping Mario guna membantu Mario meneguk air meneralnya.


Mario menghabiakan isi dari botol itu melalui tangan Hilya.


"Apa kamu baik-baik saja mas?" tanya Hilya dengan menatap raut pucat Mario.


"bau apa ini?" gumam Hilya lagi, karena ia sungguh tidak pernah mencium bau minuman keras.


Mario menatap intens pada Hilya, sesaat Hilya terpaku dengan mata elang yang sayup milik Mario.


"Maaf." ucap Hilya ia bergerak hendak keluar dari mobil.


Mario meraih lengan kecil Hilya hingga membuat Hilya tertahan ia kembali menoleh pada Mario.


"Maaf mas, tolong lepaskan aku." pinta Hilya dengan rasa tidak nyaman mulai menggelayutinya.


ia sudah memahami meskipun dengan perkiraan yang tidak pasti. namun melihat raut Mario dan tingkahnya yang tidak biasa Hilya menyimpulkan itu bau minuman keras bercampur rokok.


"Lepaskan aku mas." pinta Hilya. seraya menggerak gerakan lengannya berusaha melepas genggaman Mario.


Mario menarik lengan Hilya hingga Hilya terjatuh kedalam pelukannya.


* * *

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2