Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Masih Ada sisah Cinta.


__ADS_3

"Aku ingin makan di angkringannya," ungkap Hilya saat Mario sudah membelakanginya.


Entah mengapa permintaan sederhana itu mampu membuat Mario merasa sangat bahagia hingga ia tak henti tersenyum, ia memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat laju detak jantung yang terlalu kencang.


"Aku akan meminta Rani serta Loli untuk menemani." ujar Mario dengan tanpa berbalik badan.


Sungguh ia tak sanggup menampakan wajahnya pada sang istri karena ia merasa sangat gugup.


"Tidak. jangan ajak mereka" tolak Hilya.


"Dia sedang beralasan mencari kesempatan untuk menggoda mereka." gumam Hilya selanjutnya.


"Baik, kita akan pergi berdua saja."


"Tidak. Aku tidak ingin berdua saja."


Mario nampak berfikir.


"Dia selalu pandai mencari keuntungan" gumam Hilya.


"Baiklah tunggu sebentar." Mario meninggalkan Hilya, meletakan mangkok berisi bakso di atas meja lalu ia mengotak atik ponselnya dengan masih membelakangi Hilya.


"Apa yang dia lakukan, Apa dia akan memesan lewat online? lihat saja aku tetap tidak ingin memakannya."


"Tunggulah beberapa menit lagi pesananmu datang." ucap Mario setelah ia mengantongi ponselnya kembali.


Mario meninggalkan Hilya, keluar rumah ia memilih duduk di teras sembari menunggu Anju datang.


Lagi, Hilya merasa sikap Mario nampak jauh berbeda.


ia terus berfikir bahwa perubahan itu karena wanita lain.


"Kadar kebusukannya sangat jelas." Hilya menatapi punggung Mario yang duduk di teras pintu.


Nampak Mario sedang fokus pada ponselnya.


Mario tersenyum saat membaca pesan dari Anju, segera ia bangkit betapa terkejutnya dia saat berbalik Hilya berdiri tepat di depannya dengan jarak begitu dekat.


Mata Mario membulat sempurna, reflek ia berbalik, kembali membelakangi Hilya.


'Jantungku.' Mario meremas telapak tangan, lalu memegangi dadanya.


'Astafirloh, Astafirloh, ya Alloh aku bisa mati muda jika terus begini.'


Tidak ada yang bersuara, mereka saling diam, Hilya dengan perasangka buruknya dan Mario dengan cinta yang selalu membuat detak jantungnya tidak normal.


Hilya memandangi punggung Mario dengan sangat intens. Bidak punggung yang terlihat lebar serta kokoh itu membuat Hilya terpaku.


Namun detik berikutnya Hilya tersenyum masam, ia menertawai dirinya dan takdir yang membawanya pada posisi seperti sekarang.


ia merasa bodoh karena dahulu sempat menganggap Mario pria baik-baik.


"Tuan." Anju membungkuk memberi hormat.


"Mereka sudah tiba di pelataran depan." sambung Anju.


'Apa yang akan dia lakukan dan siapa yang pria ini maksud?' Hilya hanya mampu bertanya pada diri sendiri, ia terlalu malas untuk bicara pada kedua pria di depannya.


Mario menatap Anju, ia tidak bersuara hanya sebuah lirikan yang ia berikan pada Anju. Seketika membuat Anju faham dan melihat pada Hilya yang berdiri di belakang Mario.


"Nona Muda, silahkan ke depan untuk menikmati pesanan anda."


"Hah?" Hilya masih tidak mengerti dengan ucapan Anju.

__ADS_1


ia nampak berfikir namun ia pun mengekori Anju berjalan meninggalkan Mario.


"Silahkan Nona," Anju membungkuk Hormat mempersilahkan Hilya untuk memilih angkringan bakso mana yang ia sukai.


Karena saat ini pelataran pesantren berubah ramai dengan segala macam angkringan bakso lengkap dengan penjualnya.


"Tuan Mario, tidak faham tenrang selera bakso anda, itu sebabnya tuan meminta mereka untuk datang."


Hilya mengedarkan pandangan ada sekitar 20 jenis angkringan bakso yang terjajar rapih di pelataran pesantren.


"Nona, apa perlu saya panggilkan para penghuni pesantren untuk turut menimati?" ujar Anju. Namun Hilya masih bergeming ia masih memilih bakso yang akan ia makan, ia menyelisik setiap angkringan dengan Anju mengekor di belakangnya.


"Aku ingin ini." Hilya tersenyum ceria pada Anju, dengan jarinya menunjuk angkringan bakso urat.


"Baik Nona." Anju membungkuk hormat, seketika juga sang penjual sigap membuatkan pesanan, dengan Hilya yang duduk di tenda angkringan.


"Pak, apakah boleh santri turut makan disini?" tanya Hilya pada Anju.


"Segera Nona." Anju berbalik dan menekan earpiece yang selalu ia gunakan.


Hilya menatapi punggung Anju, yang nampak sedang berbicara pada seseorang.


Tak berselang lama pelataran pesantren berubah ramai dengan kehadiran para santri dan para rekan pengajar.


Pelataran itu berubah layaknya pasar malam dengan aneka jenis bakso.


Mereka saling mengantri menikmati hidangan yang mereka inginkan.


Tak berselang lama beberapa truk tiba dengan membawa angkringan aneka jenis minuman.


Mulai dari es cendol, selendang mayang, hingga aneka jus.


Tentu saja hal itu membuat kagum para santri.


Namun, apa pun bentuk pujian itu bagi Hilya adalah trik Mario untuk pecitraan baik atas dirinya.


Sungguh bagi Hilya kebaikan Mario tak berarti apa-apa tak sebanding dengan kejahatan yang Mario perbuat.


Dengan segala argument kebencian yang ia lontarkan secara bergumam, Hilya tetaplah wanita yang sedang ngidam meskipun ia tidak menyukai Mario namun ia tetap menikmati hidangan yang Mario bawakan untuknya.


Bahkan dengan gembira Hilya berpindah pindah angkringan hanya untuk menusuk satu bulatan bakso dan mencipipi membandingkan rasa dari satu angkringan ke angkringan lain.


ia pun nampak bingung ketika memutuskan pilihan minuman yang akan ia coba.


Hilya nampak bertukar rasa dengan para santri dengan saling mencicipi. raut bahagia tergambar disana. Dengan duduk di pelataran beralaskan tikar,


Bahkan Hilya melupakan kesedihan yang selama ini ia rasakan.


Sesekali Hilya tersenyum mendengar celotehan para santri.


Mario terpaku memandangi Hilya dari kejauhan dengan berdiri bersandar pada kap mobil milik Anju.


"Lihatlah suami Ustadzah Hilya," ujar seorang santriwan yang sedang bergerombol menikmati bakso dengan duduk di tikar.


"Cuma pakek kaos dan celana kolor plus sandal jepit masih aja keliatan berwibawa dan ganteng."


"Nasib mu ko, ojo iri karo wong sugeh." ujar Bian pada koko.


"Sesok aku tak melu gayane Mas Mario, pasti aku dadi ganteng juga." sambung Edi.


"La jan. Mimpi ora turu kue Di."


Terdengar tawa renyah di kumpulan mereka, hingga terdengar oleh jarak Mario berada.

__ADS_1


* * *


Malam kian larut saat Mario membaringkan diri pada kursi panjang yang terletak di ruang tamu, setiap malam ia tidur dengan posisi yang tidak nyaman seperti ini.


meskipun sudah mendapat teguran dari tenaga pengajar di pesantren yang mempertanyakan mengapa tidak tidur di kamar?


namun Mario tetap saja memiliki alasan yang mampu mereka terima.


tidak banyak kamar yang tersedia di dalam rumah ini, hanya memiliki tiga kamar satu diantaranya adalah gudang tempat penyimpanan buku-buku milik Abi dan Hilya.


dengan kondisi seperti ini sering kali membuat Mario merasa repot, belum lagi saat ia akan mandi dan butuh berganti pakaian, ia selalu mandi dan berganti dikamar mandi umum milik santri.


tak jarang ada yang bertanya mengapa.


namun bukan Mario jika tidak dapat memberikan jawabpan yang logis.


tidak memiki lemari sendiri dan kamar sendiri lalu bagaimana lagi, jalan satu-satu nya ia lah bergantung pada rumah Kenzo.


ia akan makan dan menaruh pakaian kotor serta berganti di kamar pribadinya.


bahkan Mario kerab merindukan kasur, seperti saat ini.


setelah pulang bekerja dan mandi ia membaringkan dirinya pada kasur miliknya.


Rasa nyaman dan kantuk nembuatnya terpejam.


hingga ia melupakan untuk pulang ke pesantren.


Hilya membuka pintu kamar berjalan menuju ruang tamu tempat biasa Mario tidur. raut kecewa nampak terlihat, ketika ia tidak menjumpai sosok pria yang biasanya tertidur disana.


Hilya menoleh, melihat jam yang terpasang di dinding, sudah menunjukan pukul 11 malam.


"Apa dia lembur? tidak biasanya dia seperti ini, dia akan membawa pekerjaannya pulang dan lembur di rumah."


Hilya menatapi ponsel genggamnya ia ingin menghubungi Mario namun ia ragu untuk melakukannya.


Hilya mencari kontak nama Anju di ponselnya seingatnya Anju pernah menghubunginya.


dan terdengar suara Anju dari sebrang telpon ketika sudah tersambung.


"Apa ada masalah Nona?" sambung Anju setelah ia mengucabkan kata' Hallo.


"Ap- apa kamu masih di kantor?" tanya Hilya gugup, karena jika Anju masih di kantor maka secara otomatis Mario pun masih di kantor.


"Tidak Nona, Tuan sudah kembali sejak sore." jawab Anju. dia terlalu pintar hingga dapat mengerti arah pertanyaan Hilya.


"Saya akan mencari Tuan dan mengantar pulang ke pesantren." sambungnya lagi.


"Tidak. tidak perlu, aku baik-baik saja, tidak perlu ada yang di khawatirkan." jawab Hilya dengan cepat dan gugub ia tidak ingin Anju berpikir jika ia mencari Mario.


"Tuan Mario terbiasa mampir ke kediaman Tuan Kenzo, untuk mandi dan terbiasa beristirahat di kamarnya. Mungkin saat ini beliau tertidur Nona." jawab Anju dengan menoleh pada Mario yang nampak pulas dalam tidurnya.


"Baik, terimakasih, Assalamualaikum" Hilya menutup sambungan telpon setelah Anju menjawab salamnya.


Anju tersenyum simpul, ia sengaja memberikan keterangan seperti itu, agar Hilya mengerti kesulitan yang Mario hadapi.


jika biasanya Anju membangunkan Mario disaat jam yang Mario inginkan kali ini Anju mendapat perintah dari Kenzo agar membiarkan Mario tidur di rumahnya.


Kenzo ingin melihat apakah istri dari sahabatnya itu akan mencari dan menghubungi ataukah tidak.


Hilya terpaku dan memandangi sofa panjang tempat biasa Mario tidur.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2