
'Kadang kita harus sadar diri, bahwa dekat sekalipun belum tentu kita spesial untuknya.'
🌹🌹🌹
Hallo para pejuang halu, lama tidak menyapa kalian.
Dan aku sangat yakin, aku tidak dirindukan, wkwkwkwk ...
Semoga kalian tetap dalam keadaan baik-baik saja. Amin.
Yok tip dan vote serta komentarnya jangan lupa.
🌹🌹🌹
Kecelakaan mobil yang dialami kedua orang tua Mario tidaklah serius. Hanya butuh istirahat hingga beberapa hari. Namun ada hal serius yang menjadi persoalan mereka saat ini.
Tabrakan itu menewaskan seorang pria. Dan kasus ini tengah ditangani oleh polisi.
Usaha negosiasi yang pengacara ajukan telah ditolak oleh pihak keluarga.
Uang permohonan damai sebagai tanda ketulusan maaf pun mereka tolak.
Berbagai cara sudah mereka lakukan agar kasus ini tidak berbuntut panjang. Mario berjuang demi kebebasan sang Ayah.
Karena Ayah terbukti melanggar aturan lalulintas saat mengendara, hingga terjadilah tabrakan dengan pengendara bermotor.
"Aku tahu ini semua terasa berat untukmu. Tapi bukankah ini adalah sebuah kecelakaan tidak ada yang menginginkan musibah." Mario mencoba berbicara pada istri korban yang merupakan drever ojek online.
"Kami tidak bermaksud merendahkanmu, tapi kami mohon terimalah ini sebagai ganti rugi atas musibah yang menimpah suamimu." Mario menyodorkan sebuah cek dengan tanda tangan namun nominalnya nampak kosong.
Ini adalah ketiga kalinya Mario datang untuk membujuk. Uang satu koper serta asuransi bernilai fantastis sudah mereka tolak.
Bahkan Mario pun menjanjikan kehidupan mewah, mereka juga menolaknya.
Wanita dengan perut besar itu menyeringai menatap Mario.
"Apa aku terlihat begitu menyedihkan untukmu?"
Mario terdiam begitupun pengacara yang duduk di sampingnya.
"Jika aku menerima uangmu, aku terasa menjual kematian suamiku. Maka ambil kembali uangmu itu."
"Kami bersungguh-sungguh, meminta maaf padamu."
"Dengan kata maafku pembunuh suamiku akan terbebas dari jerat hukum begitukan?"
Mario tercekat, kehabisan ide.
"Baiklah. jika begitu, katakan apa yang bisa aku perbuat untuk kebebasan Ayahku?"
"Menikahlah denganku" ucapan wanita hamil itu membuat Mario dan pengacaranya tak percaya.
Mereka saling menatap dengan ekprsi bingung.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, apa yang sedang anda bicarakan?" pengacara bertanya, seolah mewakili Mario yang sedang membutuhkan penjelasan lebih.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kalian menghilangkan nyawa suamiku, aku kini menjadi janda dengan dua anak berusia 5 tahun dan 3 tahun serta usia kandunganku sudah menginjak 9 bulan, itu artinya aku siap melahirkan, lalu siapa yang akan membantuku dan menghidupi ke 3 anak-anakku?" wanita dengan rambut pendek sebahu dan berponi itu mengutarakan keresahannya ia menatap intens pada Mario.
"Tapi, tanpa menikah pun kami bisa menanggung biaya hidup anda dan ke 3 anak anda, dan kami menjamin pendidikan mereka." pengacara kembali berbicara, sementara Mario masih terlihat syok. ia memilih diam, perasaan iba dan prihatin yang ia tunjukan berganti dengan rasa sengit pada wanita hamil itu.
Bisa-bisanya ada orang yang memintanya berkhianat pada istri dan cinta pertamanya. Mario marah ia sangat membenci wanita hamil itu. Bahkan jika tidak mengingat dosa mungkin ia sudah merobek mulut ba ng sat wanita itu.
"Aku tidak mempercayai orang-orang seperti kalian." jawab wanita itu.
Mario berdiri baru hendak beranjak namun terhenti setelah mendengar ucapan wanita itu yang meminta untuk memikirkan tawarannya.
Mario tak bersuara ia kembali meneruskan langkah.
Hari sudah cukup larut saat Mario membuka pintu kamarnya, ia baru saja kembali dan akan beristirahat di kamar.
Sungguh, ia dalam keadaan bimbang. Ia tidak bisa membiarkan Ayahnya mendekam dan menghabiskan usia tua di dalam penjara, terlebih saat ia membesuknya pagi tadi, sang Ayah terlihat sangat kurus padahal baru beberapa hari belum genap satu minggu. Membuat hatinya terasa ngilu.
Namun ia tidak mungkin menghianati istri tercintanya, terlebih Hilya sudah mulai memaafkannya dan memberinya waktu 7 bulan untuk menjadi suami dan ayah yang baik.
Bagaimana bisa ia menyakiti perasaan Hilya, sudah cukup ia memberikan luka yang ia sesali seumur hidup, ia tidak ingin kembali menyakiti cinta pertamanya dengan menikahi wanita lain.
"Nak Mario." sapa Umi saat Mario sudah membuka pintu kamar hendak masuk.
"Assalamualaikum, Umi." Mario mendekat untuk mencium telapak tangan Umi.
"Waalaikumsalam." Umi tersenyum lembut, memandangi wajah lelah menantunya itu.
"Kenapa pulang sangat larut Nak, apa terjadi masalah di kantor?"
"Syukurlah, segera bersihkan diri, sudah sholat isyakan?"
Mario mengangguk menjawab pertanyaan Umi.
"Sejak sore Hilya sudah menunggu, ia ingin makan bersamamu, dia bilang kamu berjanji akan mengajaknya makan Jjjamppong."
"Astafirloh, Mario lupa Mi." Mario melihat jam tangannya sudah pukul 10 malam.
"Bagaimana ini?" Mario bertanya pada Umi, kini wajah lelahnya berubah panik ia takut mengecewakan istrinya. Karena gagal memenuhi janji.
Umi terkekeh karena baru kali ini melihat Mario seperti orang bodoh yang sedang ketakutan karena buang gas perut di depan umum.
"Gunakan kuasamu dong, panggil pasukan pedagang bakso aja bisa." ucap Umi remeh. Disertai kekehan kecil.
Mario terdiam detik berikutnya barulah ia tersenyum.
ia merogo ponsel dalam saku celana dan menghubungi Anju, memintanya untuk mengirim chef yang ada di rumah Kenzo ke pesantren.
Mario pun berpesan agar membawa bahan untuk membuat Jjamppong, sebuah makanan mie berkuah pedas dengan dicampur aneka seafood asal negri gingseng.
Tak berselang lama dapur pesantren yang tadinya sepi kini menjadi sibuk dengan satu koki dan dua asisten koki. mereka menyiapkan makanan sesuai pesanan tidak hanya itu mereka pun menambah menu dengan aneka hidangan khas korea.
Umi merasa takjub dengan aneka makanan yang tersaji diatas meja Umi duduk dengan tenang sementara koki masih mondar mandir memindahkan baki makanan dari dapur ke meja makan.
__ADS_1
Mario mengetuk pintu kamar Hilya, setelah hidangan memenuhi meja makan.
Tidak ada suara dari dalam, sepertinya Hilya telah benar-benar sudah tidur. Terlebih saat ini sudah hampir pukul 12 malam.
Hilya membuka pintu setelah ketukan ke 3.
"Maaf aku mengganggumu," Mario nampak sungkan.
"Ada apa, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, itu, aku, aku—"
"Hilya kemari nak!" suara Umi dari arah ruangan tengah menghentikan ucapan Mario, sepertinya Umi tahu bahwa Mario sulit untuk mengajak Hilya.
Hilya melihat pada Umi yang sedang duduk membelakanginya, rasa kantuknya sirna begitu ia melihat meja makan penuh dengan masakan korea, Hilya berjalan mendekati Umi diikuti Mario di belakangnya.
"Ayo makan." Ajak Umi bersemangat, meskipun sudah larut tak mengurangi rasa semangat Umi.
Kedua alis Hilya hampir bersatu saat ia mengerutkannya.
"Aku tidak ingin makan Umi." ucapan Hilya membuat wajah senang Mario berubah murung.
Bahkan Umi sudah berdiri dari duduknya.
"Nak, tapi suami kamu sudah menyiapkan semua ini."
"Hilya tidak ingin Umi."
"Tapi saat sore tadi kamu mengatakan—"
"Umi, itu sore dan ini sudah tengah malam. Hilya akan kembali tidur." Hilya pergi meninggalkan ruangan itu ia kembali masuk kamar dan menguncinya.
"Anak itu, biarkan Umi bicara padanya."
Baru hendak beranjak namun Maria melarang Umi, agar tidak mengganggu Hilya.
"Tapi Nak, dia sudah keterlaluan."
"Mungkin Hilya memang sudah mengantuk Umi, kalo begitu Mario akan istirahat. Anju..." Mario memanggil Anju yang saat itu setia berdiri di luar pintu masuk.
"Tuan." Anju membungkuk hormat
"Antarkan koki kembali, aku tidak ingin mendengar Kenzo melapir polisi karena kehilangan koki nya."
"Baik Tua."
"Kalo begitu Umi akan membagikan makanan ini pada satpam jaga dan beberapa penghuni pesantren yang masih terjaga."
Mario mengangguk kemudian ia berlalu, ia terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja. Mario tidak membalas senyuman Umi ia pergi begitu saja.
'Kadang kita harus sadar diri bahwa dekat sekalipun belum tentu kita spesial baginya.' Mario mengistirahatkan tubuh lelahnya ia mematikan lampu dan membenamkan diri di balik selimut putih.
* * *
__ADS_1
Bersambung.