
"Umi .." Abi membantu Umi untuk duduk,
"Ini dimana bi?"
"Kita di rumah sakit Mi, kondisi Umi sangat lemah dan harus ditangani dokter."
"Hilya. dimana Hilya Bi, apa dia sudah kembali?"
"Belum Mi."
Umi kembali lemah mendengar jawabpan Abi, tanpa ia sadari airmata menetes begitu saja.
"Apa yang terjadi dengan anak kita Bi?"
"Abi sudah melapor pada polisi Mi, semoga mereka bisa membantu menemukan Hilya."
"Umi sangat takut Bi." keluh Umi dengan memeluk lengan Abi.
"Kita pasrahkan semua pada Alloh Mi semoga Alloh melindungi anak kita."
* * *
Hilya membuka pintu kamar setelah ibu mengetuknya.
Ibu tersenyum takala wajah manis nan lembut yang masih mengenakan mukenah itu menyapanya.
"Ini," ibu memberikan paperbag pada Hilya.
"Apa ini bu?"
"Pakaian baru, ayo ganti pakaianmu."
"Tapi.."
"Pakaianmu kotor jadi ibu meminta Mario membelikan gantinya."
"Maaf merepotkan bu."
"Tidak nak, ayo ganti pakaianmu."
Hilya mengangguk seraya tersenyum manis. ia menerima paperbag dari ibu.
"Bu apa boleh Hilya meminjam telpon, sepertinya orang tua Hilya sedang menunggu dirumah."
"Kamu benar nak, ayo segera hubungi mereka dan beri tahu bahwa kamu baik-baik saja."
"Terima kasih bu"
Ibu menangkup pipi kiri Hilya seraya tersenyum.
"Ganti pakaianmu dan segera turun untuk sarapan."
"Sekali lagi terima kasih bu."
"Ibu semakin menyukaimu."
.
.
"Biar ibu ambilkan ya." ucap ibu dengan mengambilkan lauk untuk Hilya.
"Tidak, tidak bu biarkan Hilya ambil sendiri."
tolak Hilya namun ibu sudah memberinya lauk pada piring Hilya,
"Terimakasi bu." ucap Hilya dengan mengulas senyum
"Manis."
"Apa Yo?" tanya ibu karena gumaman Mario.
"A ..tidak, tidak apa."
Hilya menundukan pandangan ia tahu bahwa Mario selalu menatapnya, entah karena apa Hilya sungguh tidak bisa memahami sikap Mario padanya.
"Maafkan ketidak tahuan Hilya bu." Hilya menatap ibu.
"Hilya hanya merasa terkejut dan takut dengan..." Hilya menggantungkan ucapannya dan melihat Mario namun selanjutnya ia segera menunduk kembali.
"Tidak apa nak, lagi pula ini semua salah Mario, dia benar-benar tidak bisa bersikap lembut ketika marah."
"Bu." protes Mario namun ibu seolah tidak mendengar.
__ADS_1
membuat Mario menghela nafas dalam.
"Sejak kapan orang bisa bersikap lembut ketika sedang marah" gumam Mario sangat pelan.
"Kamu terlihat cantik dengan pakaian ini" puji ibu pada Hilya.
hingga Hilya mengembangkan senyumnya, bukan karena ia sedang tersanjung melainkan ia tidak tahu harus menjawab bagaimana ucapan wanita parubaya yang masih terlihat cantik meskipun sudah tidak muda lagi.
"Ibu jadi ingin mengenakan hijab sepertimu. apa kamu bersedia mengajari ibu nak?"
"Alhamdulilah jika Ibu memiliki niatan seperti itu, insya Alloh Hilya akan membantu sebisa Hilya."
* * *
"Ayo.." ajak Mario pada Hilya agar segera menaiki mobil namun Hilya terdiam dengan berdiri di teras rumah bersama ibu di sebelahnya.
"Hilya, .." panggil ibu dengan menyentuh lengan Hilya.
"Bu, Hilya naik taksi saja ya, lagipula pesantren tidak terlalu jauh dari sini."
"Tidak nak, Mario akan mengantar mu sampai pada kedua orang tua mu."
"Jika begitu bisakah ibu ikut serta?"
"Maaf ya nak tapi ibu harus segera ke bandara karena Ayah sudah menunggu disana."
Hilya menunduk dengan meremas jari-jari lentik miliknya,
bayangan tentang kelakuan buruk Mario kembali menggelayut pada pikirannya.
teriakan tolong wanita itu menggema kembali pada kedua telinga Hilya.
hingga hati dan nyalinya kembali gemetar.
Mario terdiam dengan memperhatikan Hilya lalu ia menggela nafas.
Brakk!
Hilya dan ibu tersentak kaget saat Mario menutup kasar pintu mobil.
ia keluar dari dalam mobil karena tak sabar melihat tingkah Hilya yang merasa takut untuk pergi bersamanya.
Mario meraih lengan Hilya.
pinta Hilya dengan wajah tegang.
"Mario! lepaskan dia"
seru Ibu. ia kesal karena sikap tidak sabaran Mario membuat wanita yang ibu sukai merasa tertekan dan takut.
"Aku akan terlambat bekerja jika kamu bersikap plin plan!" pekik Mario.
Mario menarik lengan Hilya memaskanya masuk ke dalam mobil, hingga membuat ibu merasa cemas dan beberapa kali menggedor pintu mobil namun Mario segera berlalu ia tidak menghiraukan ibunya.
"Anak itu, kapan dia akan merubah sifat tak sabarannya."
keluh ibu dengan menatapi kepergian mobil yang dikendarai Mario bersama Hilya.
.
.
Hilya masih menunduk dengan perasaan takut dan tertekan berada bersama Mario.
ia ******* ***** jari-jarinya.
"Sudah ku katakan aku tidak seburuk seperti apa yang kamu pikirkan. aku hanya menjalankan tugasku, menangkap penjahat yang merugikan prusahaanku. berhenti menganggapku penjahat karena aku tidak menyukainya."
Hilya hanya terdiam ia tidak merespon ucapan Mario hingga membuat Mario kembali merasakan kesal ia sudah kehilangan kembali kesabarannya.
Kedua telapak tangannya sudah meremas kencang kemudinya.
lalu ia menambah laju mobil dengan kecepatan tinggi hingga membuat Hilya memejamkan mata menahan takut.
'Kita lihat sampai kapan kamu akan diam dan mengacuhkanku.'
.
.
Sudah lebih dari 10menit mobil Mario melaju dengan kecepatan tinggi. namun Hilya tetap tidak bersuara untuk berkomentar, hingga Mario terpaksa mengurangi kecepatan laju mobilnya karena mulai memasuki jalanan yang padat.
Hilya membuka mata setelah ia menghembuskan nafas lega, ia mengangkat pandangan menatap lurus jalanan.
__ADS_1
"Gadis keras kepala." gumam Mario pelan namun masih dapat didengar oleh Hilya.
'Aku membenci pria arogan dan sangat tidak menghargai wanita seperti dia.' batin Hilya menggerutuk sifat tak sabaran Mario.
Hilya mengusab hidungnya yang terasa berair alangkah terkejutnya dia saat darah segar terdapat pada telapak tangannya.
'Darah' Hilya terdiam ia sangat terkejut dengan kondisi tiba-tiba itu.
"Darah." ucap Mario saat ia menoleh pada Hilya dan menjumpai darah mengalir dari lobang hidung Hilya.
Mario menepikan mobil.
'Tidak.' batin Hilya dengan menghindari sentuhan yang akan Mario lakukan pada area wajahnya.
"Tenanglah, aku hanya membantumu." penjelasan Mario dengan memegang tisu yang siap untuk menyeka darah dihidung Hilya.
"Angkat wajahmu keatas agar mengurangi aliran darahnya."
Hilya menuruti perintah Mario dengan sambil memegangi tisu yang ia gunakan untuk menutup lobang hidungnya berharap mengurangi aliran darah yang keluar.
Mario nampak sibuk dengan ponselnya.
"Hollo Za. Hilya mimisan apakah harus aku bawa ke rumah sakit?"
Mario bicara lewat sambungan telpon dengan dokter Reza.
"baik, iya, hem, iya." Mario menutup sambungan ponselnya.
"Tidak perlu cemas itu wajar setelah kamu mengalami panas tinggi, tunggu sebentar aku akan membelikan air dan obat untukmu." tidak menunggu jawabpan Hilya, Mario segera menuruni mobilnya dan berlari kecil menyebrangi jalan lalu memasuki sebuah mini market.
Menit berikutnya Mario sudah berlari kecil menyebrangi jalan kembali dengan membawa pelastik kecil berlogo nama minimarket.
"Minumlah." perintah Mario setelah ia duduk di bangku kemudi, ia pun sudah membuka tutup botol air mineral itu,
Hilya menerima uluran botol dari Mario, setelah itu Mario menyobek bungkus obat yang Reza rekomendasikan untuk Hilya minum.
Hilya memperhatikan bungkus obat itu, ia sedang menaruh curiga pada Mario, ia takut Mario memberinya obat bius dan menculiknya.
"Minum ini." Mario menyodorkan obat yang sudah terbuka, karena Hilya sudah mengenal jenis obat itu maka ia tanpa ragu menerima, namun tidak segera ia minum ua memandangi tablet obat itu.
"Ayo minum." perintah Mario.
"Aku memberikan obat yang benar, lihat." Mario memperlihatkan merek obat kepada Hilya.
"Maaf tapi, aku. .."
Mario menatap raut manis gadis berhijab unggu yang terlihat sangat cantik dengan kedua pipi yang merah jambu.
tanpa ia sadari senyumannya mengembang begitu saja membuat Hilya menundukan pandangan.
"Kita tidak akan melanjutkan perjalanan sebelum kamu meminum obatnya."
dengan ucapan Mario membuat Hilya menatapnya sejenak lalu ia mengarahkan kepalan tangannya pada mulut untuk meminum obatnya.
karena Mario merasa Hilya sudah meminum obat maka ia melajukan kembali mobilnya.
namun tangan Hilya tetap mengepal dengan memangkunya.
ia masih menggenggam obat ditangannya.
sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memegang tisu yang ia tempelkan pada area hidung.
mimisannya sudah tidak sebanyak tadi.
sedikit demi sedikit darah yang mengalir mulai berkurang.
.
.
Mobil Mario memasuki area pembangunan perumahan di dekat pesantren.
Hilya mengepalkan tangan saat melewati jalanan itu, meskipun sudah banyak kendaraan berlalu lalang diarea pembangunan.
namun tidak mengobati rasa trauma Hilya pada tempat itu.
terlebih saat ini ia sedang bersama pelaku kekerasan yang ia saksikan.
Mario melirik pada Hilya, ia memahami jika Hilya masih merasa takut padanya, ia pun menyesali tindakan kasarnya saat hendak mengantar Hilya tadi.
untunglah Mario sempat mendengar percakapan Ibu dan Hilya saat sarapan sehingga ia tidak lagi bertanya kemana ia harus mengantarkannya.
* * *
__ADS_1
Bersambung.