
'Alloh memiliki cara sendiri untuk mempertemukan jodoh dari setiap umatnya'
...
Hallo... Aku dateng telat ya. Maap ya karena kesibukan mengharuskan kalian untuk bersabar menunggu.
Kuy, capcus kita baca...
Jangan lupa tekan tip dan vote dong.
Maciiiiii
🍂 🍂 🍂
"Jadi apakah kamu sudah sunat?" Ustad Azis kembali menegaskan, karena Mario tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Ap- apa, aishhh menyebalkan! Meskipun aku tidak mendalami ilmu agama, tapi aku adalah seorang muslim sejati!" Mario menggeruti dengan berapi api pada pria yang saat ini duduk di hadapannya.
"Baiklah, aku rasa alasan itu cukup untuk mengajarimu tentang agama islam."
Brak...!
Mario meletakan kasar buku panduan sholat diatas meja kaca itu.
"Jangan katakan jika kamu belum tahu tentang sholat." Ustad Azis menatapnya ragu.
"Aku sudah menghafal semua doa-doanya,"
"Lalu, apa yang belum kamu fahami." Ustad Azis meraih buku itu ia menatap sampul buku terdapat sebuah goresan pena hitam di ujung sampul dengan beberapa huruf hijaiyah, terangkai sebuah nama Mario.
Azis menyipitkan kedua mata lalu melihat pada Mario.
"Ada apa?" tanya Mario karena ia merasa ada yang ingin Ustad itu katakan.
"Tidak." Ustad Azis meletakan kembali buku itu ke atas meja. Namun pandangannya masih berpusat pada tinta hitam di ujung sampul buku.
Anju memberikan sebuah buku iqro pada Mario.
"Kita mulai dari ini." ucap Mario dengan memegang buku iqro itu dan menunjukannya pada Ustad Azis.
Waktu berlalu begitu saja tanpa terasa sudah 30 menit Ustad Azis memberi pelajaran dasar membaca dari buku iqro.
Ustad Azis melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Menunjukan sudah pukul 9 malam.
ia pun menyudahi pelajaran dan berpamit.
"Terima kasih." ucap Mario berterima kasih dengan gaya angkuhnya.
"Apa Hilya baik-baik saja?" Ustad Azis menatap serius pada Mario.
"Ya, jangan khawatir." Mario semakin bersikap dingin.
"Apa kamu tidak suka jika aku bertanya tentang Hilya?"
"Ya, aku cemburu dan iri padamu." Mario menatap serius Ustad Azis.
Langkah mereka terhenti pada samping mobil yang terparkir di pelataran rumah Kenzo.
Azis tersenyum masam, sungguh ia masih belum dapat memahami sifat Mario.
"Jika Kamu begitu sangat membenciku, mengapa ingin belajar denganku?"
Mario tersenyum tipis.
"Karena aku ingin melihat pria yang istriku sukai, apa yang kamu miliki hingga istriku sangat menyukaimu."
__ADS_1
"Jangan membuatnya terdengar nampak buruk."
"Apa kamu sedang mengkhawatirkan istriku?"
"Apa harus aku melakukan hal itu?"
Mario terdiam menatap dingin pada Ustad Azis.
"Anju antarkan Ustad, dengan selamat." perintah Mario tanpa mengalihkan pendangan dinginnya dari Ustad Azis.
"Kamu beruntung karena mendapatkan cintanya." Ucap Ustad Azis dengan tersenyum.
"Aku dapat melihat itu darinya," sambungnya kembali namun Mario justru terdiam.
"Aku ingin bertanya padamu, tentang pernikahan kami, apakah sah dimata agama?"
Ustad Azis terdiam, ia menatap serius pada Mario.
Sudah sejak lama Ustad Azis ingin membahas hal ini pada Mario, namun ia urungkan karena mengingat keluarga Umi pasti sudah menjelaskannya pada Mario.
"Apa Umi atau Hilya belum membahas hal ini?"
"Iya, Aku belum mendapat penjelasan dari Umi maupun Hilya,"
"Lalu apakah Hilya atau Umi mempersilahkan kamu untuk satu kamar dengannya?
"Apa perlu aku bercerita banyak padamu?"
"Tidak. tetaplah diam dan simpan rahasia keluargamu, maaf aku bertanya melewati batasanku."
"Sepertinya mood anda tergantung dari jawabpanku."
"Entahlah"
"Kami akan berpisah setelah anak kami lahir. itu harga yang harus ku bayar. Aku mengajukan syarat itu agar dia mau menerimaku dan anakku mendapat setatus dimata hukum."
Mario menghela nafas berat.
"Setidaknya anakku mendapat pengakuan dimata dunia, aku tidak ingin dunia memandangnya sebagai anak haram yang tidak memiliki ayah."
"Semoga Hilya dapat memaafkanmu, dan menerimamu dengan lapang dada."
"Apakah masih bisa? Bolehkah aku hidup bersamanya layaknya pasangan menikah?"
"Ya, dengan syarat lakukan ijab kembali setelah melahirkan."
Mario mengulas senyum.
"Sepertinya jawabpanku merubah mood kamu." Ustad Azis membalikan ucapan Mario yang ditujukan untuknya beberapa saat lalu.
"Apa kamu kecewa?" tanya Mario.
"Sedikit." jawab Ustad dengan tersenyum dan mengangguk kecil.
"Aku pulang, lusa tidak perlu menjemputku aku akan datang sendiri."
"Jangan bersikap sok akrab padaku." protes Mario.
"Aku masih menganggapmu saingan. Jadi jaga sikaplah."
Ustad Azis mengulas senyum remeh, kemudian ia memasuki mobil yang sudah Anju bukakan pintunya.
Hening.
Anju tipe orang yang tidak banyak bicara apalagi pada seseorang yang tak terlalu ia kenal.
Perjalanan sedikit lamban karena keadaan jalanan yang macet.
__ADS_1
"Apa bosmu itu selalu bersikap kasar seperti tadi?" pertanyaan Ustad Azis membuat Anju melirik sepion guna melihat wajah Sang Ustad.
"Tuan, memang seperti itu Ustad. Tapi hatinya sangat lembut, ia cenderung tak banyak bicara dan banyak bertindak. Aku merasa Tuan menyukai anda."
"Benarkah?"
"Tuan akan menjauhi orang yang tidak ia sukai."
Ustad Azis tersenyum kali ini ia tersenyum sangat manis dengan menatap jendela kaca mobil melihat pemandangan jalan dari luar jendela.
"Alloh memiliki cara sendiri untuk mempertemukan jodoh dari setiap umatnya." gumam Ustad Azis.
🍂 🍂 🍂
Malam semakin larut saat Mario membuka pintu rumah, ia menekan saklar lampu agar ruangan nampak terang.
Mario berjalan semamin masuk saat ia tiba di ruangan tengah tempat biasa untuk makan Hilya baru saja menutup pintu lemari pendingin.
Hilya berbalik dan kini mereka saling memandang.
"Tidak bisakah ucap salam saat masuk?" kritik Hilya pada Mario.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam." gumam Hilya pelan, samar namun Mario yakin itu jawabpan salam dari Hilya untuknya.
"Aku akan hangatkan kembali makanannya." Hilya meletakan gelas kaca berisi air mineral diatas meja, lalu ia membuka tudung saji.
"Tidak, tidak perlu dihangatkan, aku akan makan begini saja."
Hilya meletakan kembali mangkok yang berada di tangannya, bukannya kembali ke kamarnya justru Hilya malah menarik kursi dan duduk disana,hingga Mario turut duduk di sebrang Hilya.
Hilya menyiapkan piring untuknya ia nampak berfikir, merasa ragu untuk meletakan piring itu pada meja Mario, namun detik kemudian piring itu pindah kedepan Mario hingga Hilya harus menasuki dapur guna mengambil piring lain.
Mario terus memperhatikan dengan tatapan teduh, tidak ada wajah angkuh dan dingin.
Hening, hanya suara dentuman sendok beradu dengan piring yang terdengar, mereka menikmati makan malam dengan saling diam.
Hilya mengisi air kedalam gelas Mario karena Mario telah menghabiskan minumnya saat sebelum mulai makan.
"Terimakasih." ucap Mario setelah ia menghabiskan air dalam gelas dan nasi dalam piringnya sudah tak tersisah.
"Tuju bulan dari sekarang. Ayo lakukan drama keluarga bahagia." ajak Hilya
Mario menatap Hilya begitupun dengan Hilya.
"Jauhi para wanita, terutama para santriku, pulanglah tepat waktu, lakukan sholat berjamaah usahakan 5 waktu bersama di rumah. Setelah 7 bulan ketika masa nifasku selesai kita akan berpisah." ucap Hilya dengan sangat serius.
"Ya, tentu."
"Aku tidak sedang mempermainkan sebuah pernikahan, tapi itulah caraku mengobati rasa kecewa dan marah terhadapmu. Aku harap kamu mengerti dan dapat menghargai keputusan dan permintaanku."
"Iya, aku tahu." Mario bicara singkat namun pandangannya nampak rabun karena kelopak matanya telah mupuk genangan airmata.
"Aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Itu kamar perpustakaan Abi, sementara kamu bisa menggunakannya. Aku tidak ingin tersebar gosip lagi dengan hubungan kita ini."
"Iya."
Hilya berdiri dan berlalu meninggalkan Mario, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik pada Mario.
"Selamat malam. Terima kasih untuk pengertianmu."
Hilya benar benar berlalu ia menghilang di balik pintu kamarnya.
Sedang Mario mengusab airmata yang kini mengalir begitu saja.
* * *
__ADS_1
Bersambung.