Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Garis Takdir


__ADS_3

Hilya mengakhiri sambungan telpon saat Umi memasuki kamarnya. ia diam tertunduk dengan memainkan jari-jarinya.


"Siapa Ndok?"


tanya Umi membuat Hilya tersentak. karena pikirannya sedang kosong.


"Kenapa wajahmu terlihat sangat cemas Nak?"


"Mi apa keluarga Mas Azis sudah tiba?"


"Mungkin sebentar lagi ada apa?"


tanya Umi lagi.


"Apa boleh Hilya ke rumah sakit sebentar Mi?"


"Rumah sakit?" Umi duduk di sisi Hilya lalu Hilya mengangguk.


"Bulek dirawat Mi, beliau jatuh pingsan di dalam kamar mandi."


"Astafirloh ya sudah kamu langsung saja ke rumah sakit ya, masih ada waktu 1jam sebelum magrib, usahakan sholat isya di rumah ya nak."


"Terima kasih Umi. tapi Abi ...?"


"Tidak apa biar Umi yang bicara nanti." Umi mengusap lembut kepala Hilya yang terbalut hijab.


Hilya memeluk Umi.


"Umi tahu, kamu sangat menyayangi bulek mu. karena sejak kecil kamu sudah bersamanya dan meminum Asi beliau, maafkan Umi sayang. karena keterbatasan Umi kamu harus mencari Ibu asi." Umi menangkup wajah Hilya dengan perasaan sendu.


"Tidak Umi jangan berkata seperti itu, Hilya justru senang karena memiliki dua ibu" Hilya memeluk Umi erat.


"Sudah sana, jenguk bulekmu, belikan makanan kesukaannya."


Hilya mengangguk seraya tersenyum


"Ingat ya sholat isya harus di rumah." pesan Umi lagi.


Hilya mengangguk, lalu ia mencium kedua pipi Umi.


* * *


"Assalamualaikum.." ucap Hilya saat ia membuka pintu rawat tempat bulek menginap.


"Waalaikumsalam."


jawab paklek dan bulek bersama,


Hilya mendekat dan mencium tangan kedua orang tua angkatnya itu.


"Bulek, Hilya bawakan martabak telor kesukaan bulek."


Hilya meletakan plastik bening yang membungkus kotak martabak di atas nakas.


"Terimakasi Ndok."


ucap Paklek sungkan, pria parubaya ini memang lebih perasa dan kerab menunjukan rasa sungkannya pada Hilya dan keluarga Kiayi Rozak.


"Sayang kemari." Hilya mendekat dan duduk di sisi blangkar saat Bulek memanggilnya.


Bulek meraih kedua tangan Hilya yang terulur, menangkupnya dalam dada.


"Bulek mendengar cerita dari Umi, tentang perjodohanmu Ndok."


Hilya terdiam mendengarkan.


"Bulek tidak perlu mencemaskan Hilya, yang penting Bulek sehat kembali itu yang Hilya inginkan"


"Semoga kamu selalu bahagia Ndok, Bulek sangat berharap kamu mendapatkan jodoh terbaik dari Alloh."

__ADS_1


"Amin."


Paklek pun turut mengamini doa itu.


* * *


Hilya duduk di teras masjid ia mengenakan sneakers setelah usai menunaikan sholat magrib berjamaah di masjid yang tersedia di dalam Rumah Sakit.


"Apa perlu Paklek antar Ndok?"


suara Paklek membuat Hilya menengadah melihat pemilik suara itu.


lalu ia berdiri setelah kedua sneakersnya terpasang rapih.


"Tidak Paklek, Hilya bisa pulang sendiri lagipula ini belum terlalu malam, jalanan masih ramai dan jarak pesantren dari sini hanya 15menit."


"Kamu yakin Ndok?


Paklek memastikan kembli.


"Iya paklek. Paklek di sini saja menjaga Bulek."


"Jika saja Gibran bisa sepertimu pastilah kami sangat bahagia Ndok." mata Paklek berkaca-kaca saat ia mengingat putra semata wayangnya yang terjebak pergaulan remaja nakal.


"Paklek, percayakan selalu ada pertolongan dalam setiap musibah."


"Iya Ndok, dan semoga Alloh menyadarkan Gibran untuk kembali pada jalan yang ia ridhoi."


"Amin." Hilya mengamini.


"Ya sudah hati-hati ya Ndok. telpon jika sudah sampai."


Hilya mencium tangan Paklek sebelum ia beranjak darisana.


Paklek menatapi kepergian gadis berwajah teduh dan memiliki senyuman manis itu.


"Siapapun yang menjadi jodohnya pastilah beruntung. semoga kamu selalu bahagia nak." panjatan doa Paklek seraya menatapi kepergian Hilya bersama metik putih miliknya.


* * *


"Tolongggg! .."


Hilya reflek menghentikan laju motornya.


saat suara jeritan wanita itu menembus indra pendengarannya.


"Apa ada yang meminta tolong?" gumam Hilya. dengan memastikan pendengarannya lagi.


"Tollonggggg....!"


Hilya membulatkan matanya sempurna, disaat teriakan itu terdengar sangat jelas.


Hilya melepas helem meletakan pada kaca sepion lalu menuruni motornya.


ia mengumpulkan keberanian, menyusuri sumber suara.


Deg ...


langkah Hilya terhenti, jantungnya berdekup kencang bahkan kakinya gemetar,


ia melihat seorang pria yang berusaha membawa seorang wanita muda,


dengan menarik paksa kedua tangannya.


"Tollong!.." triak wanita itu lagi.


"Diam brengsek!" sentak Mario, dengan menggeret kedua tangan wanita itu."


Hilya cepat-cepat bersembunyi di balik tembok saat ia melihat 3 Pria berbadan besar menghampiri Mario.

__ADS_1


"Aman bos." ucap salah satu dari mereka.


"Bawa dia, gue ingin kepuasan dari wanita ini."


perintah Mario dengan mendorong tubuh wanita malang itu hingga ia terdorong dan jatuh dalam dekapan salah satu anak buahnya.


"Tidak! ampuni aku tuan!" wanita itu meronta memohon, namun Mario acuh ia melanjutkan langkahnya menyusuri jalanan yang sepi itu.


Sementara disisi lain Hilya gemetar ketakutan dengan keringat bercucuran. ia membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya yang bertumpuk, karena ia terlalu takut jika mereka mendengar deruh nafasnya.


Mario berhenti melangkah, ia merasakan ada seseorang di balik puing puing bangunan, menoleh kebelakang seketika itu juga Hilya membenamkan diri di balik tumpukan triplek, berjongkok dengan terus menutupi mulutnya.


Deg ...


Hilya membulatkan mata saat pandangannya menangkap sepasang kaki dengan sepatu hitam mengkilap tengah berdiri di depannya.


Ketakutannya bertambah, takala ia menyadari mereka mengetahui persembunyiannya.


Jantungnya terasa akan berhenti berdetag saat itu juga.


bahkan bibirnya gemetar karena menahan tangis.


"Bangun " perintah Mario. suara dingin Mario terdengar sangat menakutkan ditelinga Hilya.


Hilya tidak juga berdiri dari jongkoknya, hingga Mario meraih lengannya, mencengkram lalu menariknya agar wanita yang bersembunyi itu berdiri menampakan wajahnya.


Deg ...


Mario mematung, begitupun Hilya yang terkejut karena takut.


Mario perlahan melepas cengkramannya pada lengan Hilya.


ia mundur beberapa inci, dengan raut memerah saat ia menyadari gadis itu adalah sosok wanita yang menjadi cinta pertamanya.


Hilya menatap Mario dengan penuh kebencian, dan takut.


Dadanya naik turun akibat rasa takut yang luar biasa.


"Maap aku..." ucap Mario dengan mengulurkan tangan hendak meraih lengan Hilya.


namun Hilya mundur ia pun reflek memeluk kedua tangannya menangkupnya pada dada. ia sungguh ketakutan saat ini.


Bagaimana bisa seorang wanita diperlakukan begitu kasarnya oleh 4pria, pikiran Hilya berkelana ke mana-mana.


"Tidak, aku tidak seperti yang kamu pikirkan."


Hilya tidak bersuara karena mendadak pita suaranya terasa sangat berat.


ia hanya menggeleng dengan terus berjalan mundur, namun Mario justru berjalan maju.


"Tidak. aku mohon, aku tidak seperti itu, kamu salah paham padaku."


Hilya terus mundur, tanpa ia ketahui di belakangnya ada lobang galian.


"Berhenti!" Mario memperingatkan. namun Hilya tidak mendengarkan.


"Aku mohon berhenti. Tidakkkk..."


" Aaaaaa......"


Brakkk ..


Hilya terjatuh kedalam galian lobang sedalam 3meter.


Mario melihat kedalam lobang dan Hilya nampak tak sadarkan diri.


"Sial!" ..


Mario meninju tanah meluapkan emosinya.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2