Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Muhasaba Cinta.


__ADS_3

Kita tidak akan menemukan kebahagian yang sama dalam sosok yang berbeda. Sebab satu orang yang hilang tidak dapat digantikan dengan sosok yang baru datang.


💕💕💕


pada nungguin yaaa....


maaf ya, yok capcus langsung ke bab.


jangan lupa vote, like dan koment dong. jika berkenan bisa kasih sedikit dari rejeki kalian. bisa bunga kopi juga boleh. makasi...


* * *


Sudah 1 minggu sejak kedatangan Hilya kembali, tapi belum bisa menemui Mario.


Di hari ke 7 Hilya kembali datang berkunjung ke rumah besar Kenzo berharap dapat berbincang dengan Mario setidaknya ia ingin sekedar menyapa tapi seperti hari-hari sebelumnya ia mendapat penolakan.


"Maaf Mbk, tapi Nona Pelangi tidak mengijinkan saya untuk membuka gerbang." kalimat itu sudah setiap pagi Hilya dengar dari satpam rumah yang berjaga di pos depan.


Hilya tersenyum manis menampakan gigi gingsul miliknya.


"Aku tahu Pak, kali ini aku tidak meminta untuk membuka gerbangnya." Hilya merogo tas ransel punggungnya yang sudah ia peluk.


"Bisakah aku meminta tolong berikan ini pada Mas Mario, Pak?" Hilya menyodorkan sebuah sajadah dan sarung yang masih terbungkus rapih dengan plastik transparan, lewat lobang kaca pos satpam itu.


"Baik, Mbak akan saya sampaikan pada Nona Pelangi."


"Terima kasih, Pak. Dan ini," Hilya kembali menyodorkan satu bingkisan kali ini sebuah mangkuk tertutup.


"Bisa tolong berikan ini juga Pak?" tanya Hilya ragu.


"Ini," Hilya menyodorkan mangkuk tertutup lainnya lagi.


"ini untuk sarapan Bapak."


Satpam itu nampak tersenyum menerimanya.


"Terima kasih loh Mbak."


Hilya mengangguk seraya tersenyum.


"Tolong ya Pak."


Hilya mengendarai metik merah miliknya. Meninggalkan rumah besar itu.


ia tidak lagi merasa kecewa seperti beberapa hari lalu bukan berarti Hilya sudah menyerah dengan hubungannya. Hanya saja ia mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini, Hilya yakin jika tidak hari ini pasti esok dapat bertemu dengan Mario dan meminta maaf tentang masa lalu. Hilya hanya ingin meminta maaf agar beban dan rasa bersalahnya sedikit berkurang.


Mario mendengar penuturan satpam pada Pelangi mengenai Hilya, satpam pun memberikan sajadah dan sarung beserta mangkuk yang tertutup.


Aromanya mengeruak sedap saat Pelangi membuka penutupnya.


"Tidak terlalu buruk untuk ukuran gadis egois, setidaknya dia mengerti makanan paporit Kak Mario." lirih Pelangi menatapi sambel ikan teri bercampur pete dengan cabe rawit pedas.


Pelangi berbalik, terkejut saat Mario tengah memperhatikannya dari belakang.


Mario menuntut penjelasan pada Pelangi, mengapa namanya disebut oleh satpam jangkuk dengan rambut beruban yang baru saja beranjak pergi.


Mario pun bertanya tentang wanita bernama Hilya.


"Di—dia, dia." Pelangi bingung harus menjawab pertanyaan dari Mario.

__ADS_1


"Dia mantan istrimu Nak," Ibu berjalan mendekat dengan seorang dokter yang Mario ketahui sebagai dokter pribadinya.


"Namanya Hilya, ada cerita panjang tentang pernikahan kalian, hingga berujung perpisahan, Ibu mohon kali ini turuti Ibu ya, jauhi wanita itu, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri."


Mario terdiam tatapannya kosong menatap lantai berwarna putih.


"Ibu sangat ingin kamu kembali seperti dulu, bekerja, bermain, bersikap konyol dan selalu saja berbuat sesukamu." Ibu berjongkok agar mentamai posisi Mario di atas kursi roda.


Ibu menggenggam erat tangan Mario menatap lekat netra hazel sang anak, hingga Mario turut menatap raut Ibu.


Mario mengangguk tanda menyetujui permintaan Ibu. Dengan segera Ibu mendorong kursi roda Mario berjalan dengan Dokter Reza disampingnya.


Pelangi menatapi kepergian Mario lalu pandangannya beralih pada sarung dan sajadah yang sejak tadi ia pegang dengan satu tangan dan menampalkan pada dadanya.


* * *


Hari silih berganti, waktu terus bergulir Hilya membalik kalender kecil di atas nakas dalam kamarnya.


Waktu mungkin terus berjalan namun Hilya masih tertinggal di tempatnya, ia terjebak oleh masa lalu. Meskipun ia berusaha tegar bersikap seolah baik-baik saja, beraktifitas seperti biasa.


Namun kenangan buruk telah memenjarakan perasaannya, Hilya hanya ingin meminta maaf, ia tidak berani berharap agar Mario mampu menerimanya kembali, ia sadar kesalahan dan keegoisannya yang menyebabkan kecelakaan hingga Mario harus berjuang antara hidup dan mati.


Terlebih, masih teringat dengan jelas bagaimana Mario melepas seatbelt yang ia kenakan agar dapat memeluk tubuh Hilya hingga Hilya tidak mengalami luka serius.


Hilya menarik nafas berat, pengorbanan Mario jelas membuatnya merasa tidak nyaman dan selalu dihantui rasa bersalah.


Hilya membuka lembar kertas yang terlipat rapih, ini kali ke 4 baginya menerima surat dari pengadilan tentang peeceraiannya.


Hilya merasa harus bertemu dan berbicara dulu dengan Mario, sebelum ia menandatangani surat cerai itu.


Lagipula Hilya tidak mendengar Mario menjatuhkan talaknya, isi surat itu pun tidak mempertegas talak dari Mario.


Hilya menarik layar ponsel hingga ponselnya menyala, ia menghilangkan perasaan jenuh dengan berseluncur di sosmed melihat isi facbook dari grub drama korea yang ia ikuti. Hilya merubah mimik wajah alisnya dan keningnya berkerut setelah membaca sekandal yang menimpah biasnya.


Hilya memilih melewati setatus yang sedang ramai itu, kini ia beralih membuka situs pencarian ia mengetikan 'Leon Home Living' nama perusahaan tempat Mario menjabat.


Tak ada alasan lain selain melihat perkembangan prusahaan bisnis terbesar di Asia itu, berharap ada berita mengenai pria yang masih bersetatus suaminya.


"Seketaris?" Hilya menemukan cara untuk masuk kedalam perusahaan besar itu agar dapat bertemu dengan Mario.


Segera Hilya mengisi fomulir pendaftaran via Online untuk lowongan kerja sebagai seketaris direktur.


Hilya sendiri tidak memahami posisi direktur disana diisi oleh siapa, ia tak terlalu memikirkannya ia hanya berharap dapat masuk dan bertemu dengan Mario disana.


Dua hari setelah mengisi data fomulir, Hilya mendapat panggilan telpon untuk seleksi akhir kali ini ia harus datang ke kantor untuk wawancara.


Dengan harapan besar, Hilya bersiap untuk wawancara ia tak henti tersenyum, membayangkan akan dapat bertemu dengan suaminya.


Perasaannya bergemuruh beetumpuk menjadi satu.


Hilya memasukan berkas-berkas data diri lengkap dengan riwayat pendidikannya.


Ini kali pertama baginya melamar pekerjaan yang jauh dari riwayat pendidikannya.


Entahlah Hilya sendiri tidak yakin dapat lulus atau tidak, ia hanya berusaha dan berharap dapat bertemu Mario disana.


"Kamu yakin akan pergi Ndok?" tanya Umi seraya duduk dipinggir ranjang.


"Iya, Umi. Doakan Hilya ya, semoga Hilya bisa bertemu dengan Mas Mario." Hilya berdiri dengan positif menatap raut wajah Umi.

__ADS_1


Umi menghela nafas beratnya.


"Apa tidak masalah Ndok jika kamu bersihkeras bertemu? Umi takut suamimu itu tidak menerimamu, dan—"


"Umi cukup doakan saja yang terbaik untuk Hilya, jika Mas Mario menolak bertemu pun sudah Hilya persiapkan, dan tidak akan kecewa, Hilya tahu Mas Mario mungkin masih belum mendapatkan kembali ingatannya, atau jika dia berpura-pura lupa, Hilya akan berbesar hati Umi, Hilya hanya ingin bertemu dengannya dan meminta maaf, itu saja Mi."


Umi tersenyum penuh keyakinan.


"Semoga saja kamu mendapatkan pekerjaan ini Ndok, meskipun bukan bidang kamu." Umi menyematkan senyum pada kalimat terakhirnya, ia seolah menganggap kenekatan putrinya ini merupakan sebuah hal yang jarang terjadi.


Mengingat riwayat pendidikan Hilya yang bukan dibisang akuntasi perkantoran melainkan pendidikan agama islam.


"Alloh selalu memberi jalan pada hamba yang mau berusaha Umi, kita tidak pernah tahu 'kan tentang jalan hidup kita kedepannya akan seperti apa." Hilya menepuk punggung tangan Umi.


"Semoga kamu diberi kelancaran Ndok."


"Amin..."


* * *


Waktu bergulir Hilya duduk menunggu antrian panggilan, ia mengamati setiap raut wajah para pesetra yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Terkadang nampak bahagia dan ada juga yang menangis.


Bukan, namun bukan tentang diterima atau tidaknya yang sedang Hilya pikirkan saat ini.


Berulang kali Hilya mengedarkan pandangan berharap menemukan sosok yang ia cari, ia berharap suatu kebetulan seperti dalam novel ketika pemeran utamanya tanpa sengaja bertemu dengan kekasihnya yang lama terpisah.


"Bagaimana? Apa yang mereka katakan?" tanya seorang wanita pada temannya yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Em...mereka mengatakan akan menghubungiku, menurutmu jika seperti itu tandanya aku diterima atau tidak?" jawab seorang wanita lain dengan raut yang sulit Hilya artikan.


Hilya mengalihkan pandangannya dari obrolan kedua wanita yang tak dikenalnya itu, Hilya pun tidak tahu jawabpan dari pertanyaan yang ia dengar, karena ini pun pertama kali baginya.


"Apalagi, Mario Sastriaji—" Hilya kembali menoleh pada kedua wanita itu yang kini sudah beranjak beberapa langkah darinya, sepertinya mereka sudah akan pergi.


Hilya berjalan terburu.


"Tunggu!" suara Hilya sedikit keras dan ia nampak berlari kecil.


Kedua wanita itu menoleh dan saling memandang bingung mengapa wanita berhijab menghentikan langkah mereka.


"Maaf," ucap Hilya setelah berhadapan dengan mereka.


"tadi kamu menyebut Mario?" Hilya memasang wajah penuh tanda tanya.


"Iya, ada apa ya mbak?"


"Apa Mario Sastriaji yang berada di—di dalam sana?" tanya Hilya dengan menunjuk ruangan yang berada di ujung koridor.


"Iya, salah satu dari mereka adalah Mario Sastriaji." wanita itu nampak menghela nafas.


"Tampan tapi galak, aku hampir saja menangis karena dimarahi olehnya, jika tidak mengingat ini di kantor mungkin aku sudah berteriak ketakutan." terang wanita itu dengan bergedik.


Percakapan mereka terhenti karena seorang petugas menyebutkan nomer antrian milik Hilya.


* * *


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2