
"Hilya..." sapa seorang pria berwajah teduh dengan senyuman bersahabat.
"Ustad Azis." Hilya tersenyum dengan meletakan buku yang ia pegang.
Pengunjung perpustakaan lumayan ramai dengan suasana tenang karena ini perpustakaan maka mereka datang hanya untuk membaca dan mencari buku yang mereka perlukan.
Takdir, atau sebuah kebetulan? Dalam benak pun tidak pernah terpikir bahwa mereka akan bertemu kembali setelah beberapa bulan tidak saling bertukar kabar.
Percakapan, mereka lanjutkan di kafe dekat perpustakaan.
Dua mangkuk ice cream terhidang di atas meja.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini," Ustad Azis menyendok ice cream miliknya, menikmati ice cream rasa vanila itu.
"milikmu akan mencair."
"Hah?! i–iya..." Hilya tersenyum canggung.
Ini pertemuan pertamanya setelah peristiwa yang membuat Hilya kehilangan Abi dan terpaksa menikah dengan Mario.
"Maaf, maafkan Aku, aku tidak pernah menyangka penolakanku untuk menikah denganmu justru berdampak seperti ini." Ustad Azis menatap netra Hilya, membuat Hilya menundukan pandangan.
"Tidak Ustad, memang sudah seharusnya seperti itu." Hilya menghela nafas pelan.
"tidak ada sebuah kebetulan dalam hidup, begitupun dengan takdir." Suara lembut Hilya masih persis seperti dulu, sangat indah dan terasa menyejukan.
Ustad Azis mengulas senyum mendengar suara Hilya.
"Jika begitu, apakah pertemuan kita ini adalah takdir?"
Hilya mengangkat wajah guna melihat wajah dari lawan bicaranya.
"Jika sekarang Aku bisa memilikimu, apakah itu merupakan takdir?" sambung sang Ustad.
__ADS_1
Hilya terdiam, ia sudah kembali menundukan pandangan, menatapi mangkuk ice cream miliknya yang mulai mencair.
"Alloh selalu memberikan dua pilihan diantara takdir yang Alloh hadapkan pada mahluknya." sambung Ustad Azis.
Hilya masih terdiam, sepertinya Hilya mulai mengerti kemana arah pembicaraan Ustad Azis.
"Alloh menggerakan mahluknya melalui ubun-ubun. Namun Alloh membiarkan kita yang menentukan arahnya. Ketika seorang hamba memilih jalan yang salah maka kerugian baginya, begitupun sebaliknya." Ustad Azis menyondongkan tubuh kedua tangannya bertumpu di atas meja.
Hilya masih terdiam. Ucapan Ustad Azis membuatnya mengingat tentang takdir yang menyatukan dirinya dengan Mario. tentang sebuah pilihan yang membuatnya berada di kota ini, jauh dari orang-orang yang ia kenal.
"Saat ini keadaannya sedang tidak baik-baik saja." Ustad Azis sedang menyinggung keadaan Mario, Hilya kembali menatap Ustad itu dan segera menunduk lagi. Wajahnya berubah sendu.
"sesekali Aku mengunjunginya dan memberikan pemahaman ilmu agama pada mereka."
Meskipun tidak mengulas senyum, namun raut wajah Hilya nampak lega dari sebelumnya.
Ustad Azis tidak lantas meminta Hilya untuk kembali pada Mario, namun juga tidak mengatakan untuk meninggalkan Mario.
Ustad yang memiliki perawakan tinggi dengan tatapan lembut itu hanya mengingatkan tentang pilihan dari takdir.
Sejak pertemuannya dengan Ustad Azis siang tadi, Hilya menjadi semakin pendiam. ia hanya bicara jika Umi bertanya.
"Nduk..." Umi mengusap ujung kepala Hilya yang masih terbungkus mukenah berwarna putih.
Karena mereka baru saja selesai sholat isya dengan Umi sebagai imamnya.
Mereka meninggalkan pesantren dan menetap di solo di kediaman Almarhum orang tua Umi.
"Umi, apakah Hilya salah jika Hilya marah dan kecewa pada seseorang? Hilya sangat mengaguminya hingga rasa kecewa Hilya terlalu besar atas kesalahan yang dia lakukan."
Umi menggenggam tangan Hilya menumpuk kedua telapak tangan itu lalu menggenggamnya. Umi tahu Hilya sedang membicarakan tentang Mario.
"Kecewa, marah itu adalah perasaan yang manusiawi, terlepas dari semua itu kita kembalikan pada diri kita. Nduk, tidak ada manusia yang sempurna tanpa melakukan kesalahan."
__ADS_1
"Tapi Umi, Hilya selalu saja mengingat perbuatan buruknya. Wajah dan suaranya bahkan terdengar menjadi menakutkan." kedua pipi Hilya sudah basah oleh air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir.
Umi menyeka pipi Hilya dengan bergantian.
"Maka jangan kamu paksakan, Umi sudah berbuat kesalahan dengan menikahkanmu pada pria yang kamu benci, untuk sesaat keegoisan Umi telah menyakitimu Nduk. Maafkan Umi."
Hilya segera menggeleng.
"Tidak Umi, jangan meminta maaf karena Hilya akan terlihat semakin buruk." segera Hilya menyandarkan kepala pada pundak Umi.
"Apa kamu mulai ragu dengan perasaanmu?" tanya Umi dengan menepuk pelan pundak Hilya.
"Hilya sudah sering meragukannya Umi. Terkadang Hilya ingin sekali menerimanya melupakan kesalahan di masalalu. Tapi terkadang Hilya merasa takut Umi, Hilya takut jika dia kembali menyakiti perasaan Hilya, Hilya takut jika dia mengulanginya lagi dengan wanita lain."
Umi menarik nafas berat, seolah sedang mengeluh betapa beratnya beban yang harus ditanggung putri semata wayangnya itu.
"Maka yakinkan dirimu dahulu, mantapkan keputusanmu. Umi selalu mendoakan yang terbaik untukmu Nduk."
"Umi, Hilya ingin kembali ke pesantren."
"Apa kamu yakin Nduk?"
"Jika Hilya harus memantapkan hati, bukankah Hilya harus mulai berusaha mengenal lebih dalam lagi tentangnya?"
Umi mengangguk membenarkan ucapan Hilya.
"Umi benar, tidak ada manusia yang sempurna, tanpa melakukan kesalahan. selama ini Hilya melakukan kesalahan dengan merasa benar sendiri. bahkan Hilya tidak menghargai niat baiknya untuk berubah. Hilya memandangnya sebagai pelaku dosa. Tanpa Hilya sadari Hilya sudah meremehkan dirinya."
Umi tersenyum senang karena Hilya sudah menyadari kesalahannya.
"Sstt ...sudah. jangan menangis lagi. Kita akan kembali besok. Kita akan memulainya, memperbaiki yang salah, merapikan kembali hubungan."
* * *
__ADS_1
Bersambung.