
**jangan di skip okay.
otor slow up ya, karena kesibukan di dunia nyata.
terkadang ada waktu luang buat ngetik tapi otak ngebleng, jadi otor selalu sempatkan mencari bahan bakar otak melalui drakor dan aktifitas yang bikin otak fres.
so ... kalo otor agak lama up harap dimaklumi. dan jangan berfikiran otor tinggalin pas kalian lagi sayang sayangnya. karena novel ini bertujuan untuk mengobati kekecewaan kalian dan menebus kesalahan otor.
untuk kelanjutan Kenzo dan Pelangi bisa kalian baca di ******* dan ***. disana free otor gak kunci bab sampai tamat. sementara madih berjalan 16 bab ya disana, nanti otor kabarin lagi kalo semua bab sudah rampung.
pengumuman ini otor letakan di bagian atas. agar kalian baca, biasanya kalo di bawah suka di skip. hihihi**...
* * *
"Allohuma inni as'aluka min khoiriha, wakhoirima jabaltahaa alaih.
Waaudzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha allaih."
Dengan memegang ubun-ubun Hilya, Mario melafatkan doa akad sementara para saksi yang terdiri dari penghulu serta kedua belah pihak keluarga turut mengamini.
Pernikahan Mario dan Hilya dilaksanakan setelah acara 3 hari kematian Abi Rozak.
dengan menikah bukan berarti Hilya mampu menerima Mario, karena sampai saat ini Hilya tidak menunjukan kebahagian dan sikap terbukanya.
Hilya mencium tangan Mario setelah penghulu memintanya, berlanjut dengan kecupan dikening Hilya.
Tidak ada yang mengerti cerita dibalik pernikahan ini kecuali hanya beberapa orang bahkan Bulek Esi yang merupakan ibu Asi Hilya.
"Alhamdulilah. selamat ya ndok" ucap sang bulek setelah Hilya bersalaman dengannya.
"Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah." Bulek mengusab pipi kanan Hilya tersenyum penuh suka cita. lalu ia melihat pada Mario dan menerima uluran tangan Mario guna bersalaman meminta restu.
"Bulek Tahu, kamu adalah pria baik dan selalu berharap kalian berjodoh alhamdulilah Alloh mengabulkan doa Bulek." Bulek menatap Mario dan Hilya bergantian dengan mata yang berkaca-kaca.
Hilya merangkup tubuh Bulek Esi, memeluknya erat-erat.
Bulek mengusab punggung Hilya seketika itu Hilya tak dapat membendung tangisnya.
ia menangisi takdir yang mengubah rencana hidupnya, Hilya menangisi nasib yang ia anggap buruk.
Sementara Bulek tersenyum bahagia seraya mengusab punggung Hilya.
tangisan itu airmata itu mereka anggap sebagai tanda kebahagiaan tanpa tahu mengapa airmata itu tercibta.
Bulek menyentuh pipi Hilya dan mengusabnya penuh sayang.
"Jadilah istri yang sholeha ndok, raih cinta sebanyak banyaknya dari suamimu." Bulek mengusab airmata Hilya, seraya tersenyum bahagia.
* * *
__ADS_1
Kumandang adzan subuh menggema hingga sudut-sudut pesantren.
Hilya sudah rapih dengan mukenah yang membalut tubuhnya hendak kemasjid untuk sholat subuh berjamaah.
langkahnya terhenti ketika ia mendapati Mario yang tidur di lantai ruang keluarga dengan hanya beralas tikar dan bantal yang yang menopang kepalanya ia tidur dengan melingkar kedinginan karena selimutnya justru tidak berada ditempat semestinya.
"Hilya." suara Umi menyadarkan Hilya dari lamunannya.
"bangunkan suamimu, ajak dia ke masjid."
"Tidak Umi." jawab Hilya seraya berjalan mendahului Umi.
Umi menatapi kepergian Hilya dengan menghela nafas berat.
"Mario." Umi menggoyangkan bahu Mario agar Mario terbangun dari tidurnya.
"Mario, ayo bangun sudah waktunya sholat subuh."
Perlahan Mario membuka mata ia mendapati Umi yang berjongkok di depannya dengan memakai mukenah berwarna putih.
namun Mario justru tersentak kaget dengan mendadak berdiri.
ia lupa dengan sosok yang berada di depannya ini, namun detik berikutnya kesadarannya 100 persen terkumpul ia menggaruk tengkuknya guna mengatasi rasa grogi bercampur malu.
Umi tercengang dengan tingkah Mario namun Umi nampak menahan tawa setelah sempat terkejut.
"Sudah waktunya sholat subuh, ayo kita kemasjid bersama." ajak Umi kemudian seraya bangun dari jongkoknya.
.
.
.
"Sepertinya kamu terlalu lama di kamar mandi kita jadi tertinggal sholat berjamaah." ucap Umi dengan menatapi barisan makmum yang nampak sedang berdizikir.
"Ayo." ajak Umi kemudian dan Mario mengekor.
"kamu lewat pintu sebelah sana ini kusus untuk wanita."
Mario membeo, ia benar benar tidak mampu berfikir jernih dia ngebleng dengan keadaan yang belum biasa baginya.
Pertama ia bangun dengan sosok wanita yang ia ketahui adalah ibu mertuanya setelah drama terkejut yang ia alami, lalu ia dihadapkan dengan rumah yang masih asing dan dengan kegiatan di waktu subuh yaitu sholat di masjid.
Sungguh situasi yang mendadak ini membuat Mario nampak bodoh.
"Maaf Umi." ungkapnya seraya membungkuk hormat, lagi-lagi Umi nampak menahan tawa.
"Kita sholat berjamaah ya, kamu yang mengimami."
__ADS_1
"Apa?!" Mario terkejut lagi dengan mata terbuka sempurna dan mulut mengangah sungguh wajah yang tidak pernah Mario tampakan kecuali di hadapan Pelangi dan Kenzo.
* * *
"Ini." Umi memberikan sebuah buku panduan sholat untuk Mario.
"Kamu pelajari ya, agar kamu bisa menjadi imam sholat untuk Umi dan kususnya untuk Hilya,"
Mario menghela nafas berat, setelah kejadian di masjid, untung saja kebetulan ada santri pria yang juga tertinggal sholat berjamaah hingga santri itu bisa mengimami sholat mereka.
"Umi tahu ini berat bagimu, karena kamu belum terbiasa dengan situasi disini. terlepas dari masalalu dan kesalahanmu terhadap Hilya, Umi percaya kamu mampu menjadi imam dan kepala keluarga yang baik untuk Hilya." Umi merangkup kedua telapak tangan Mario.
Mario hanya diam mendengarkan dengan menatap Umi.
Ada penyesalan dalam netra Mario yang Umi tangkap.
"Kamu percaya takdir?" tanya Umi selanjutnya, sementara Mario diam ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi pertanyaan Umi. sedangkan dirinya kini telah dipermainkan oleh takdir.
"Dalam riwayat shaheh muslim, Nabi bersadda bahwa Alloh menentukan takdir mahluknya 50.000 tahun sebelum langit dan bumi tercibta. ketentuan ini berlaku bagi semua mahluk." Umi memandang Mario dan menjeda kalimatnya lalu mengangguk Umi dapat memahami pertanyaan yang mengganggu Mario tanpa Mario ungkapkan.
"Bersabarlah, tawakal pasrahkan semua pada Alloh. mungkin saat ini Hilya belum bisa menerimamu tolong fahami dia, dia butuh waktu untuk menerima keadaan yang ia alami."
"Terimakasih Umi, karena sudah menerima Mario dan memaafkan kesalahan Mario."
Umi mengangguk.
"Umi melihat ketulusan dan cinta matamu itulah alasan Umi menerimamu. Umi berharap kamu pun mampu mengubah pandangan Hilya terhadapmu." Umi tersenyum yakin.
"Ow iya kapan kedua orang tuamu kembali dari jerman?"
"Mungkin 2 sampai 3 hari lagi Umi. Umi sebelumnya Mario hendak meminta persetujuan dari Umi."
"Tentang apa Nak, katakan saja."
"Ini tentang rencana resepsi yang kedua orang tua Mario minta. tapi jika ini memberatkan Umi dan Hilya, Mario akan membicarakan lagi pada mereka."
"Baik Nak, Umi akan bicara pada Hilya kamu siapkan saja keperluannya."
"Tapi jangan memaksa Hilya Umi, Mario tidak ingin semakin membuatnya tertekan."
"Umi faham Nak." Umi mengusab telapak tangan Mario.
"segera berkemas dan kita sarapan bersama."
"Tidak Umi, Mario ada rapat pagi ini jadi Mario akan sarapan di kantor saja."
"Baiklah, jangan lupa pelajari buku panduan sholat itu ya."
Mario tersenyum lembut seraya mengangguk.
__ADS_1
* * *
Bersambung.