Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Penolakan


__ADS_3

Hilya mengeluarkan paperbag dari dalam ransel gendongnya yang sering ia bawa.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini." kata Hilya dengan meletakan paperbag kecil berwarna putih di atas meja.


"Aku tidak berhak atas itu. tolong terima kembali."


Mario menatap wajah lembut Hilya.


begitupun Hilya yang terpaku oleh mata elang milik Mario.


namun detik berikutnya Hilya sudah menundukan pandangan.


"Astafirloh." dengan menunduk Hilya mengusab dada,


'Ya alloh lindungi hamba dari perbuatan dosa.' batinnya mengerutuki perbuatannya yang tidak bisa menjaga pandangan.


Mario meraih paperbag kecil itu lalu merogo isinya.


"Aku membelinya penuh dengan cinta." ucapan Mario hingga membuat Hilya kembali menatapnya.


"Ayo, menikahlah denganku." ajak Mario kemudian hingga mata Hilya membulat sempurna.


Mario terkekeh karenanya.


"Lihat wajahmu sangat lucu dan menggemaskan rasanya aku ingin sekali menciummu."


Hilya semakin terperangah menatap Mario.


namun yang ditatap semakin terkekeh.


"Aku sedang tidak melucu jadi hentikan tawamu." suara Hilya membuat Mario sontak terdiam ia menatap lekat wajah lembut nan cantik yang saat ini terlihat sangat serius.


Hilya kembali menundukan pandangan.


'Astafirloh, kenapa aku sulit sekali untuk tidak menatap wajahnya' dari balik hijab tangan Hilya mengusab usab dada yang terasa sesak.


"Aku tidak sedang bercanda Hil, aku serius dengan ajakanku, untuk menikahimu."


"Maaf, tapi saya rasa anda pun tahu jika saya sudah memiliki calon suami."


"Ya, aku tahu dan aku pun tahu bahwa kamu tidak mencintainya."


"Tahu apa anda tentang perasaanku?"


"Tahu saja, karena sudah sangat terlihat jelas kamu terpaksa menikah karena ingin membahagiakan orang tuamu."


"Jangan bicara sembarangan tuan. anda tidak tahu dampak apa yang anda timbulkan nantinya. dan berhenti menggangguku, lagipula tidak kah anda berfikir untuk bercermin, siapa anda sehingga berani sekali melamar anak dari kiai besar. tidak kah anda merasa malu dan mlinder, saya sarankan lebih baik anda urungkan niat anda itu. sebelum anda benar-benar dipermalukan oleh diri anda sendiri." Hilya berdiri.


"Assalamualaikum." pamitnya sebelum meninggalkan Mario.


Mario terdiam menatapi kepergiannya,


"Dia benar." gumam Mario dengan mengusab kepala.


"meskipun aku tahu sangat tidak mungkin namun aku menunggu ia mengucabkannya karena disaat itulah hatiku akan merasakan sebuah gertakan dari larangan keras.

__ADS_1


anju, perintahkan anak buahmu untuk mengawalnya sampai rumah, setelah itu bubarkan mereka. aku tidak ingin berurusan lagi dengan dia."


"Baik Pak." jawab Anju sigap. lalu ia nampak mengomando para anak buahnya melalui aerpiece.


* * *


Motor metik Hilya melaju di jalanan memecah kebisingan kendaraan yang turut berlalulalang.


tanpa ia sadari beberapa orang selalu menjaganya dari jarak yang tidak ia ketahui.


"Gibran." gumamnya pelan saat sosok yang ia kenali tengah melaju dengan kendaraan motor GL Pro.


nampak pula seorang wanita yang berpakaian seksi tengah duduk di belakangnya dengan merangkup pinggang Gibran tanpa jarak.


mereka menerobos lampu merah.


Hilya mulai melaju disaat lampu kembali berubah dengan warna hijau.


melaju pada arah yang Gibran lalui meskipun ia sendiri tidak tahu kemana selanjutnya harus pergi.


namun ia terus saja bergerak mengikuti nalurinya.


"Kemana Gibran pergi?" tanyanya pada diri sendiri, seraya mengatur laju kendaraannya.


ia terus berjalan menyusuri jalanan ibukota dan memasuki kawasan gedung club, cafe dan toko-toko yang menjajakan aneka hidangan berjajar rapih dengan banyak pengunjung.


"Aku baru tahu ternyata disini sangat ramai."


ia berhenti di depan club karena ia melihat motor milik Gibran.


Hilya melepas helemnya menstandarkan motor di area parkir yang tersedia. lalu ia mulai memasuki club.


antara pria dan wanita sudah tidak lagi berjarak.


mereka berbaur seolah tidak memperdulikan orang lain bahkan diantaranya tidak sungkan untuk berciuman dan berdekat dekatan.


Hilya menutup hidung dan mulutnya menggunakan telapak tangan. ia mengedarkan pandangan mencari sosok Gibran diantara para pria hidung belang.


pelampilan Hilya sangat menyita perhatian karena biasanya gadis berhijab akan pergi ke musola dan berdakwah, tapi kali ini gadis itu nampak mengunjungi sebuah club malam.


"Gibran." gumamnya, kemudian berjalan mendekat.


Belum genap ia mendekati Gibran. lengannya sudah di cengkram oleh seseorang hingga membuat ia menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang.


"Lepas!" pekik Hilya dengan menggibaskan lengannya.


namun cengkraman itu sangat kuat hingga Hilya pun meringis menahan sakit.


"Aku menyukai gadis galak sepertimu manis." ucap pria dengan penampilan layaknya seorang preman.


berambut gondrong dengan jambang dan setelan kaos dengan jaket kulit dan celana jeans.


tubuhnya besar tinggi membuat Hilya menengadah guna menatap wajah pria itu.


"Lepaskan aku." pinta Hilya dengan terus berusaha melepaskan cengkram pada lengannya.

__ADS_1


"Ada apa itu?" tanya Gibran pada seorang pengunjung.


karena saat ini para pengunjung lain nampak berkerumun membuat lingkaran mengelilingi Hilya dan Pria besar itu.


"Bos mendapat mainan baru." ucap singkat pengunjung itu.


"Wanita?" tanya Gibran lagi.


"Tentu saja, cantik dan berhijab."


"Hijab?" Gibran merasa heran. ia bangkit dari duduk meninggalkan kekasihnya, berjalan diantara kerumunan pengunjung.


"Hilya." gumamnya pelan dengan sangat terkejut.


.


.


.


Sementara disisi lain. mobil Mario berjalan dengan kecepatan tinggi ia tidak menghiraukan pengendara lain bahkan beberapa kali mobilnya hampir saja menabrak mobil lain.


Infomarsi dari Anju membuatnya kalap hingga ia ingin segera sampai di club yang Hilya masuki.


Kegaduhan sudah terjadi antara kubu bodyguard yang Mario tugaskan, dengan para preman yang mencoba menyakiti Hilya.


Anju sigab membantu bawahannya baku hantam dengan para lawan.


ia menendang lawan yang berusaha memukul bawahannya yang sudah terkapar.


Suara bising musik bercampur kegaduhan para pengunjung dan gemerlap lampu kian menambah suasana semakin terlihat buruk.


namun Mario tidak menjumpai sosok yang ia cari.


ia menyelusuri setiap sudut yang penuh dengan hilir mudik pengunjung tak jarang diantara mereka memutuskan untuk keluar dari tempat itu.


kegaduhan semakin bertambah takala para penjaga club turut baku hantam dengan dodyguard Mario.


"Tuan Nona lari bersama seorang pemuda." lapor seorang bodyguard dengan luka lebab.


"Sial!" pekik Mario ia segera keluar dari tempat yang sudah kacau itu.


Mario berlari menyusuri jalanan dengan mengedarkan pandangan mencari sosok Hilya.


Dan benar saja tepat di ujung gang diantara pertigaan jalan.


nampak samar dari kejauhan ia meliihat seseorang pemuda tengah dikeroyok lima orang pria.


Mario berlari karena ia mempunyai firasat Hilya berada diantra mereka, meskipun ia tidak melihat sosok yang ia cari.


.


.


.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2