Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Rencana Khitbah


__ADS_3

"Assalamualaikum .." ucap Hilya disaat ia baru saja akan memasuki rumah namun ia justru terpaku diambang pintu karena tamu yang saat ini sedang mengobrol bersama Abi dan Umi merupakan keluarga kiai Abdul, Ustad Azis nampak turut serta diantara para tamu.


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersama.


Hilya lantas melangkah masuk dan menyalami Umi, Abi juga Umi dari Ustad Azis.


Hilya tersenyum sungkan pada para tamu.


ia duduk disamping Uminya.


"Apa kabar Ustadzah Hilya?" sapa Aziz dengan tersenyum lembut.


Hilya tersenyum namun segera ia menundukan pandangan.


"Alhamdulilah Alloh senantiasa menjaga saya dan Keluarga, Ustad." jawab Hilya. suaranya yang lembut serta tutur kata yang baik membuat kedua orang tua Ustad Azis saling memandang dan mengangguk memberi kode.


"Jadi maksud kedatangan kami untuk kembali mendapat jawabpan dari Ustadzah tentang khitbah kami." Kiai Abdul berbicara sebagai wali Ustad Azis.


"Dan kami senang karena Ustadzah Hilya memberikan jawabpan yang baik bagi kami."


Hilya mengangkat pandangannya menatap wajah Kiai Abdul lalu berganti menatap Abinya.


Saat itu juga Umi menggenggam telapak tangan Hilya.


Hilya menoleh pada Uminya dan Umi mengangguk.


Seketika itu kelopak mata Hilya berkaca. ada airmata yang tertahan di sana.


.


.


Umi membuka pintu kamar Hilya, ia melihat jam yang menampal pada dinding kamar Hilya sudah menunjukan pukul 11malam.


"Hilya .." ucap Umi dengan duduk di sisi ranjang samping Hilya tertidur namun Hilya tidak benar-brnar terpejam.


Hilya membuka mata lalu duduk bersila dengan selimut masih menutupi tubuh bawahnya.


ia membenarkan Hijab yang ia kenakan.


"Mi ... kenapa Abi membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dulu kepada Hilya?" tanyanya setelah duduk dengan nyaman


"Abi sedang menjaga hubungan baiknya dengan kiai Abdul nak."


"Lalu bagaimana dengan perasaan Hilya? bahkan Abi tidak memberikan waktu untuk Hilya, agar sholat istihoro meminta petunjuk pada Alloh, karena menikah adalah hal yang sakral kita melibatkan Alloh dalam setiap hubungan."


Umi terdiam memikirkan ucapan putri tunggalnya.


"Apakah menjaga hubungan baik jauh lebih penting daripada kebahagian Hilya Mi?" suara Hilya bergetar menahan tangis.


Sementara Umi hanya terdiam tenggorokannya tercekat, ia membenarkan semua ucapan putrinya.


"Maafkan Umi Nak, Umi tidak bisa menjaga perasaanmu."


Umi menggenggam erat telapak tangan Hilya.


"Umi akan mencoba bicara pada Abi." lanjut Umi.


"Apa yang akan dibicarakan Mi?" sahut Abi yang entah sejak kapan ia berdiri diambang pintu kamar Hilya.


Umi dan Hilya melihat kearah sumber suara.


Abi melangkah masuk mendekati ranjang dan kini berdiri di samping Umi hingga Umi turut berdiri dari duduknya untuk menjajari Abi.


"Abi. Hilya__..." Umi menggantungkan ucapan karena saat ini Abi nenatapnya dengan serius, Umi pun nampak menundukan pandangan membuat Hilya menarik nafas berat.


"Abi sudah memutuskan waktunya pun sudah ditentukan satu bulan lagi kamu harus mengikuti aturan yang Abi buat." suara berat penuh wibawa milik kiai Rozak membuat kedua wanita itu saling menatap.


Umi menghela nafas panjang begitupun dengan Hilya, jika sudah seperti ini mereka sudah tidak dapat menolaknya lagi.


Mau atau tidak, setuju atau tidak pada akhirnya Hilya akan mengikuti kemauan Abi.

__ADS_1


"Tidurlah, hari sudah larut besok pagi Ustad Azis akan datang menjemput untuk pergi membeli cincin, Abi berpesan padamu agar selalu menjaga sikap. Abi perhatikan beberapa hari ini kamu mulai hilang kendali, tertawa terbahak Abi pun sering mendengar kamu bernyanyi didalam kamar mandi. ingat untuk menjaga wibawa dan tutur katamu terutama didepan santri dan calon keluarga barumu."


"Baik Abi." jawab Hilya dengan masih menunduk.


"Umi, ayo." ajak Abi seraya berjalan mendahului Umi.


"Umi tinggal ya nak." pesan Umi


"Iya Umi."


Umi mengusab ujung kepala Hilya.


"Mantapkan hatimu nak. mohon petunjuk kepada Alloh. Umi yakin Alloh selalu memiliki caranya sendiri untuk membahagiakan umatnya."


"Iya Umi." jawab singkat Hilya.


"Umi akan berdoa untuk kebahagianmu nak, semoga pria yang saat ini sedang mengisi hatimu ditakdirkan oleh Alloh untuk membahagiakan mu."


"Amin.." jawab Hilya mengamini tanpa sadar hingga Umi tersenyum seraya mengusab kepala Hilya.


barulah saat itu Hilya menyadari arti senyuman Umi.


* * *


Pagi menjelang sesuai rencana Hilya akan pergi bersama Ustad Azis untuk membrli cincin.


Hilya meletakan secangkir teh hangat pada meja kecil di teras rumah.


"Silahkan Ustad srlqgi hangat." ucapnya mempersilahkan Ustad Azis untuk meminum teh hangatnya.


"Terimakasi Ustadzah." jawabnya dengan senyuman, namun Hilya selalu menundukan pandangan.


"Ustad, apakah kita akan pergi berdua saja?" tanya Hilya setelah Ustad Azis meletakan cangkir tehnya.


"Tidak Ustadzah, akan ada Qila adik bungsuku yang turut menemani."


"Sukurlah, aku fikir kita hanya berdua saja."


Hilya mengangguk seraya tersenyum, ia membenarkan ucapan Ustad Azis.


Ustad Azis meletakan sebuah buku yang ia ambil dari dalam tas punggungnya.


"Apa ini__. .?" pertanyaan Hilya menggantung seraya ia menatap buku yang kini sedang ia pegang.


Hilya tersenyum dengan mengusab sampul buku itu.


"Iya, itu Buku yang sedang kamu cari"


Hilya menatap Ustad Azis ia heran bagaimana pria didepannya ini bisa tahu bahwa ia sedang mencari buku novel dari penulis paporitnya.


"Darimana Ustad tahu?"


"Aku sempat bertanya pada Umi tentang semua hal yang kamu sukai dan tidak sukai."


Hilya menatap manik pria dengan setelan kemeja lengan pendek yang berwajah teduh itu.


"Maaf." ucap Hilya kemudian dengan menundukan pandangan. hingga Ustad Azis tersenyum dan memaklumi kata maaf dari Hilya.


"Terima kasih Ustad, aku sudah mencarinya dan mencoba memesan tapi PO sudah tutup dan akan mulai terbit lagi bulan depan." suara lembut Hilya terdengar sangat bahagia, karena saat ini pun Hilya tak henti tersenyum dengan membuka buka halaman buku.


"Dan aku masih punya ini." Ustad Azis meletakan paperbag yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Apa ini?" tanya Hilya


"boleh aku membukanya?"


"Silahkan."


Hilya membukanya lalu ia tersenyum semeringah seraya tangannya ia masukan kedalam paperbag untuk mengeluarkan isinya.


"Kaos dengan tanda tangan penulis paporitmu." ucap Ustad Azis dengan tersenyum senang karena Hilya tak henti tersenyum dan mengusab usap kaos berwarna putih itu.

__ADS_1


"Terima kasih Ustad." ucap Hilya kembali.


"Iya, kamu cukup mengucabkannya sekali saja."


Hilya mengangguk, karena ia sedang tidak konsentrasi dengan keadaan ia sedang mengagumi buku dan kaos ditangannya.


"Assalamualaikum.." salam seorang gadis remaja seumuran Hilya.


"Waalaikumsalam.." ucap Hilya dan Ustad Azis bersama menjawab salam


Qila bersalaman dengan Hilya dan mencium tangan Hilya.


"Ini Qila adikku." Ustad Azis memperkenalkan.


"Aku Hilya."


Qila tersenyum


"Mbk cantik banget ya, pantas saja abang Azis sampai susah tidur dan gak doyan makan." ledek Qila hingga Azis menyenggol lengannya.


"Ngawor kamu dek." protes Azis.


"Ayok udah mulai siang nih." ajak Qila agar mereka segera berangkat untuk pergi membeli cincin sebagai tanda jadi diantara hubungan mereka.


* * *


Mario melempar map diatas meja kerjanya.


Yuni nampak tertunduk begitupun dengan seorang detektif yang ia percayai untuk selalu melaporkan perkembangan mengenai Hilya dan keluarganya.


"Jadi kapan mereka menikah?" tanya Mario pada detektif.


"Bulan depan tuan." jawab detektif itu dengan masih menunduk.


Brakkk ...


Mario melempar telpon yang terletak diatasmeja kerjanya.


lantas ia berdiri dari kursinya dengan tangan kiri bercak pinggang sementara tangan kanan mengusab ujung kepalanya.


"Dimana mereka akan membeli cincin?"


tanya Mario kembali.


"Tentang itu kami belum mendapat infomarsi tuan."


"Bodoh! lalu apa saja tugas kalian hah!" pekik Mario kesal.


"Team kami saat ini sedang mengikuti mereka tuan."


"Ikuti aku." Mario melangkah dengan Yuni dan detektif yang mengekor dengan langkah terburu buru.


"Tuan toko sudah terkonfrim." penjelasan detektif segera ia berlari kecil mendahului Mario untuk menekan angka lif.


"Hubungi pihak toko, aku membeli semua isi toko itu."


"Baik tuan." jawab Yuni dengan mengambil posisi berdiri dibelakang Mario bersama detektif disampingnya.


Lif mengantarkan mereka pada basement tempat parkir mobil.


setelah itu mereka terburu buru menuju mobil.


Mobil yang dikendarai Mario melaju dengan kecepatan penuh.


"Aku tidak akan membiarkan pria lain memakaikan cincin dijari manis calon istriku." gumam Mario namun dapat didengar oleh dua orang yang kini duduk di bangku belakang kemudi dengan perasaan takut karena kecepatan mobil yang diatas rata-rata.


"katakan pada pemilik toko untuk melayani mereka, tetap pertahankan mereka jangan sampai mereka pergi."


"Baik Tuan." detektif itu segera menghubungi pemilik toko dari ponsel genggamnya.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2