
Gibran berlari dengan sisah tenaganya, pakaian yang ia kenakan sudah sangat compang camping, terdapat luka seperti sayatan pisau di lengan, kaki, perut bahkan betisnya.
dalam pelarian yang sangat berat ia terjatuh karena tersandung akar pohon.
Hutan yang ia lalui sangat gelap dan rindang.
sunyi bahkan suara hewan dan tiupan angin tidak nampak adanya.
Gibran mencoba bangkit kembali dari jatuhnya namun kakinya terlilit akar pohon.
detak jantungnya berpacu seolah berlomba dengan waktu.
nafasnya tersenggal-senggal keringat membanjiri tubuhnya bercampur dengan warna merah darah.
Gibran terus berusaha melepas jeratan akar pohon dikakinya tiba-tiba akar itu berubah menjadi ular besar.
"Aaahhhhkkk...!" Gibran terbangun dari tidurnya.
"Gibran ada apa nak?" ibu menghampiri nampak kecemasan diraut wajah ibunya.
Gibran masih tersenggal nafasnya kringat bercucuran, terdapat jarum infus yang masih menancab di pergelangan tangannya, bekas jaitan dari sayatan pisau yang ia dapatkan beberapa hari lalu membuatnya harus menginap di rumah sakit hingga dokter memastikan tidak ada efek samping lainnya dari luka yang ia dapatkan.
"Gibran." ucap Ibu seraya memegang telapak tangan Gibran.
"Ibu " Gibran tiba-tiba memeluk erat ibunya.
"Tenang nak, ada ibu disini." ibu mengusab pelan punggung Gibran.
"Bu, Gibran takut bu." ucap Gibran dengan memeluk erat tubuh rentan ibunya.
"Istifar nak, agar hatimu merasa tenang." pinta sang ibu.
Gibran terdiam ia sedang mencerna ucapan sang ibu.
'Apakah ini suatu peringatan?' batinnya.
* * *
Mario membuka mata sayubnya ia memijat pelan keningnya yang terasa berat.
namun ia menjadi terdiam, samar ingatannya mengingat perbuatannya pada Hilya, namun nampak keraguan pada wajahnya.
ia ragu dengan ingatannya.
"Apa aku bermimpi?" gumamnya pelan, ia menyibahkan selimut melihat pada pakaian dan ternyata pakaiannya masih sama persis seperti yang ia ingat terakhir kali sebelum kehilangan kesadaran.
"Aku bermimpi aneh, tapi kenapa terasa sangat nyata, bahkan rasanya benar-benar nyata." gumamnya pada diri sendiri dengan tersenyum mengerutuki kegilaan mimpinya.
Mario bangkit ia segera menuju kamar mandi untuk bersiap ke kantor.
.
.
.
"Ini?" tanya Kenzo pada Pelangi yang sedang duduk di sofa panjang depan tivi dengan sebuah katalog hunian yang mereka pegang.
"Tidak ini terlalu besar sayang, aku ingin yang sederhana tapi indah." sahut Pelangi.
"Apa kalian akan membeli rumah baru?" tanya Mario yang tiba-tiba saja ikut bergabung disamping Pelangi.
"Kakak." Pelangi memeluk manja Mario.
"Wahhh ... lihat dirimu, kamu semakin terang-terangan mesra kepada pria lain." protes Kenzo.
"Aku berhak karena Aku cinta pertamanya, kamu hanya perusak hubungan kami." jawab Mario nyeleneh.
Pelangi terkekeh dengan melepas pelukannya pada Mario.
__ADS_1
"Kak, kami akan mencari rumah baru kakak ikut pilihkan ya." ujar Pelangi
"Kalian akan pindah, bukankah ini rumah kalian." jawab Mario.
"Gue gak bisa satu rumah sama cinta pertama binik gue, mending gue ngalah gue yang pergi dari rumah ini."
"Sejak kapan lue punya kamus bahasa mengalah?" tanya Mario kembali.
Pelangi terkekeh kecil.
"Tidak kak, tidak seperti itu kami hanya ingin mempersiapkan rumah baru untuk kakak."
"Apa kamu sedang mengusir cinta pertamamu cil?"
"Em..." Pelangi mengangguk
"Jahat sekali, habis manis sepah kau buang."
"Tidak untuk sekarang kak, tapi untuk kakak tinggali bersama istri kakak nanti."
"Istri?" jawab Mario terkejut dengan kalimat Pelangi.
"Ya, istri bukankah suatu saat kakak pasti akan menikah dan memiliki istri?"
"Iya, tapikan."
"Tidak apa kak, hitung-hitung kita sedang menabung. benarkan mas." Pelangi tersenyum pada Kenzo.
"Benar sayang." jawab Kenzo seraya mengusab lembut pipi Pelangi.
"Yok, ke kamar." ajaknya kemudian.
"Aishh ... dasar otak mesum, ini masih pagi!" protes Mario.
"Iri aja lu." pekik Kenzo.
"Kapan lu balik ke kantor?" tanya Mario kembali.
Pelangi mencubit kecil perut Kenzo.
"Auhhh ... sakit sayang." keluh Kenzo.
Mario memutar bola mata ia benar-benar jengah dengan tingkah kedua manusia ini.
"Gue ke kantor bentar." Mario berdiri.
"Kak ini hari minggu loh." ujar Pelangi.
"Em..." Mario berfikir nampak mencari jawabpan yang tepat untuk mereka.
"Ada beberapa file yang tertinggal gue harus mempelajarinya. gue pergi dulu ya." pamit Mario dengan berlalu.
"Dasar dia masih saja bertingkah sok kuat." gumam Kenzo.
"Apa harus kita membantunya Om?"
"Tidak, biarkan dulu aku tahu bagaimana sifatnya, dia akan mengurusnya sendiri."
"Tapi dia terlihat sangat pucat."
"Dia akan meminta bantuan ketika dirasa memang harus dan dia akan tetap diam ketika dirasa cukup mampu."
"Apa sih Om, bahasa oom muter-muter kaya gangsing." keluh Pelangi.
"Benarkah?" tanya Kenzo dengan wajah yang mesum.
namun Pelangi justru terkekeh, ia sangat hafal dengan tingkah suaminya jika sudah seperti ini.
"Ayo kita ke kamar." Kenzo mengangkat tubuh mungil istrinya.
__ADS_1
"Ish ..." protes Pelangi dengan mencubit pinggang Kenzo.
"Auuhh ..." keluh Kenzo seraya mencium bibir ranum Pelangi dengan terus berjalan menaiki tangga.
* * *
Hilya terdiam dengan menunduk, mendengarkan percakapan Abi dan Umi dengan kedua orang tua Ustad Azis, nampak Ustad Azis pula diantara mereka.
"Sudah pak kiai, saya sudah menyiapkan semua keperluannya." jawab Azis ketika kiai Rozak bertanya tentang persiapan akad dan resepsi.
"Alhamdulilah, maafkan kami terlalu merepotkanmu nak." timpal Abi Rozak.
"Tidak kiai memang sudah menjadi tugas saya selaku mempelai pria." jawab Ustad Azis.
Hilya menggenggam erat jari-jarinya ia sedang kalut antara jujur atau berbohong antara bercerita tentang permerkosaan itu atau tetap diam dan menjalani pernikahan.
hati kecilnya selalu mengatakan agar ia jujur.
namun ego nya melarang, terlebih dengan kondisi Abi yang sedang sakit ia tidak mungkin bercerita tentang apa yang sudah ia alami.
Ustad Azis terus memperhatikan perubahan sikap Hilya namun lagi-lagi ia bungkam tidak ingin bertanya apa yang Hilya inginkan.
suka atau tidakkah Hilya dengan pernikahan yang akan mereka langsungkan.
.
.
.
Mobil Mario terparkir di luar gerbang pesantren pondok darul islam. ia menatapi gerbang yang turtutup itu, entah apa yang membawanya sampai kesini.
Mario menghela nafas panjang.
"Mengapa aku berada disini?" gumamnya pada dirinya sendiri.
ia meremas kencang pengemudi saat kelibatan ingatan yang ia yakini hanya mimpi kembali hadir.
"Mimpi itu benar-benar seperti nyata." gumamnya lagi seraya membentur benturkan kelapa bagian belakang pada sandaran kursi kemudi.
Pintu gerbang terbuka membuat Mario menutup jendela kaca mobilnya dan ia sedikit menunduk agar tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Beberapa mobil keluar dari pesantren.
setelah dirasa mereka sudah pergi Mario kembali pada posisi duduk sempurna.
"Itu mobil yang sama." ingat Mario saat bertemu Hilya dan Ustad Azis beberapa hari lalu.
"itu mobil sih kunyuk." gumam Mario mengerutuki kepergian Ustad Azis.
.
.
.
"Hilya." panggil Umi karena Hilya termenung di kursi ruang tamu bahkan saat para tamu sudah pergi.
Umi duduk di samping Hilya dengan memegang telapak tangan Hilya.
"Kamu pucat sekali nak, tanganmu sangat dingin." Umi memeriksa dahi Hilya guna memastikan suhu tubuhnya.
"Panas sekali. ayo kita ke dokter." ajak Umi namun Hilya tetap saja diam.
tiba-tiba saja ia pingsan.
"Hilya!" panggil Umi panik.
"Abi ... Abi ...!"
__ADS_1
* * *
Bersambung