
"Selamat." Ustad Azis mengulurkan tangan mengajak bersalaman dengan Mario.
Suasana rumah duka keluarga Bu Odah sudah nampak sepi hanya beberapa kerabat saja yang masih tinggal untuk menyiapkan acara pengajian nanti malam, mereka sibuk dengan tugas masing-masing.
Nampak pula beberapa ibu-ibu yang duduk di lantai beralas tikar mengobrol bersama Bu Odah, ada Hilya diantara ibu-ibu itu.
Mario memandangi dari luar jendela kaca yang transparan.
Ustad Azis datang dan berdiri menjajari Mario.
"Selamat." Ustad Azis mengulurkan tangan guna berjabat tangan dengan Mario.
Namun Ustad berwajah tedu itu lantas menariknya kembali karena tidak mendapat sambutan ramah dari Mario.
Mario mengacuhkannya, dan beranjak dari tempat itu.
Baru beberapa langkah ia kembali berbalik dan mengadap pada Ustad Azis.
"Ada beberapa hal yang ingin aku minta darimu." ucap Mario dengan nada dinginnya.
Ustad Azis hanya menarik tipis bibirnya.
"Apa memang sudah menjadi kebiasaan orang kaya untuk bersikap dingin seperti ini?"
"Tidak ada alasan bagiku untuk beramah tama denganmu."
"Lalu apakah kamu fikir aku akan memberikan apa yang kamu minta?"
"Aku yakin kamu tidak akan menolak permintaanku. Karena agama yang mengharuskannya"
Ustad Azis nampak mengerutkan kedua alis ia, tak dapat menerka apa yang akan pria angkuh ini minta darinya.
"Ajari aku tentang agamamu." sambung Mario kemudian.
__ADS_1
Ustad Azis hanya menatap datar pada Mario.
"Orangku akan datang menjemputmu."
"Kamu bisa datang sendiri ke pesantrenku, mengapa harus aku yang menghampirimu."
"Aku butuh prifasi."
"Datanglah di hari rabo dan kamis, bagda magrib. Selain itu aku tidak bisa." Ustad Azis beranjak.
Mario menghela nafas setelah kepergian Ustad yang ia anggap beruntung karena Hilya mampu membuka hati untuknya, jika saja ia tidak melakukan kesalahan mungkin saat ini Hilya dan Ustad Azis sudah menikah.
Canggung. Itu yang saat ini sedang Mario rasakan.
Setelah ia mengantar Bu Odah pulang kampung dan meninggalkan Bu Odah disana, kini mereka kembali melakukan perjalan guna kembali ke pesantren.
Hanya ada Anju diantara mereka, sebagai sopir, ini kali pertama Mario duduk di samping kemudi saat Anju menyupirkan kendaraannya, karena di bangku belakang sudah ada Hilya.
Mario memperhatikan Hilya dari pantulan kaca sepion.
"Tuan, apa perlu kita mengganti kendaraan, sepertinya ini sudah sangat usang dan tua."
Mendengar pwrkataan Anju, Hilya lantas mengedarkan pandangan keseluruh kabin, kesan usang dan tua bahkan tak nampak sedikitpun pada kendaraan ini.
"Tidak. Aku tidak ingin mengganti, ataupun meninggalkannya."
Hilya terdiam menatap wajah Mario dari pantulan sepion yang juga tengah menatapnya.
"Biarkan saja ini tetap ada. Agar aku dapat selalu mengingat rasa sakitnya." Mario membenarkan tubuhnya pada posisi nyaman lalu memejamkan mata.
'Astaqfirloh... ya Alloh." Hilya mengusab dada berharap mengurangi rasa marahnya pada pria yang duduk dihadapannya seolah tanpa dosa denfan mudah ia berbicara tentang luka seseorang.
Hari semakin larut saat mobil mereka memasuki pelataran pesantren.
__ADS_1
Suasana sudah sepi karena jam mengajar telah berakhir pada pukul 9 malam.
Anju bergegas membuka pintu untuk Mario, sedangkan Hilya sudah terlebih turun dan tengah menapaki pelataran guna menuju kediamannya.
Rasa lelah dan mual membuatnya berjalan dengan sedikit berlari.
"Tuan, sepertinya Yuni sudah selesai memindahkan pakaian dan sebagian keoerluan anda kemari." Anju berbicara setelah mematikan layar ponselnya, ia baru saja membuka pesan dari Yuni.
"Apa!?"
"Nona Hilya yang memintanya, kami membersihkan ruang baca agar bisa anda tiduri." sambung Anju lagi. Namun Mario justru tertarik pada Hilya yang sudah mulai menjauh.
"Carikan sesuatu untuk mengurangi rasa mualnya." ucap Mariodengan berlalu meninggalkan Anju yang nampak berfikir keras guna melaksanakan tugas yang ia dapat.
* * *
"Apa yang coba kamu katakan?" Mario menuntun penjelasan dari Ustad Azis. Kedatangan Ustad Azis pada kediaman Kenzo bukan tanpa alasan, karena ini sudah waktunya bagi Mario menerima pendidikan agama dari Ustad Azis.
Ustad Azis terdiam ia memandangi wajah Mario dengan ekprsi yang sulit diartikan.
"Baiklah, aku tidak akan bertele-tele. Jadi apakah kamu sudah sunat?"
"Sial!" pekik Mario, hingga membuat Anju yang berdiri disampingnya nampak menahan tawa.
Ustad Azis bergeming, ia menatap Mario datar, karena baginya ini adalah hal penting.
* * *
Bersambung.
Aku slow up ya, untuk hari minggu aku selalu libur.
Yok, votenya yok.
__ADS_1
Jangan lupa tip dan like. jika kalian sempatkan bisa tinggalkan komentar juga.
Maciiiiii....