Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Ambigu.


__ADS_3

"Bagaimana ini?" gumam Hilya saat dokter baru saja keluar dari ruangan tindakan setelah menangani kaki kanan Hilya.


Kini kakinya sudah terbungkus dengan perban elastis berwarna coklat. Sedangkan pada mata kaki sebelah kiri juga nampak terbungkus perban.


Hilya duduk di belangkar, dokter dan suster meninggalkannya begitu saja setelah selesai memeriksa, sedangkan untuk bangun berdiri saja Hilya tidak bisa apalagi untuk berjalan menggapai kursi roda yang sudah disiapkan dokter.


Hilya menoleh ke arah pintu berharap ada suster yang lewat.


Lagi-lagi ia harus menghela nafas lelah.


Hilya menunduk lesu merasa hari yang ia lalui terlalu melelahkan.


ia melirik jam tangannya sudah menunjukan pukul 16:30 waktu untuk sholat asar sudah akan habis.


Hilya bertekad untuk bangkit. Ia turunkan kedua kaki hingga sudah menggantung di belangkar perlahan ia berangsur menginjakan kakinya.


"Auh!" Hilya tidak tahan dengan rasa nyerinya dan terjatuh di lantai.


"Sakit?"


Hilya mendongak ke arah pintu. Entah sejak kapan sosok itu berdiri di sana.


Mario berjalan mendekat, ia meraih tubuh Hilya menggendongnya lalu mendudukan pada kursi roda.


"Te—terima kasih."


"Aku antar pulang." Mario hendak mendorong kursi roda itu namun Hilya menghentikannya dan meminta antarkan ke masjid dulu untuk sholat.


Mario menurut ia antarkan Hilya pada masjid yang rumah sakit miliki.

__ADS_1


Mario mendorong kursi roda Hilya hingga depan pintu kamar mandi.


"Apa biaa kamu berwudhu?"


"Insya Alloh"


"Lukamu?" Mario melihat perban pada kaki Hilya. Ia masih berdiri di belakang dengan kedua tangan memegang tuas kursi roda.


"Aku hanya akan mengusabnya saja dengan air."


"Boleh begitu?" Mario berjalan kini mereka saling berhadapan.


Hilya mengangguk.


"Mas," nampak rasa canggung saat Hilya menyebutnya.


"Sudah sholat?"


"Ayo kita sholat berjamaah." pinta Hilya hingga Mario mengangguk.


Mario merasa ragu karena selama ini ia hanya menjadi makmum belum pernah mengimami sholat siapa pun.


Bahkan Mario sholat hanya ketika saat bersama Ustad Azis saja, entah karena kesibukan sehingga ia melupakan waktu sholat ataukah memang ia malas hingga waktu sholat menjadi tidak teratur.


Mobil yang dikendarai Mario melaju dengan kecepatan lambat karena jalanan macet, jarak yang seharusnya tidak butuh waktu lama menuju pesantren kini terasa sangat panjang.


Bahkan hingga terdengar adzan magrib mereka masih terjebak macet.


Mario membelokan mobil karena peemintaan Hilya untuk mencari masjid terdekat.

__ADS_1


"Mengapa kamu selalu saja memerintahku?" Mario membantu Hilya berpindah duduk pada kursi rodanya.


"Maaf." lirih Hilya


Namun lagi-lagi Mario harus direpotkan oleh Hilya karena bangunan masjid memiliki undakan anak tangga yang cukup tinggi, untuk sampai pada masjid Hilya harus digendong.


Mario meraih tubuh mungil itu, menggendongnya meniti tangga yang terbuat dari batu semen.


Hilya bingung harus memposisikan tangannya dimana. Akhirnya karena takut terjatuh Hilya mengalungkan tangannya pada leher Mario.


"Kondisikan jantungmu, detakannya sangat mengganggu." protes Mario pada Hilya, hingga membuat Hilya semakin berdebar akibat malu.


"Kamu mendengarku tidak!?" sungut Mario.


"I—iya, aku, aku." Hilya semakin gugub dan bingung bagaimana ia bisa mengendalikan detak jantungnya jika ada cara untuk itu mungkin sudah ia lakukan sejak pertama bertemu.


Mario berhenti karena sudah sampai di atas. Mario mendudukan Hilya pada teras masjid.


"Aku akan mengambil kursi rodanya." pamitnya kemudian.


Hilya mengangguk, ia pandangi punggung Mario yang meniti undakan tangga masjid.


Rasa sesal kini tergambar pada wajah manis itu.


Bahkan terdapat genangan air mata di pelupuk matanya.


ia teringat tentang bagaimana sikapnya dulu terhadap Mario.


Bahkan ia tidak pernah menghargai kebaikan Mario.

__ADS_1


Melihat bagaimana Mario membantunya hari ini semakin membuatnya merasa bersalah.


💕 💕 💕


__ADS_2