Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Keluhan Yang Membahagiakan.


__ADS_3

"Assalamualaikum, Umi," Ucap Hilya ketika sambungan telponnya telah terhubung pada Sang Umi.


Hilya terdiam mendengarkan sang Umi menjawab salamnya.


Hilya bertanya tentang kapan kepulangan Umi, karena seingatnya Umi hanya menginap selama 3 hari saja.


Dan seketika terjadi pemadaman listrik.


"Astaqfirulloh," reflek Hilya saat itu juga.


"Kenapa Nak? apa kamu baik-baik saja?" tanya Umi dengan nada bicara cemas.


"Umi lampunya mati, sepertinya terjadi pemadaman listrik." Hilya mulai resah dalam duduknya karena tidak ada penerangan sama sekali.


"Tidak apa Nak, biasanya hanya sebentar tidak sampai 5 menit sudah nyala kembali, lagipula jika memang lama, santri jaga akan menghidupkan genset. Kamu kenapa belum tidur Nak?"


"Hilya_" Hilya menjeda kalimatnya ia tidak mungkin bicara pada Umi bahwa tidak bisa tidur karena di rumah sendirian.


"Dimana suamimu?" Umi mulai resah.


"Dia,"


"Apa kalian bertengkar?"


"Tidak Umi, kami tidak pernah saling menegur lalu bagaimana bisa ada pertengkaran."


"Assalamualaikum, Ustadzah." ucap dua orang satpam, dengan mengetuk pintu rumah.


"Waalaikumsalam," Hilya berjalan dengan tertatih merabah karena gelap. Hingga ia menyentuh hendel pintu dan menariknya.


"Ada apa pak?"


"Ini Ustadzah, saya mengantarkan lilin, karena mungkin sepanjang malam akan mati lampu."


"Loh, genset kita kan ada pak?"


"Itu Ustadz saya lupa mengisi minyak. Sementara sudah larut malam begini toko pasti sudah tutup."


"Iya sudah pak, terimakasi."


Kedua satpam itu pergi setelah membalas ucapan terimakasih dari Hilya.


"Umi akan menghubungi suamimu, dan memintanya untuk membeli minyak di pom bensin 24 jam." ucap Umi dengan nada lembutnya.

__ADS_1


"Tidak perlu Umi, mungkin dia lembur di kantor."


"Tapi ini sudah larut, Umi khawatir saat kamu mual dan kondisi rumah gelap. Sudah Umi tutup dulu telponnya, umi akan meminta suamimu pulang. assalamualakum."


"Waalaikumsalam, Umi."


Entah harus senang atau tidak saat Hilya tahu Mario akan pulang.


namun Hilya kembali nampak sibuk dengan ponselnya, ia mengirim pesan pada Umi agar menyampaikan pada Mario untuk membelikannya jagung bakar.


Hilya tersenyum setelah mendapat jawabpan dari Umi.


Waktu kian berjalan, hanya dengan satu cahaya dari lilin yang nampak remang, Hilya duduk di ruang tamu ia mengusir sepi dengan membaca alquran.


Tanpa terasa sudah lebih dari 30 menit ia membaca, hingga ia menutup bacaannya dengan doa, mengusabkan kedua telapak tangan pada wajah diakhir doanya.


Hilya menghidupkan layar ponsel, sudah menunjukan pukul 12 malam.


Keresahan Hilya mulai mengeruak. Rasa kantuk dan lelah sudah tidak ia hiraukan.


Hilya meletakan ponsel kembali namun lagi lagi tangannya melakukan kesalahan ia menyenggol lilin hingga lilin itu terjatuh ke lantai, tidak sampai memadamkan api namun api lilin nampak kecil hingga membuat Hilya harus berhati hati dalam mengangkatnya.


Dan benar saja lilin itu mati secara mendadak.


Hilya menghidupkan senter ponselnya, ia menarik nafas lelah. Bukan karena takut di rumah sendiri dengan kondisi gelap. Hanya saja ia merasa kesepian sendirian ditengah malam.


Hilya mengangkat kedua kaki melipatnya hingga kedua lutut berada tepat di depannya, ia gunakan untuk menyangga dagu dengan kedua tangan memeluk kaki.


apa yang ia tunggu?


Jagung bakar kah, cahaya lampu, ataukah sosok suami yang bahkan tak pernah ia sebut dalam doa.


* * *


Silau. Mario mengedipkan kedua mata ketika sinar matahari menembus jendela kaca hingga mengenai wajahnya.


Mario menggeliat nyaman dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Namun detik berikutnya Mario tiba tiba duduk, ia terbangun dengan terkejut mengedarkan pandangan lalu menyadari jika ia berada di dalam kamar pribadinya.


Mario meraih ponselnya diatas nakas, terdapat notif panggilan dari Umi sebanyak 20x. Dan beberapa notif pesan nampak bertandar di ponselnya.


Mario menyibakan selimut ia tergesah berjalan bahkan ia tidak ingat untuk memakai alas kaki.

__ADS_1


Pelangi dan Kenzo yang melihat Mario terburu buru hanya menggeleng dan saling terkekeh kecil.


"Brengsek!" Mario menekan tlakson mobil hingga beruntun, ia kesal dengan kondisi jalan yang memang selalu macet ketika di pagi hari.


Butuh waktu 1 jam untuk sampai di pesantren, akibat kondisi jalan yang macet.


Mobil Mario memasuki gerbang pesantren, segera ia terburu menuju rumah yang berada di belakang gedung pesantren.


Penampilan bangun tidur Mario dengan masih menggunakan setelan kemeja putih yang tergulung dan rambut yang berantakan menjadi pemandangan tersendiri bagi santri


Mario berlari kecil ia ingin segera sampai dan bertemu istrinya.


ia masuk begitu saja karena pintu rumah pun nampak terbuka lebar.


"Mas Mario?" Sapa buk odah yang berada di ruang makan sedang membersihkan piring dan sisah sarapan Hilya.


"Bu, dimana Hilya, apa dia baik-baik saja?" nampak sekali kecemasan diraut wajah Mario.


Bukannya menjawab, Bu Odah justru seolah meneliti penampilan acak kadul Mario.


Heran, tentu saja. Kesan rapih dan wangi tak nampak terlihat pada Mario.


"Lihat saja Bu, jika dia pulang aku akan menghukumnya, untuk apa dia pulang jika di rumah sana bisa tidur dengan nyenyak." suara Hilya terdengar dari arah dapur.


"Ustadzah sampai tidak tidur karena menunggu Mas Mario." bisik-bisik Bu Odah pada Mario.


"Dengarkan saja, jangan membantah." sambungnya lagi sebelum ia meninggalkan Mario menuju dapur dengan membawa piring kotor.


Wajah cemas dan khawatir Mario berganti dengan rona bahagia, saat ia mendengar suara Hilya yang nampak menggerutui dirinya dari arah dapur.


Mario dapat mendengar suara Hilya yang mengobrol dengan Bu Odah, membahas tentang mati lampu yang bahkan belum nyala sampai pagi ini.


Mario mengulas senyum ketika Hilya kembali menggerutuki dirinya yang tidak pulang. Kali ini Mario merasa bahwa keberadaan dirinya nyata bagi Hilya.


Raut sesal Mario nampak saat mendengar Hilya bercerita pengalamannya sendirian di rumah dalam kondisi gelap gulita.


Hilya berjalan hendak keluar dari dapur karena ia sudah menyelsaikan mencuci piring.


Deg ...


Langkah Hilya terhenti, karena saat ini Mario berdiri di hadapannya. Hilya tidak menyangka bahwa Mario sudah berada di rumah dan mungkin saja ia mendengar ketika Hilya menggerutukinya.


* * *

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2