
Hallo...apa kabar maaf ya aku telat update. hehehe aku harap temen-temen bisa mengerti, jangan khawatir aku tinggal ya, karena aku akan temani kalian sampai tamat disini.
ayo buruan baca, hari senen besok jatah votenya kalian boleh dong buat aku.. hehehe
🌹🌹🌹
"Hijrah bukanlah sebatas ganti casing saja, lebih dari itu ada ahlak yang juga harus ditata." Hilya menatap pada Gibran yang juga menatapinya.
"Sebuah kutipan dari salah satu penulis paporitku," Hilya terkekeh kecil ia merasa bangga karena dapat mengingat kutibpan sederhana namun bermakna itu.
"dan aku setuju dengannya bahwa hidayah tak datang pada sembarang orang. Aku harap Mas tidak akan merubah niat Mas."
"Bisakah kamu membimbing Hijrahku?" tanya Gibran dengan menggenggam tangan Hilya menatapnya serius penuh kelembutan, tatapan itu berbeda dari biasanya.
Hilya tersenyum serta menggeleng.
"Aku belum sebaik itu hingga mampu membimbing hijrahmu, Mas. Aku tidak seperti dulu, bahkan saat ini aku merasa kehilangan diriku yang dulu. Mana mungkin aku bisa membimbingmu saat aku sendiri tidak bisa berbenah diri Mas?"
Gibran menyipitkan pandangan ia tidak mengerti maksud ucapan Hilya. Karena yang ia tahu Hilya sangat bisa dihandal 'kan untuk niat hijrahnya.
Beberapa hari lalu Gibran harus kembali dirawat di rumah sakit ia hampir saja mati akibat pesta miras oplosan bersama beberapa temannya, bahkan satu diantara mereka telah meninggal dunia.
Namun selalu ada hikmah pada setiap musibah. Mungkin apa yang Gibran alami ini terdengar sederhana bagi sebagian orang, dan tak jarang pula diberita 'kan di televisi. Namun bagi Gibran kejadian itu mampu membuka mata hatinya, ia akhirnya sadar apa yang sering ibunya nasehat 'kan. Nasehat ibu satu persatu seolah terngiang ditelinga hingga menemui titik terang. Terlepas dari itu ia sebenarnya takut akan kematian yang datang tanpa terduga, siapa yang menyangka teman sekaligus sahabatnya meregang nyawa setelah canda tawa dan pesta, rasanya sulit dipercaya.
Matahari sudah kembali ke ufuk barat. Kini berganti bulan yang bertugas. Sinarnya sangat terang dengan bulat sempurna.
Mario bersandar pada kursi kemudi ia merasa sangat lelah, sementara disisi kirinya nampak Ustad Azis yang terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
Mario telah mengutarakan keresahannya pada Ustad berwajah teduh itu, mulai tentang perjanjian nikahnya dengan Hilya yang hanya beberapa bulan saja dan tentang permintaan janda dengan 2 anak yang memintanya untuk ia nikahi.
Bukan, bukan hanya itu. Ustad Azis justru mencemaskan permintaan Mario, tentang menikahi Hilya setelah perceraiannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Ustad tampan itu masih menyayangi Hilya. Namun ia pun tidak akan semudah itu menikahi Hilya, terutama Hilya apakah Hilya mau ia nikahi setelah perceraiannya.
"Lalu kapan kamu akan menikahi janda itu?" tanya Ustad Azis, membuat Mario mengangkat diri dari sandaran kursi.
"Lima hari lagi."
"Apa Ayahmu sudah terbebas?"
"Ya, pagi tadi. Dan kini giliranku yang memenuhi janji."
"Meskipun menikahi janda merupakan perbuatan yang rosul senangi, namun terlepas dari itu kamu pun harus mendapat ijin dari istri pertamamu."
Mario berpaling ke samping, menatap pada Ustad Azis.
"Mungkin benar, aku harus membicarakan ini pada Hilya, toh selama ini dia tidak mengakui hubungan kami, mungkin ini akan membuatnya merasa sedikit lega."
Ustad Azis tersenyum.
"Jangan menertawai nasibku!" pekik Mario. Sungguh ia tidak suka dengan senyuman yang terlihat lembut itu.
__ADS_1
"Kamu sudah baik-baik saja."
Mario mengerutkan keningnya, tidak mengerti ucapan Sang Ustad.
"Kamu sudah bisa meneriaki aku, aku anggab kamu sudah baik-baik saja, jadi ijinkan aku masuk ke rumahku." Ustad Azis melihat jam tangannya. Sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Lenjeh bener, kaya perawan. Ini masih jam 9 belum tengah malam, lagi pula aku pilih-pilih, aku tidak akan merenggut kesucianmu." hardik Mario
Ustad dengan senyuman manis itu nampak terkekeh kecil, wajahnya terlihat semakin tampan saat ia bersikap santai.
Mario menarik sisi bibir atasnya, seraya mata yang melirik tidak suka.
"Aku tidak ada yang menunggu meskipun aku pulang subuh, tapi kamu? Kamu yakin satpam akan membuka gerbang untukmu?"
Mario terdiam fikirannya mulai teringat tentang Hilya yang pernah menunggunya pulang hingga melewatkan makan malam.
Sebenarnya Ustad Azis pun tahu bahwa satpam sudah pasti akan tetap membuka gerbang meskipun Mario pulang dini hari. Ustad Azis hanya menyederhanakan ucapannya.
"Keluar." pinta Mario ketus.
"Keluar, apa kamu mau menginap dan bermalam denganku hah!?"
"Aishhh ..."
"Aku terlihat sangat hina saat bicara denganmu."
"Baiklah, aku masuk dulu. Terima kasih untuk transferan kemarin, aku tekankan sekali lagi—"
"Iya, aku tahu, aku hafal. Kamu tidak menjual ilmu, adapun aku memberimu uang hanya sebagai bentuk rasa syukur, aku tahu itu, aku tahu." ucap Mario dengan sedikit nada bicara yang ketus.
"Sial!" pekik Mario.
\* \* \*
Pagi ini Hilya nampak sibuk dengan ditemani 3 santriwati mereka duduk di lantai dengan beralas tikar, mengepak bingkisan sembako berupa minyak, susu, beras, gula putih dan berbagai kebutuhan dapur. Memasukannya pada pelastik merah besar.
Hilya menyadari bisik-bisik dari 3 santri itu, mereka tak hanya berbisik namun juga terdengar terkekeh kecil, lantas Hilya mengikuti arah pandangan dari 3 santri di depannya ternyata mereka sedang mengagumi Mario yang berdiri di dekat meja sarapan, jarak mereka cukup dekat hanya beberapa meter saja hingga nampak jelas wajah segar dengan rambut yang masih nampak basah karena Mario baru saja selesai mandi bahkan ia masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana kolor.
Mario menyeruput cangkir kopi yang sudah tidak mengepulkan asap.
"Dia lagi." gumam Hilya dengan kembali melihat pada 3 santri yang sedang sibuk menakar beras memindahkan pada pelastik transparan, meskipun mereka tidak memandangi Mario tapi Hilya tahu bahwa beberapa detik lalu secara diam-diam mereka mengagumi wajah suaminya.
"Mas!" panggil Hilya pada Mario, hingga Mario meletakan cangkir kopinya dan menoleh pada Hilya.
"bisa tolong sebentar?" pinta Hilya.
Mario tak lantas nenghampiri, ia justru terpaku dengan pikirannya, ia pikir Hilya sedang marah padanya, karena kejadian beberapa waktu lalu membuat Hilya kembali bersikap acuh.
Mario berjalan menghampiri hanya lima langkah dari posisinya saat ini.
"A-ada apa?" tanya Mario gugub. ia berdiri di depan Hilya, hingga akhirnya Hilya bangun dari duduknya.
__ADS_1
Hilya tersenyum, ia meraih handuk kecil yang melingkar di leher Mario.
Tentu saja Mario dibuatnya semakin terpaku saat Hilya mengusabkan handuk putih itu pada rambut basah Mario.
Mungkin suara jantung Mario saat ini akan menyamai suara beduk dari masjid. Sungguh ia kesulitan mengatur pernafasannya, detak jantungnya sungguh diluar kendali, terlebih dengan posisi Hilya yang bahkan harus berjinjit demi menggapai rambut Mario.
Bisikan dari 3 santri itu membuat Hilya semakin tersenyum lebar pada Mario, sementara Mario hanya memasang wajah tegang, ia sudah tidak sanggup lagi mengatur ekprsi wajahnya agar tetap terlihat biasa saja, karena bahkan wajah Hilya berada sangat dekat dengan wajahnya.
Mario menundukan kepala, agar Hilya mudah menjangkau ujung rambutnya.
Tinggi Hilya yang tidak sebanding dengan tinggi Mario membuatnya repot meskipun ia sudah berjinjit.
Mengetahui Hilya kesulitan, tanpa sadar Mario melingkarkan satu tangannya pada area pinggang Hilya merangkuhnya dan mengangkat tubuh mungil Hilya hingga wajah mereka menjadi sejajar tak ada jarak diantara mereka bahkan tubuh Hilya menampal pada tubuh Mario. Mario mengencangkan rangkupan agar tubuh mungil itu tidak merosot.
Mereka terpaku beradu pandang.
Hilya tak menyangka mendapat perlakuan seperti ini dari Mario.
ia ingin menolak namun ia teringat saat ini ada santri yang sedang mengawasi mereka,
Hilya tidak ingin usahanya untuk pamer kemesraan, menunjukan hak milik menjadi sia-sia.
Sementara 3 santri itu nampak tercengang dengan perbuatan Mario yang mengangkat tubuh Hilya hanya dengan satu tangannya.
"Astafirloh..." pekik Bu Odah saat baru datang dari arah dapur.
Mario lekas melepas tubuh Hilya, dan nampak rasa canggung diantara keduanya.
Hilya kembali duduk dan sebisa mungkin bersikap normal dengan mengalihkan perhatian pada beberapa barang yang masih perlu dikemas kedalam plastik besar.
Sementara Mario menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia tidak bisa pergi begitu saja karena saat ini Bu Odah menatapnya seperti membutuhkan kejelasan tentang apa yang ia lihat.
Namun sebenarnya Bu Odah hanya berniat memainkan keadaan Mario saja, karena ia tahu bahwa Mario sedang malu.
"Tuan." kedatangan Anju seperti udara sejuk untuk Mario karena ia bisa kembali bernafas, ia memiliki alasan untuk meninggalkan tempat itu.
"Tuan Kenzo ada di pelataran. Tuan."
"Kenzo? Ada apa dengannya, tak biasa dia melepaskan diri dari pelukan pelangi."
"Beliau datang bersama Nyonya Badriah, Tuan."
Wajah Mario berubah datar, mendengar nama janda itu.
Mario berjalan hendak ke arah ruang tamu, namun langkahnya terhenti saat suara Hilya terdengar memanggilnya.
"Berpakaian yang benar Mas, jangan memberi kesempatan zina mata pada santri yang melihatmu." perkataan Hilya lantas disambut kekehan kecil dari 3 santri dan Bu Odah yang ada di dekatnya.
Mario berbalik dan melihat Hilya yang tak mengalihkan perhatian dari sembako di hadapannya.
"Ajak Kenzo ke pendopo aku akan segera kesana." perintah Mario pada Anju, yang hanya dibalas membungkuk hormat.
__ADS_1
* * *
Bersambung.