Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Permohonan.


__ADS_3

'jika pertemuan itu tidak menyakitkan apakah kamu akan mencintaiku?


jika aku tidak pernah menyakitimu, apakah aku akan menerima cintamu.'


* * *


Hallo para readers. Kiblat Cinta Sang Mualaf.


apakabar setelah lebih dari 3hari aku apsen?


maaf ya kemaren aku drop dan harus istirahat total, ketika aku drop dan ternyata bayiku ikut kena dampaknya.


alhamdulilah sekarang sudah baik baik saja.


untuk yang belum kasih vote. saya persilahkan ya.


untuk yang sudah terimakasih. semoga bantuan kalian bisa membuatku semangat.


***


"Tuan Mario," Anju membuka pintu ruang kerja, ucapannya yang terdengar panik membuat Mario menghentikan aktifitas makan siangnya, bahkan Mario sampai tersendak karena terkejut.


Anju membungkuk saat ia menyadari telah mengganggu makan siang bosnya.


"Maaf Tuan."


"Sial! apa kamu ingin aku mati tersedak hah!" pekik Mario


"Maafkan saya Tuan" Anju membungkuk


Mario menatapnya dengan sebal.


Rasa lapar yang ia alami membuatnya lantas mengacuhkan Anju. sudah beberapa hari sejak menikah dan tinggal di pesantren Mario kerab kali bekerja tanpa menyantap sarapan pagi.


Bukan karena ia terlalu sibuk namun ia sedang menghindari seseorang.


Sebisa mungkin Mario menghindari bertemu Hilya, Mario akan pergi bekerja dipagi hari dan pulang saat sudah malam.


"Tuan, Nona Hilya__."


Mario menatap serius bahkan saat Anju belum genap menyelsaikan ucapannya.


"Ada apa dengan Hilya?" Mario meletakan sendoknya kini selera makannya benar-benar hilang.


Ponsel Mario bergetar, segera ia merogo saku jaznya. Tertera nama Umi di layar.


"Waalaikumsalam Umi " jawab Mario.


namun detik berikutnya Mario berdiri dengan wajah panik lalu ia berjalan terburu dengan Anju mengekorinya.


Anju pun nampak berbicara melalui aerpiece, mengomando bawahan untuk segera menyiapkan kendaraan Mario.


Kali ini Mario sendiri yang menyetir, dengan cara menyetir yang gugal ugalan karena ia sangat tergesah ingin segera sampai pada tempat tujuan.


Beberapa tlakson dari pengendara lain tidak ia hiraukan.


Bahkan ia menambah laju kendaraannya.


Mobil Mario memasuki area rumah sakit.


segera ia bergegas menapaki koridor dengan langkah memburu.


Langkahnya terhenti ketika sampai pada sebuah ruangan yang ia ketahui adalah tempat Hilya dirawat.

__ADS_1


Belum sempat ia menggeser daun pintu, Umi sudah membukanya dari arah dalam.


Umi dan Mario saling menatap nampak kecemasan dari tatapan Mario.


Berbeda dengan Umi yang seolah memintanya untuk tenang.


Hilya ditemukan pingsan di jalanan bahkan darah segar membasahi pakaiannya.


"Bayi kalian baik-baik saja, dokter sudah menanganinya."


Mendengar ucapan Umi membuat Mario bernafas lega.


"Umi hampir saja membunuh bayi dalam kandungan Hilya." Umi menutup pintu ruangan rawat Hilya. Mengajak Mario duduk pada bangku permanen yang terjajar rapih di koridor.


"Apa maksud Umi?"


"Karena gosip tersebar di pesantren bahwa kalian telah pisah ranjang, mau bagaimana lagi santri sering sekali keluar masuk rumah untuk beberapa alasan hingga mereka membuat kesimpulannya sendiri. Umi mencoba menegur Hilya, kamu tahukan Hilya saat ini sangat sensitif, hatinya mudah sekali tersulut emosi."


"Lebih baik kamu jangan menemui dia dulu ya, Umi kuatir dia akan melampiaskan kemarahannya padamu."


Mario menarik nafas lelahnya.


ada perasaan ragu yang perlahan menyesap dalam benaknya.


Mungkinkah jika ia menyerah dan mengakhiri hubungannya, itu akan membuat Hilya kembali bahagia.


namun disisi lain Mario ingin tetap berada disisi Hilya, naluri cintanya ingin bertahan dengan berjuang meraih maaf.


.


.


.


Staf dokter baru saja selasai memeriksa kondisi Hilya saat Mario masuk.


"Semua sudah kembali normal Pak anak dalam kandungan istri anda benar-benar sangat tangguh, dia mampu bertahan dalam kondisi menghkawatirkan, bahkan kami ragu saat mengetahui kondisi istri anda. Tapi seperti yang anda lihat sekarang, istri anda dan bayinya pulih dengan cepat. Ini suatu pertolongan dari Alloh." ucap sang dokter menjelaskan.


"Terimakasih Dok." Mario membungkuk begitupun sang dokter.


"Saya permisi." pamit Dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.


Mario menatap Hilya lalu menarik nafas pelan dan berjalan menghampiri.


namun Hilya tak sekalipun menoleh padanya ia membuang wajah kearah lain.


"Aku akan pergi."


Hilya tak merespon ucapan Mario.


Mario kembali menarik nafas panjang serta memejamkan mata, ia mengumpulkan tekad dan berharap keputusannya mampu mengembalikan kebahagian wanita yang ia cintai.


"Aku akan pergi, menjauh darimu seperti yang kamu harapkan. tapi aku minta satu hal padamu. izinkan aku melakukan tugasku sebagai seorang Ayah hingga anak itu lahir. setelah kelahirannya maka aku akan menghilang dari hadapanmu. jadi mari bersama sama menjaganya."


"Pergi saja, aku tidak butuh bantuanmu untuk menjaga bayi dalam kandunganku, lagipula sudah ada Alloh yang menjaganya." Hilya bicara tanpa menoleh pada Mario.


Wajah pucatnya lebih tertarik pada pemandangan diluar gedung yang ia lihat dari balik jendela kaca.


"Setidaknya dengan begitu akan menepis gosip yang saat ini beredar diluar." Mario kembali melanjutkan kalimatnya.


"cobalah mengerti posisi Umi dan nama besar almarhum Abi. kamu satu-satunya harapan yang mereka percayai akan meneruskan mengurus pesantren. tidakkah kamu memikirkan perasaan Umi?"


Hilya terdiam, dengan ucapan Mario.

__ADS_1


"Aku akan meninggalkanmu, tanpa merusak nama baikmu dan keluargamu. hanya itu permintaanku."


Mario pergi meninggalkan ruangan itu dengan Hilya yang masih terdiam memikirkan perkataan Mario.


Ucapan Mario tentang pesantren dan nama besar keluarga yang sudah terjaga baik sejak turun temurun membuat Hilya menimang tawaran Mario.


* * *


Mobil Mario memasuki area pesantren dengan Hilya dan Umi didalamnya.


Setelah beberapa hari menjalani perawatan kini Hilya sudah dapat kembali ke rumah.


Mario membukakan pintu untuk Hilya sementara Anju membantu mengeluarkan koper pakaiannya.


"Tuan sepertinya kursi rodanya tertinggal di rumah sakit."


"Apa kamu tidak memasukannya?"


"Maaf Tuan."


"Padahal Dokter sudah berpesan melarangmu untuk berjalan jauh." sambung Umi.


Jarang dari pelataran pesantren menuju rumah memang cukup lumayan untuk ukuran tubuh yang ringkih seperti Hilya.


"Ayo Umi akan menggendongmu." Umi memasang punggungnya didepan Hilya.


"Punggung Umi akan sakit." tolak Hilya.


"Aku akan berjalan pelan saja Mi."


"Tidak nak, Umi tidak ingin cucu Umi kelelahan. ayo Umi gendong hingga kedalam."


"Tidak Umi." tolak Hilya.


"Tuan apa tidak sebaiknya anda yang menggendong Nona?" ucapan Anju membuat Hilya dan Mario sama-sama menatapnya.


"Tidak," jawab Umi.


"Tidak perlu, Umi tidak ingin membuat Menantu Umi kelelahan Hilya cukup berat loh. Sini ayo naik ke punggung Umi."


Hilya menatap punggung rentan Umi datar.


"Mas, tolong antarkan aku." pinta Hilya pada Mario, hingga membuat Mario mematung.


Anju menendang kecil sepatu Mario, agar Menyadarkannya.


"Mario, ayo gendong Hilya." peeintah Umi dengan semangat diiringi tarikan pada lengan Mario, agar ia segera menggendong Hilya.


Mario meraih tubuh mungil yang terlihat kurus itu mengangkatnya hingga Hilya terpaksa mengalungkan tangan pada leher Mario.


Perasaan Mario masih sama seperti saat pertama kali bertemu.


jantungnya berdetak kencang hingga Hilya dapat mendengarnya.


Hilya menatapi wajah Mario yang datar lurus menatap kedepan.


'Jika pertemuan itu tidak menyakitkan apakah kamu akan mencintaiku?' batin Mario dengan terus menapaki jalanan berpaving.


'Jika aku tidak menyakitimu, apakah aku akan menerima cintamu?'


* * *


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2