Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Aku Apa?


__ADS_3

yok votenya yok.


terima kasih untuk kebersamaan kalian sampai sejauh ini.


Aku bersyukur karena kalian selalu sabar menungguku.


terima kasih, lopelope semua.


πŸ‚,πŸ‚,πŸ‚


"Pokoknya kakak harus jauhi wanita itu." pinta Pelangi disela-sela olesan selai pada rotinya


Ibu menghela nafas berat mendengar Pelangi yang selalu saja meminta Mario untuk menjauhi Hilya.


Ibu duduk setelah meletakan secangkir teh untuk Mario.


Meja makan itu selalu ramai saat sarapan saja, karena pada jam inilah anggota keluarga berkumpul, hanya Ayah Dimas yang tidak nampak karena beliau sudah berada di jerman untuk mengurus bisnis baru bersama Ayah Bima dan Kakek Bisma.


"Dia itu kurang baik buat kakak, aku gak suka." Wanita hamil itu selalu saja tak henti berbicara meskipun mulutnya penuh dengan roti isi, kini ia menengguk susu dari tangan Kenzo hingga isi gelasnya kosong.


Kenzo mengusab ujung kepala Pelangi dan meletakan gelas kosong di atas meja.


"Ingat kamu itu sedang hamil, tak baik terus membicarakan keburukan orang lain." Ibu tak bosan mengingatkan Pelangi, meskipun ia tak setuju dengan cara Pelangi yang selalu menjelek-jelekan Hilya namun Ibu pun tak menampik ucapan Pelangi.


Ibu mana yang senang ketika putra semata wayangnya justru tak nampak bahagia dalam pernikahannya.


"Iya, aku cuma nolongin dia aja setelah itu mengantarkan pulang dan tidak ada hal yang istimewa."


"Gue ragu Yo, lu itu beneran amnesia gak sih? Keliatannya elu baik-baik aja Yo." protes Kenzo.


"Aneh banget gak sih, lu bisa waras setelah kecelakaan, harusnya elu itu gila, atau setidaknya jadi bego."


"Lu nyumpahin gue?"


"Sedikit."


"Om, oom lupa beberapa bulan lalu dia sempet bego?"


"Iya bentar banget ya begonya."


"Kalian, suami istri selalu saja konyol. Anak udah mau dua loh tapi kelakuan masih saja gak berubah." protes Ibu dengan menggeleng kepala.


"Tante belain dia?" kini Pelangi yang protes.


"Ada baiknya Safira masih di solo, melihat tingkah kalian seperti ini tante ragu dia kuat deket kalian."


Mario terkekeh mendengar penuturan Ibu.


Sedang Pelangi mengerucutkan bibir.


"He'em!" Ibu bersuara ketika tahu Kenzo hendak ******* bibir runcing istrinya. Hingga niatnya itu ia urungkan.


Kini berganti Pelangi yang terkekeh kecil.


* * *


Suasana kantor cukup normal seperti biasa, yang berbeda hanyalah seketaris baru Kenzo, karena Yuni sudah tidak bekerja lagi kini posisi itu digantikan seseorang kariawan baru.


Sudah satu minggu ia bekerja melayani Kenzo, tidak ada masalah semua berjalan normal dengan rutinitas kesibukan.


Ada baiknya memiliki seketaris laki-laki karena bisa diandalkan terkadang ia juga menjadi sopir untuk Kenzo.


"Ini kopi anda Pak." Hilya meletakan secangkir kopi untuk Kenzo.


Kenzo tak merespon ia sibuk dengan map yang menumpuk di atas meja.


Hilya tahu, saat ini Kenzo belum menyadari keberadaannya sebagai OB di prusahaan. Rasa khawatir saat ia ketahuan dan di pecat membuat Hilya berusaha menyembunyikan wajahnya, satu-satunya niatnya menerima tawaran OB adalah Mario.


Ia ingin memastikan Mario baik-baik saja.


Apakah benar hanya itu alasannya?

__ADS_1


Pertanyaan itu sering menggelayut dalam benak Hilya tanpa ada jawabpan.


Hilya sudah pergi dari ruangan Kenzo sekitar 10 menit lalu.


Kenzo menyeruput kopi yang sudah mulai dingin.


Namun ia lantas meletakan dengan kasar cangkir kopi itu.


Rasanya berbeda dari biasanya.


Kenzo selalu saja rewel jika mengenai kopi, hanya Pelangi satu-satunya orang yang memiliki racikan pas di lidah Kenzo.


Namun sejak setahun yang lalu Pelangi sudah tidak sering berkunjung ke kantor untuk sekedar membuatkan kopi, dengan beberapa pertimbangan Pelangi mengajari seorang OB tentang racikan kopi untuk Kenzo, sejak saat itulah OB itu menjadi pelayan kopi kusus untuk Kenzo.


Tapi pagi ini OB itu digantikan oleh Hilya karena sang OB sudah cukup tua dan terlalu lelah untuk bekerja, akhirnya OB wanita itu pulang kampung.


Kenzo menghubungi pantri lewat sambungan telpon, supaya mendatangkan OB yang mengiriminya kopi.


Hilya berjalan dengan perasaan tak nyaman. Ini hari pertamanya bekerja ia tidak ingin dipecat begitu saja.


"Assalamualaikum," Hilya mendorong pintu kaca itu.


Kenzo berdiri saat mengetahui Hilya masuk dengan mengenakan seragam OB.


Hilya menunduk berjalan mendekati meja Kenzo.


Kenzo kembali duduk, ia berusaha tak lebay dalam menanggapi Hilya.


"Maaf pak, apa bapak memanggil saya?" tanya Hilya dengan suara pelan dan menunduk, Kenzo hampir tak mendengar suara lirih Hilya.


"Sejak kapan kamu berada di kantor saya?" tanya Kenzo dengan memeriksa file pada layar laptopnya.


"Baru hari ini Pak."


"Kemana Bu Wiji?" Kenzo bertanya tentang OB yang biasa membuatkannya kopi.


Namun Hilya hanya diam, ia tidak mengetahui permasalahan itu.


"Baik Pak." Hilya membungkuk sebelum pergi.


Kenzo menatapi kepergian Hilya mengerutkan kedua alis saat melihat Hilya berjalan dengan menarik narik kemeja OB yang berukuran hanya sampai pinggang.


Hilya pun harus mengenakan handsock karena kemeja OB berlengan pendek.


Rasa tidak nyaman karena Hilya tidak biasa dengan setelan seperti itu.


"Tuan memanggil saya?" ucap Pak Jono setelah menghadap Kenzo.


Pak Jono adalah kepala dibagian pantri, ia menjelaskan prihal Bu Wiji.


Dan kini Pak Jono sudah diperbolehkan pergi.


Setelah beberapa waktu lalu Antonio menjemput Pelangi, kini Pelangi sudah berada di pantri dengan Hilya yang berdiri berhadapan.


Hilya menunduk, ia tak berani mengangkat wajah untuk menatap Pelangi.


Karena terakhir kali bertemu Pelangi ia mendapatkan hardik dari mulut manis itu.


Sungguh tak diduga usia Pelangi yang terbilang muda namun dengan lantang mengatakan hal buruk kepada Hilya, untuk menjauhi Mario.


"Ikuti aku," pintanya dengan berjalan mendekati mesin pembuat kopi.


Pelangi mengajari Hilya tentang racikan kopi untuk Kenzo.


"Kamu faham?" tanyanya setelah itu.


Hilya mengangguk.


"Aku sebenarnya malas melihatmu disini, tapi apa boleh buat, jika sudah di kantor aku tidak berhak ikut campur, suamiku mengajari aku untuk membedakan urusan pribadi dan pekerjaan dan aku ingin kamu bisa pintar untuk memisahkan hal itu."


Hilya mengangguk.

__ADS_1


"Insya Alloh Mbak."


"Panggil aku Nona! aku bos mu disini."


"Baik Nona, maaf."


"Ya sudah. aku pulang dulu."


Hilya membungkuk hormat saat Pelangi akan pergi.


"Hilya buatkan kopi untuk Pak Mario." suara dari Pak Jono terdengar dari arah pintu pantri.


"Aku? Taβ€”tapi,"


"Racikan kopi mereka sama, lagi pula kamu kan mantan istrinya pasti tahu seleranya."


Bukan hanya Hilya yang terkejut tapi para kariawan yang disana ikut terkejut, karena tak banyak dari mereka yang tahu tentang hal itu.


Hilya menunduk ia segera membuatkan kopi untuk Mario seperti racikan milik Kenzo.


Hilya menghela nafas panjang, banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Mario, sedangkan Mario selalu saja tahu apa yang ia sukai dan memberikan apa yang ia butuhkan.


Hilya mengaduk cangkir kopinya.


"Mbak, tolong antarkan pada Pak Mario ya." pintanya pada salah seorang OB yang ia ketahui bernama Rindu.


"Siapa lu berani merintah gue? Lu gak liat gue lagi sibuk" Rindu menunjukan ponselnya, memang sedari pagi Rindu bersikap buruk padanya, dia memerintah Hilya mengerjakan pekerjaan yang seharusnya bukan pekerjaan Hilya sedangkan dia hanya sibuk dengan ponsel.


"Mantan istri doang belagu." Rindu menarik sudut bibir atasnya.


ia menertawai nasib Hilya.


Hilya melangkah memutuskan untuk mengantarkan kopi pada ruangan Mario.


cepat atau lambat Mario pasti akan tahu jika dia bekerja di kantornya.


Hilya mengetuk pintu ruangan Mario dia pun mengucab salam tapi tidak ada jawabpan dari sang penghuni.


"Bukankah para bos di novel dan drama selalu malas untuk menjawab salam dari bawahannya." gumam Hilya lantas ia mendorong pintu kaca itu.


"Astafirloh!" lirih Hilya ia segera berbalik badan karena Mario saat ini sedang telanjang dada.


Mario mengancingkan kemejanya, pandangannya menyusuru sosok wanita yang kini tengah membelakanginya.


Mario memperhatikan dari kaki hingga kepala yang terbungkus hijab pasmina berwarna hitam.


Lekuk tubuh Hilya dapat ia lihat karena setelan kemeja OB memang begitu, dengan celana dasar dan kemeja yang hanya sebatas pinggang.


Hilya berusaha mengatur nafasnya yang selalu saja sesak saat berdekatan dengan Mario.


Hingga ia tak sadar bahwa Mario sudah berada tepat di belakangnya.


"Kopiku." pinta Mario


Hilya tersentak, karena Mario berbicara sangat dekat dari telinganya.


Hilya berbalik, karena jarak yang dekat membuat baki yang Hilya bawa terbentur dengan perut Mario.


"Auh, panas."


"Astafirloh!" pekik Hilya saat kopi panas itu tumpah mengenai perut Mario.


Hilya meletakan baki pada meja tempat biasa Mario menerima tamu.


Dengan panik Hilya mengusab baju basah Mario menggunakan ujung pasmina yang ia kenakan.


"Maaf, aku tidak sengaja." Hilya sangat panik sedang Mario tak bergeming menatapi Hilya yang membungkuk mengusab usab perutnya yang basah dengan ujung hijabnya.


* * *


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2