Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Luka Yang Tak Berdarah


__ADS_3

"Hilya." ucap Mario dengan memegang kedua bahu Hilya yang sedang terduduk dengan menyembunyikan wajah pada kedua lututnya.


Mendengar suara yang femiliar baginya, segera Hilya menengadahkan wajah.


tanpa ia sadari ia berhambur pada pelukan Mario lalu menangis meraung ketakutan.


"Tenangkan dirimu." ucap Mario.


dengan mengusab pelan punggung Hilya, namun pandangannya memperhatikan Gibran yang kewalahan menghadapi 5 orang sekaligus.


"Tetap diam disini. aku akan kembali." Mario melepas pelukan Hilya lalu meninggalkannya.


Bug.. ..


Gibran terjatuh akibat tendangan pada dadanya.


saat itu juga Mario membantu Gibran berdiri dengan mengulurkan tangannya.


setelah itu mereka saling memandang dan mengangguk.


Mario menghajar para preman itu keahlian bela diri yang ia dapatkan dari Kenzo sudah tidak diragukan lagi.


Mario memelintir tangan lawan, kemudian menjatuhkannya hingga wajah sang preman tersungkur menyium aspal.


Bugghhh...


Karena lalai, sebuah kepalan kuat berhasil mendarat pada wajah tampan Mario, beruntung Mario dapat menghindari pukulan berikutnya.


Satu demi satu preman tersebut berhasil di taklukan oleh Mario dan Gibran. Jika dilihat-lihat, mereka seperti sebuah tim karena saling bahu membahu menghajar musuh.


Para preman terkapar di jalanan dengan luka lebab yang membuat mereka tak mampu bangkit.


namun detik berikutnya Gibran merasa pusing matanya berkunang-kunang.


ia memegang bagian sisi perut barulah ia menyadari bahwa ia telah terluka.


Gibran mengangkat tangan dari luka menpaklah darah memenuhi telapak tangannya.


ia menatapi darah yang berada di telapak tangannya ia tertegun begitu juga dengan Mario yang sama halnya terkejut.


mendadak Gibran kehilangan sebagian tenaga


pandangannya mulai gelap dan ia terjatuh.


"Sial!!!" pekik Mario.


"bangunlah, ayo tetep sadar." Mario menepuk nepuk pelan pipi lebam Gibran.


dengan sisah sisah tenaga dan kaki yang lemah Hilya berlari menghampiri lalu bersimpuh disamping tubuh Gibran yang sudah terkapar tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Bangun Gibran bangun...! ayo bangun aku mohon..." pinta Hilya dengan suaranya yang bergetar takut. ia terus menggoyangkan lengan Gibran, berharap Gibran dapat mendengarkan permintaannya.


* * *


Hilya bersama Mario berlari mengikuti suster yang mendorong blangkar tempat Gibran terbaring tak sadarkan diri.


airmatanya sudah kering namun raut cemas dan takut masih bertanggar di wajahnya.


"Kalian tunggu saja disini." pinta suster saat sudah memasuki ruang Gawat Darurat.


suster itu menutup pintu.


Seketika itu juga Hilya menjadi lemah ia hampir saja terjatuh jika saja Mario tidak menyanggah tubuhnya.


Mario mendudukan tubuh lemah Hilya pada kursi tunggu yang tersedia.


"Tunggu disini aku akan mencari minum." pesan Mario kepada Hilya lantas Mario meninggalkan Hilya yang sedang termenung sungguh ia sangat syok dengan semua yang ia alami hingga ia tidak menyadari dengan situasi sekitar.


Jika kondisi normal ia akan segera menjauh dari pria yang mendekatinya, namun kali ini pikirannya sungguh kacau bahkan tatapan matanya nampak kosong.


ia seperti orang yang linglung karena sangat syok.


"Minum dulu." pinta Mario seraya menyerahkan sebotol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.


tanpa berkata Hilya lantas meraih botol mineral itu dan menengguknya.


Mario sedang mencoba menguasai dirinya sendiri agar pikirannya teralihkan.


karena jujur ia sangat menyukai saat Hilya memeluk erat dirinya.


"Suster." panggil Mario pada suster yang kebetulan melewati mereka.


"Iya pak ada apa?" tanya sang Suster.


"Tolong priksa teman saya, apakah dia terluka." pinta Mario, hingga membuat Hilya menatapnya.


"Baik pak." ucap sang Suster.


"mari Nona ikut dengan saya." ajak Suster wanita itu seraya menopang tubuh lemah Hilya.


Mario menatpi kepergian Hilya.


"Dia sangat syok." gumam Mario ia teringat kembali saat Hilya ketakutan karena melihatnya berbuat kasar pada wanita.


"hatinya sangat lemah namun dia selalu berlaga kuat. dia sangat unik. aku ragu bisakah aku melepaskan wanita seperti dia."


"Pemirsi pak, apakah anda wali dari pasien di dalam?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan tempat Gibran ditangani.


"Iya dok, bagaimana dengan kondisinya?" jawab Mario dengan berbalik bertanya.

__ADS_1


"Dia sudah selesai kami tangani, luka sobek pada perutnya cukup dalam hingga kami terpaksa menjahit beberapa jahitan. dia masih dalam pengaruh obat. kami akan memindahkannya pada ruangan perawatan."


"Baik Dok, terima kasih." ucap Mario sopan.


"Saya permisi pak." pamit sang dokter dan mereka saling membungkuk hormat.


.


.


.


Hilya sedang tertidur dengan duduk di bangku samping blangkar Gibran, saat Mario memasuki ruangan tempat Gibran dirawat.


Gibran mencoba bangun untuk duduk namun Mario isarat tangan agar Gibran diam, ia tidak mau pergerakan Gibran membuat Hilya terbangun.


"Gue bukan tipe orang yang akan berbasa basi." Mario dan Gibran saling menatap.


"lain kali jika elu nempatin Hilya dalam bahaya maka saat itu juga gue akan menghabisi elu." ancam Mario pada Gibran, namun Gibran hanya terdiam tidak ada raut takut pada wajahnya.


Hilya terbangun, mungkin memang ia tidak benar-benar tertidur.


Hilya berdiri dengan menatap intens pada Mario.


"Jika sedikit saja kamu menyentuhnya maka aku yang akan menghabisimu." suara Hilya terdengar sangat serius raut wajahnya sudah segar kembali.


"Ck. lihatlah kamu masih saja bersikap bodoh. jika bukan karena aku mungkin saja hal buruk akan menimpahmu."


"Aku tidak pernah meminta bantuanmu. bukankah sudah ku katakan untuk tidak lagi menggangguku. aku sangat membencimu harus bagaimana lagi aku katakan agar kamu mengerti bahasaku!" Hilya mulai tersulut emosi.


Mario terdiam ia menatap wajah manis gadis pujuaannya yang terasa sangat berbeda, wajah lembut itu tengah menampakan kemarahan dan mengutarakan rasa bencinya.


Mario terdiam terpaku dengan wajah datarnya.


sementara Hilya tetap menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Apa kamu bodoh, apa kamu tidak mengerti bahasa manusia, kenapa kamu masih saja mengikutiku! aku membencimu, tidak kah kamu mengerti!" mata Hilya berkaca suaranya bergetar.


"Pergi!" seru Hilya kemudian seraya berpaling muka.


"jangan pernah menggangguku, aku ingin hidup tenang tanpa kehadiranmu."


Mario berpaling menarik nafas panjang, seolah menguatkan diri agar mampu berdiri tegap meskipun dengan hati dan perasaan yang kecewa.


Suara lembut Hilya terasa sangat menusuk meskipun ia sudah menyiapkan hati untuk sebuah penolakan namun entah mengapa rasanya masih saja menyakitkan.


* * *


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2