Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Pantaskan dirimu.


__ADS_3

Sebelum baca aku minta like, vote dan tip dong.


buat yang udah ngasih makasi banyak semoga dukungan kalian tidak sia-sia.


* * *


Tresno jalaran seko kulino. butuh waktu untuk menyembuhkan luka.


namun bagi seorang Hilya Humairah perumpaman kata apapun tidak akan membuatnya membuka lembar baru, melupakan tragedi besar yang menimpahnya.


Hilya menyibakan selimut karena kumandang adzan subuh sudah terdengar, dengan langkah lemahnya Hilya menuju kamar mandi.


Semakin hari ia semakin merasa tak bertenaga, bagaimana tidak bahkan sejak beberapa hari lalu ia sama sekali belum makan nasi,


baru mencium aroma nasi saja Hilya sudah mual-mual.


pagi ini juga sama dengan pagi sebelumnya, selalu mengawali pagi dengan rasa mual.


ia pun harus cuti mengajar di pesantren karena kondisi fisiknya memang tidak bisa dipaksakan.


Hilya cenderung berdiam diri di dalam kamar, ia akan keluar kamar hanya saat Umi memintanya itupun akan tidak bertahan lama, ia lebih menyukai kasurnya yang empuk.


Prang...


Hilya menjatuhkan gelas dari nakas, karena ia berjalan terburu-buru tanpa ia sadari tangannya menyenggol gelas.


rasa mual membuatnya ingin segera ke kamar mandi.


"Hilya..." Umi membuka pintu kamar namun tidak menjumpai putri tunggalnya itu.


Umi dan Mario masuk semakin dalam, dan menjumpai pecahan gelas berserakan di ubin.


"Tunggu disini Umi akan mengambil sapu."


"Tidak Umi, biarkan aku saja. Umi tetap disini." pinta Mario.


Mario merasa tidak nyaman jika ia tetap tinggal sendiri di kamar Hilya.


Ia bingung harus bicara apa ketika sang pemilik menjumpainya disini, itulah sebabnya ia memilih pergi.


Umi mengetuk pintu kamar mandi, setelah kepergian Mario.


"Umi, ada apa?" tanya Hilya, karena tak biasa Uminya mengetuk pintu kamar mandi, ketika seseorang berada di dalamnya.


Umi selalu bilang cara terbaik melatih kesabaran ialah dengan menunggu seseorang keluar dari kamar mandi, sedangkan kondisimu sangat terdesak ingin segera menuntaskan hajat.


"Umi mendengar suara pecahan, apa kamu terluka lagi Nduk?" tanya Umi dengan menyelisik lengan serta telapak tangan Hilya.


Terdapat balutan perban yang masih menempel pada telapak tangannya akibat luka yang ia dapatkan beberapa hari lalu.


"Tidak Umi, Hilya tidak terluka, karena terburu buru Hilya tanpa sengaja menyenggol gelas."


"Apa kamu masih saja mual ketika bangun tidur?"


Hilya mengangguk dengan menatap Umi.

__ADS_1


"Nduk, ayo kita ke dokter. kamu akan mendapat perawatan dari dokter kandungan agar kamu sehat bayimu juga kuat."


"Untuk apa Mi?"


Umi menarik nafas beratnya, pasalnya bukan hanya kali ini Hilya menolak untuk memeriksakan kandungannya.


"Untuk bayi dalam kandunganmu. untuk kesehatanmu dan calon anakmu Nduk."


Mario menghentikan derap langkahnya ia memilih berdiam diri di balik tembok dengan pintu terbuka sedikit.


"Aku tidak mengharapkan kehadiran bayi ini Mi, bayi ini hasil perbuatan zina. biarkan saja dia berjuang sendiri dengan takdirnya."


"Astafirloh... Istifar Nduk, mau sampai kapan kamu bersikap egois seperti ini, kamu seorang mahasiswa dari perguruan tinggi kamu wanita berpendidikan dan faham hukum agama tidak seharusnya kamu berkata seperti itu."


"Umi, bukankah setiap mahluk memiliki takdirnya sendiri, Hilya hanya mencoba menyerahkan takdir Hilya dan anak dalam kandungan Hilya pada sang pencibta."


"Kamu salah dalam mentafsirkan hukum itu Nduk."


"Tidak ada yang salah Umi, Hilya menerima takdir Hilya, dan kini Hilya menyerahkan takdir anak dalam kandungan Hilya pada zat yang mencibtakannya. dia akan berjuang untuk kehidupannya dia harus berjuang sendiri untuk menjadi kuat karena Hilya hanya menerima titipan hanya sebatas memberinya tempat untuk tumbuh."


"Astafirloh, Hilya kapan kamu akan mengalah dan menerima takdir Nak?"


"Umi waktu subuh sudah akan habis, tolong keluar sebentar agar Hilya tidak tertinggal sholat subuh."


"Umi menunggumu di dapur Nduk, Umi siapkan susu jahe kesukaanmu ya." Umi menangkup pipi basah Hilya karena air wudhu.


Hilya mengangguk menanggapi ucapan Umi.


Sebelum Umi keluar, Mario sudah lebih dulu pergi hingga Umi hanya menjumpai sapu beserta serokan sampahnya saja.


* * *


Umi meletakan secangkir kopi nampak kopi itu masih mengeluarkan asap panasnya.


Umi menunggu Mario, sudah beberapa hari sejak Mario tinggal bersama mereka. namun tak sekalipun Umi melihat Mario memakan masakannya, bahkan Mario selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali saat Umi sedang sibuk di dapur. maka kini Umi sengaja menunggunya keluar dari kamarnya.


"Mario." panggil Umi saat Mario nampak berjalan melewatinya.


"Umi." Mario mendekat.


"Maaf Umi, Mario tidak melihat Umi disini."


Mario menarik kursi kosong untuk ia duduki setelah Umi nampak serius menatapnya.


Umi mendorong secangkir kopi kehadapan Mario.


"Umi mendengar dari Anju jika kamu sangat menyukai kopi hitam."


Mario tersenyum dan mengangguk.


"Minumlah dulu," pinta Umi seraya tersenyum lembut.


Kini Mario mengerti mengapa tutur kata dan senyuman Hilya terasa sangat lembut.


Mario tersenyum takala mengingat senyuman Hilya.

__ADS_1


"Apa seenak itu hingga membuatmu tersenyum begitu?"


"Mario hanya teringat Hilya, rupanya ia sangat mirip dengan Umi."


"Benar, banyak yang bilang begitu."


Mario mengangguk setuju lalu menyeruput kopinya lagi.


"Mario." suara Umi terdengar sangat serius.


Mario meletakan cangkir kopinya kini ia siap untuk mendengarkan Umi.


Ada desiran takut dan gelisah yang Mario rasakan, ia takut orang tua tunggal dari istrinya ini meminta untuk meninggalkan anaknya.


karena pembicaraan Hilya yang ia dengar sangat mengganggu fikirannya.


"Hilya sedang berputus asa dari rahmat Alloh." Umi menatap manik Mario dengan mata berkaca.


Sungguh ucapan Umi membuat suara Mario tercekat.


rasa bersalah dan penyesalan tidak ada artinya lagi.


"Bawa Hilya pergi nak,"


"Maksud Umi?"


"Bawa Hilya keluar dari rumah dan pesantren ini. dengan begitu mungkin akan mengurangi rasa sedihnya."


Umi menyentuh telapak tangan Mario.


"Berusahalah mendekatkan diri pada Hilya nak."


"Mario sudah tidak pantas untuk itu Umi."


"Pantaskan dirimu." Umi menatap serius wajah Mario yang nampak ragu.


"pantaskan dirimu nak, yakinlah setiap manusia memiliki takdirnya masing-masing, begitupun dengan takdirmu dan Hilya. Alloh selalu memiliki rencana pada setiap cobaan. dan Alloh selalu menakarnya."


.


.


.


Mario mengetuk pintu kamar Hilya ia pun mengucap salam, Hilya membuka pintu kamarnya setelah salam ketiga dari Mario.


Hilya menatap sengit pada Mario matanya nampak memerah dan berkaca.


kebencian dan kemarahan sangat terlihat disana.


membuat Mario merasakan nyeri pada hatinya, perasaannya tercabik mendapatkan tatapan kebencian dari orang orang yang ia cintai.


sekali lagi Mario akan mengambil keputusan besar yang mungkin akan membuat kemarahan Hilya memuncak.


* * *

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2