
Detak jantung yang memburu serta tubuh tremor membuat Hilya berat menggerakan kakinya untuk melangkah masuk melakukan wawancara perihal pekerjaan.
Pada akhirnya ia harus memasuki ruangan itu, duduk pada kursi tunggal yang menghadap meja panjang tempat para direktur yang akan memberinya beberapa pertanyaan.
Wajah tegang itu mendadak berubah kecewa saat yang ia cari tak nampak olehnya.
Nama Mario sastriaji memang terpampang jelas pada sebuah papan kecil yang terletak pada meja itu namun hanya namanya saja sementara Anju lah yang duduk disana.
'Ya seharusnya aku memikirkan hal ini, mana mungkin direktur besar turut menyeleksi calon bawahan sudah pasti ada tempatnya masing-masing untuk hal seperti itu.' Hilya menarik nafas dan siap menerima beberapa pertanyaan dari mereka.
Para petinggi prusahaan yang berjumbla 4 orang dengan setelan jas, ini kali pertama Hilya merasa grogi dan ragu pada kemampuannya sendiri.
Setelah menjawab pertanyaan dari mereka Hilya berdiri membungkuk sebelum ia meninggalkan ruangan, Anju menatapi kepergian Hilya.
"Aku ingin sekali menemuinya paling tidak melihat dirinya saja aku sudah merasa lega." gumam Hilya dengan berjalan menyusuri koridor yang nampak sepi itu.
Hilya putuskan untuk menunggu Anju, ia berbalik arah, kembali pada ruangan tempat ia keluar beberapa detik lalu, Hilya berdiri di depan pintu menunggu Anju disana.
Paling tidak ia dapat mendengar kabar Mario dari asistennya yang entah masihkah Anju menjadi asisten pribadi Mario.
"Assalamualaikum, Mas Anju." sapa Hilya saat sosok yang ia tunggu sejak 2 jam lalu keluar dari ruangan itu.
"Waalaikumsalam, Nona." Anju membungkuk hormat, ia masih menghormati Hilya sebagai istri Tuannya.
"saya sudah menunggu lama untuk kedatangan anda Nona."
Hilya mengerutkan kedua alis. "Tidakkah kamu bisa mendatangiku di pesantren, mengapa harus aku yang mendatangimu?"
"Ada beberapa alasan yang membuatku tidak bisa mendatangi anda Nona."
"Baiklah, aku mengerti."
"Apa anda kemari untuk mencari pekerjaan?" tanya Anju kemudian.
"Soal itu, aku sebenarnya." Hilya nampak ragu untuk bicara.
Ia menarik nafas dalam-dalam.
"Aku ingin bertemu Mas Mario. Apa kamu kamu bisa membantuku?"
Hilya menundukan pandangan, setelah beberapa detik ia menatap raut Anju guna memastikan reaksi pria di depannya ini, namun ia tak dapat mengartikan wajah yang masih saja menatapnya dengan tatapan datar tak berekprsi.
"Aku mohon, aku perlu membicarakan sesuatu pada Mas Mario."
"Nona, maafkan aku tapi sepertinya anda tidak bisa menemui Tuan."
"Kenapa? Aku berjanji akan pergi setelah meminta maaf padanya. tidak. paling tidak ijinkan aku hanya melihatnya saja."
__ADS_1
"Nona, saat ini Tuan Mario tidak bisa ditemui, aku akan menghubungi anda lagi setelah Tuan bersedia bertemu dengan anda."
Anju membungkuk hormat sebelum ia berjalan meninggalkan Hilya.
Hilya tak puas mendapat jawabpan seperti itu, ia terus saja bicara dan mengekori Anju dengan langka yang terburu guna menyamai langka lebar Anju.
Pintu lif terbuka, Anju masuk ke dalamnya diikuti Hilya.
"Aku mohon. Paling tidak katakan sesuatu tentangnya, bagaimana keadaannya sekarang?"
Anju menoleh menatap wajah manis yang ia ketahui masih istri Tuannya.
Anju menarik nafas beratnya.
"Nona, apakah Nona mencintai Tuan?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Hilya membisu.
"Jika begitu, aku tidak bisa mempertemukan anda dengan Tuan."
"Mengapa? Aku hanya ingin meminta maaf dan melihat keadaannya saja."
"Jika itu niat anda, aku akan menyampaikannya pada Tuan. Untuk kabar Tuan saat ini dalam keadaan baik-baik saja, saya rasa itu cukup untuk menjawab pertanyaan anda." Anju membungkuk karena pintu lif sudah terbuka, ia melangkah keluar meninggalkan Hilya yang masih mematung di tempatnya.
"Ada apa dengan mereka, kenapa sulit sekali menemui suamiku sendiri?" gumam Hilya dengan menghela nafas kecewa.
Hilya tertegun dengan sosok pria yang kini sudah berdiri di depannya.
Dengan mengenakan setelan jas berwarna putih sosok itu terlihat semakin tampan.
Mario berdiri tegap ia tidak peduli dengan wanita di belakangnya.
Hingga pada saat pintu lif terbuka dan Mario keluar dari sana Hilya masih saja bergeming menatapi kepergian Mario.
Sebelum pintu itu benar-benar tertutup Hilya segera keluar ia mengikuti Mario hingga ke basment.
Menyadari bahwa Mario sudah akan pergi dengan mobil merah suv sport miliknya, Hilya berlari mendahului mobil hingga mobil yang melaju itu mengerem mendadak.
Aksinya cukup klasik, banyak terjadi di drama-drama indonesia, Hilya sendiri tidak menyangka bahwa dirinya menggunakan cara klasik yang sempat ia cibir saat tanpa sengaja melihat adegan itu di sinetron, Hilya berharap semoga ia tidak berakhir mati seperti dalam adegan yang ia tonton.
"Maaf, aku—"
"Kamu ingin Mati! Hah?" suara Mario yang naik satu oktaf dari kata normal menggema di area basment.
Hilya memegangi dadanya yang bergemuruh, ia tak menyangka perbuatannya akan membuat suaminya semarah ini.
Hilya menundukan pandangan ia tak memiliki nyali untuk menatap wajah Mario.
__ADS_1
Mario melangkah hanya butuh 2 langkah kecil hingga membuat dirinya sangat dekat dengan Hilya.
Darah dalam tubuh Hilya seolah mengalir berpusat pada ubun-ubunnya.
Telapak kaki dan tangan terasa dingin, deru nafas tersenggal.
Hilya tak menyangka pertemuannya dengan pria yang masih bersetatus suaminya ini akan terasa menegangkan seperti ini.
Mario menyentuh kedua pundak Hilya, hingga membuat Hilya menegakan pandangan menatap wajah pria yang tingginya melebihi dirinya.
Menelan saliva berat saat netra mereka beradu.
"Minggir." ucap Mario seraya menggeser kedua pundak Hilya.
Tubuh Hilya mengikuti arahan Mario ia melangkah beberapa senti meter dari depan mobil.
Setelah berhasil menyingkirkan Hilya, Mario kembali masuk kedalam mobil. Ia kenakan seatbelnya. Melirik sepion sebelum benar-benar pergi.
"Kakiku." gumam Hilya lirih. ia jatuh terduduk lalu melepas sneaker abu-abu yang ia kenakan.
Terdapat kemerahan pada mata kakinya, sepertinya saat menjatuhkan diri tadi tanpa sengaja ia membuat luka pada mata kakinya.
Mario memperhatikan dari sepion samping mobil.
Menghela nafas jengah lalu membuka seatbel.
derap langkah yang Hilya sadari berasal dari arah mobil Mario membuat debaran jantungnya semakin tak terkontrol.
ini diluar dugaannya, ia tak menduga bahwa reaksi tubuhnya sangat kuat disaat bertemu Mario.
Mario berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai basment.
Hilya semakin sulit mengatur pernafasannya.
"Ini memar, apa kamu tidak bisa berhati-hati saat berjalan?" ucap Mario dengan memegang telapak kaki Hilya yang kaos kakinya sudah tergulung ke ujung jari-jari.
Mario menoleh ke arah kanan dan kiri berharap ada seseorang yang dapat ia mintai tolong.
"Kamu bisa berjalan? setidaknya sampai pada mobilku." ujar Mario, karena ia tidak menjumpai orang lain untuk dimintai pertolongan untuk membawa Hilya ke dokter.
Hilya tak bersuara ia hanya mengangguk saja.
* * *
Bersambung.
...sebelumnya aku minta maaf karena lama updatenya....
__ADS_1
setelah ini semoga aku bisa rajin up ya, setidaknya dua hari sekali untuk menyapa kalian.