Kiblat Cinta Sang Mualaf

Kiblat Cinta Sang Mualaf
Berikan Aku Jawabpan.


__ADS_3

"Ambil itu." suara Mario menyadarkan Hilya dari lamunan, Hilya melihat saleb yang Mario lemparkan, tergeletak di dekat kakinya.


Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan, khayalannya terlalu tinggi terhadap Mario.


Hilya mengangkat wajah melihat Mario yang berdiri di depannya.


"Aku banyak mendengar tentangmu." ucapan Mario kali ini semakin membuat Hilya sulit bernafas.


"aku tidak menyangka bertemu dengan mu akan semenyebalkan ini."


Hilya menunduk, ia tak berani lagi mengangkat wajahnya.


Hilya tak mengerti mengapa Mario bersikap seolah sangat membencinya.


"Obati kakimu dengan itu, aku memberikannya hanya karena rasa manusiawi, aku harap kamu tidak salah mengartikannya."


Mario lantas meninggalkan Hilya disana.


Perlahan mobil itu menjauh hingga benar-benar menghilang dari pandangan Hilya.


"khayalanku sangat tinggi. Tapi bagaimana Mas Mario bisa mengatakan hal buruk padaku? aku sangat membencinya, mana boleh dia bersikap sekasar itu padaku." Hilya mengoleskan saleb pada kakinya yang memerah. Setelah itu ia kenakan kembali kaos kaki yang hanya sebatas mata kaki sebelum mengenakan sneakers.


Semakin dipikir Hilya semakin merasa kesal, ia belum menyiapkan dirinya untuk perlakuan kasar dari Mario.


Kecewa saat ini ia tengah merasakannya, terlebih dengan kenyataan yang berbeda dari khayalannya.


Selama ini ia selalu menerima hal baik dari Mario, hingga ketika hal baik itu berganti menjadi sesuatu yang menyebalkan rasanya lebih menyakitkan dari rasa sakit kakinya yang terkilir.


Hilya celingukan mencari arah jalan keluar tempat yang dipenuhi oleh kendaraan mobil itu mendadak terasa seram saat ia menyadari bahwa dia sendirian.


Hilya mencoba bangun meskipun kakinya masih terasa nyeri, ia berjalan dengan tertatih.


* * *


Meskipun kakinya terasa nyeri namun Hilya harus melajukan motornya. Ia mendesah dengan mengatur laju kendaraan. Saat ini perasaannya benar-benar buruk terlebih mengingat bagaimana saat wawancara yang ia lakukan beberapa menit lalu, ia tidak yakin akan mendapat pekerjaan di kantor itu.


Hilya berbelok, memasuki jalanan pemukiman ia berniat memotong jalan agar sampai lebih cepat.


Perhitungannya salah hingga mengakibatkan motornya oleng karena menghindari seekor anak ayam.


"Astafirloh!" pekik Hilya saat roda depan kendaraannya justru masuk paret.


"ya Alloh, bagaimana ini?" keluh Hilya karena kakinya tertindih motor yang ambruk.


"Auh sakit..." Hilya sudah memupuk air mata mengadu karena kakinya tertindih badan motor dan tak ada orang di sekitar pemukiman yang melintas.


Rumah-rumah berpagar di sekitarnya pun nampak tertutup jika ia berteriak pun mungkin tidak ada yang mendengar. Hilya putuskan untuk menarik kakinya dengan tangan yang mengangkat badan motor.


"Sedikit lagi..." keluhnya dengan suara tertahan.


Dengan usaha yang gigih ia menarik kakinya dari bawah badan motor.


"Kakiku..." lirih Hilya, dengan memegangi kakinya yang sakit.


"Apa yang harus aku lakukan?" Hilya berganti melihat pada roda motor yang nyungseb di selokan.


Hilya mengambil ponsel dari dalam ransel yang ia gendong.


Niatnya untuk menghubungi Umi ia urungkan, karena ia tidak ingin membuat Uminya merasa cemas, padahal luka yang ia derita tidak terlalu menghawatirkan.

__ADS_1


Hilya menarik layar ponsel melihat daftar kontak yang mungkin bisa membantunya.


ia tertegun dengan nama Ustad Azis.


"Haruskah aku menghubunginya? Tidakkah akan terasa canggung?" Hilya menimang ia beralih melihat kakinya yang sakit. Lalu berganti melihat motornya.


Dorongan tak berdaya dari keadaannya membuat Hilya memutuskan menghubungi Ustad Azis.


"Assalamualaikum Ustad," sapa Hilya saat sambungan terhubung, ia memberi jeda saat Ustad Azis menjawab salamnya.


"Ustad, bisakah Ustad membantuku, aku mengalami sedikit masalah."


Hilya bercerita sementara Ustad Azis diam mendengarkan.


Kafe tempat Ustad Azis berada saat ini nampak sepi pengunjung, hanya ada beberapa pengunjung saja.


Ustad Azis menutup sambungan telponnya, menatap Mario yang duduk disebrang kursinya.


"Apa?" tanya Mario karena tatapan Ustad Azis padanya seperti sedang menimang sesuatu.


"Bisa antarkan aku ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Tidak jauh hanya 15 menit dari sini."


"Kamu itu guruku atau tuanku? Setiap kali kita bertemu selalu saja menyuruhku!"


Ustad Azis hanya tersenyum mendengar celotehan Mario.


"Ayo." Ustad Azis berjalan mendahului Mario.


Dengan arahan yang diberikan Ustad Azis mobil Mario tiba di tempat Hilya.


Sementara Mario menatapi dari dalam mobil.


"Kamu terluka?" tanya Ustad Azis pada Hilya setelah ia membenarkan posisi motor yang nyungseb.


"Kakiku sangat sakit, tadi tertimpah motor." keluh Hilya dengan menahan nyeri pada kedua kakinya.


Ustad Azis tak berani menyentuh Hilya ia hanya berjongkok di depan Hilya dengan satu lutut bertumpuh jalan poros itu.


"Apa sangat sakit?" tanyanya lagi.


"iya, dan kaki kanan juga terkilir saat terjatuh di kantor."


"Kenapa kamu sering sekali terjatuh hah?" suara Mario meninggi. Kini ia tengah berdiri di belakang Ustad Azis.


"Merepotkan sekali!"


Ustad Azis berdiri ia mengulas senyum seraya menepuk pundak Mario.


"Aku akan mengantar motornya, kamu bisa membawanya ke rumah sakit kan?"


"Tidak, aku tidak bisa."


"Aku mengandalkanmu." Ustad Azis sudah menarik gas motor meninggalkan mereka.


"Ayo." Mario berjalan meninggalkan Hilya yang masih duduk di pinggir jalan.

__ADS_1


Namun baru dua langkah, Mario berhenti dan menghela nafas saat menyadari Hilya tak turut beranjak.


Mario bukan tidak tahu jika kaki Hilya terluka dan tidak bisa berjalan. Mario hanya malas berbuat lebih dari pertolongannya untuk mengantar ke dokter.


Hilya menatap raut wajah Mario yang juga tengah menatapnya.


detik berikutnya Hilya memutuskan untuk berusaha bangun.


Dengan sangat susah ia berhasil berdiri namun saat hendak melangkah kakinya sungguh tidak bisa menopang tubuhnya.


Hilya ambruk dan mengaduh.


Melihat hal itu Mario hanya menggeleng seraya menepuk jidatnya.


Mario berjalan mendekati Hilya.


"Aku akan membantumu, tapi jangan salah artikan bantuanku ini, aku hanya membantu dengan sesama manusia, kamu faham?"


Hilya mengangguk, lantas Mario berjongkok dan meraih tubuh mungil Hilya mengangkatnya dan mulai berjalan menyebrangi jalan.


Hilya tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah Mario, ia tertegun dengan mahluk cibtaan Alloh yang nampak begitu menawan.


Tanpa ia sadari mereka sudah tiba di sisi mobil, lamunan Hilya buyar ketika Mario menggoyangkan tubuhnya yang masih dalam gendongan.


"Ma—maaf." Hilya melihat arah lain guna menyembunyikan wajah malunya.


"Nanti saja minta maafnya, lenganku kebas. Cepat buka pintu mobilnya."


Sempat ngebleng dengan maksud Mario namun tak bertahan lama. Hilya menarik tuas pintu mobil dengan satu tangannya.


Setelah itu Mario mendudukan Hilya di dalam dan berjalan mengitari mobil untuk sampai pada posisi kemudi.


Mario sudah akan menghidupkan mobil namun Hilya tiba-tiba saja mendekati Mario, tubuh Mario menegang karena berada sangat dekat dengan Hilya yang saat ini tengah memasangkan seatbelt pada tubuh Mario.


Hilya kembali pada posisinya, lalu memakai seatbelt miliknya.


"Ma—maaf," ucap Hilya saat menyadari tatapan marah dari Mario.


"Aku tegaskan padamu, hanya karena aku membantu mu lantas jangan membuatmu besar kepala dan lancang mendekatiku."


"Tidak, aku hanya—"


"Aku cukup tahu seperti apa dirimu, dan bagaimana tentang masa lalu kita. Aku harap setelah ini tidak akan bertemu kembali denganmu."


Mario menarik pedal gas, melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


Tidak ada yang memulai pembicaraan, Hilya terdiam setelah Mario mengatakan hal buruk kepadanya.


Namun rasa janggal menggelayut dalam benak Hilya.


Pertanyaan tentang bagaimana kenangan dirinya dimata Mario.


Mengapa Mario seperti seolah mengingat masa lalu saat dengannya.


Apakah benar Mario tidak melupakan dirinya?


Jika memang begitu, haruskah ia senang? Ataukah ia harus bersedih?


Kenyataannya adalah saat ini Mario bukan seperti Mario yang ia kenal dulu.

__ADS_1


* * *


Bersambung.


__ADS_2